Zakat Fitrah dan Amil Pasca Regulasi Terbaru (2)

0
1253
zakat fitrah dan amil

KH. Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I.
Ketua PW LBM NU Jawa Timur
Pengasuh PP AL-FATICH Osowilangun Surabaya

Disampaikan dalam Kajian Ramadhan PWNU Jawa Timur
10 Ramadhan 1437 H/15 Juni 2016 M

C. Perbedaan Kepanitiaan Zakat dan LAZ, dan Amil Zakat Syar’i

beda_amil_panitia

D. Syarat Amil dan Tugasnya

Syarat-syarat bagi calon amil :

  1. Beragama Islam.
  2. Memiliki kecakapan berfikir (berakal).
  3. Telah sampai usia dewasa (baligh).
  4. Memiliki sifat adil (‘adalah)
  5. Mengerti persoalan hukum tentang zakat (faqih).
  6. Merdeka (bukan budak).
  7. Bertanggung jawab (Amanah)

Tugas-tugas amil mencakup banyak hal sesuai kebutuhan dalam pengurusan harta zakat, yaitu :

  1. Memungut zakat dari pewajib zakat (muzakki) oleh petugas bernama as-Sa’i.
  2. Menghimpun para pewajib zakat dan penerima zakat oleh petugas bernama al-Hasyir.
  3. Melakukan pendataan dan pelaporan tentang para penerima zakat dan pewajib zakat kepada petugas pemungut zakat oleh petugas bernama al-‘Arif.
  4. Mencatat harta zakat yang masuk dan yang didistribusikan kepada yang berhak oleh petugas bernama al-Katib.
  5. Membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya oleh petugas bernama al-Qasim.
  6. Menghitung nishab dan kadar zakat yang dibayarkan oleh petugas bernama al-Hasib.
  7. Menjaga keamanan harta zakat oleh petugas bernama al-Khazin.
  8. Menghitung hewan ternak zakat oleh petugas bernama al-‘Addad.
  9. Menakar harta zakat hasil panen oleh petugas bernama al-Kayyal.
  10. Menimbang harta zakat emas dan perak oleh petugas bernama al-Wazzan.
  11. Tugas-tugas lain yang mesti dibutuhkan dalam yang dibutuhkan dalam pengurusan zakat.

وَاتَّفَقُوْا عَلَى أَنْ يُشْتَرَطَ فِيْهِ كَوْنُهُ مُسْلِمًا حُرًّا عَدْلًا فَقِيْهًا فِي أَبْوَابِ الزَّكَاةِ وَلَا يُشْتَرَطُ فِقْهُهُ فِيْ غَيْرِ ذلِكَ قَالَ أَصْحَابُنَا: هَذَا إذَا كَانَ التَّفْوِيضُ لِلْعَامِلِ عَامًّا فِي الصَّدَقَاتِ فَأَمَّا إذَا عَيَّنَ لَهُ الْإِمَامُ شَيْئًا مُعَيَّنًا يَأْخُذُهُ فَلَا يُعْتَبَرُ فِيهِ الْفِقْهُ.

Ulama sepakat bahwa sa’i (petugas zakat) disyaratkan harus muslim, merdeka, adil, dan fakih dalam permasalahan zakat, dan tidak disyaratkan fakih dalam selainnya. Ashab al-Syafi’i berpendapat : Ini bila mandat untuk Amil diberikan secara umum dalam urusan zakat. Adapun bila imam menentukan harta zakat tertentu agar petugas (sa’i) mengambilnya, maka syarat fakih tidak diperhitungkan.

وَهُوَ مَنْ تَكَامَلَتْ فِيْهِ سِتُّ خِصَالٍ: أَحَدُهَا: الْبُلُوْغُ لِأَنَّ الصِّغَرَ لَا يَصِحُّ مَعَهُ قَبْضٌ وَلَا تَقْبِيْضَ وَالثَّانِيَةُ: الْعَقْلُ الَّذِيْ يَصِحُّ التَّمْيِيْزُ بِهِ وَالثَّالِثَةُ: الْحُرِّيَّةُ وَالرَّابِعَةُ: الْإِسْلَامُ لِأَنَّ الْكُفْرَ يُمْنَعُ مِنَ الْوِلَايَةِ عَلَى مُسْلِمٍ الي ان قال وَالْخَامِسُ: الْأَمَانَةُ الي ان قال وَالسَّادِسَةُ: الْفِقْهُ بِأَحْكَامِ الزَّكَوَاتِ الي ان قال فَإِذَا تَكَامَلَتْ فِيْهِ هٰذِهِ الْخِصَالُ السِّتَّةُ جَازَ أَنْ يَكُوْنَ عَامِلًا عَلَيْهَا وَسَوَاءٌ كَانَ رَجُلًا أَوِ امْرَأَةً وَإِنْ كَرِهْنَا تَقْلِيْدَ النِّسَاءِ لِذٰلِكَ لِمَا عَلَيْهِنَّ مِنْ لُزُوْمِ الْخَفَرِ لِأَنَّ الْمَرْأَةَ لَمَّا جَازَ أَنْ تَلِيَ أَمْوَالَ الْأَيْتَامِ جَازَ أَنْ تَلِيَ أَمْوَالَ الصَّدَقَاتِ.

Kriteria Amil adalah orang-orang yang telah memiliki enam syarat dengan sempurna. Pertama baligh, karena anak kecil tidak sah penerimaan dan penyerahannya. Kedua berakal, yang karenanya sifat tamyiz (memerinci dan membedakan) telah dianggap sah. Ketiga merdeka. Keempat Islam, karena kekafiran merupakan penghalang menguasai orang muslim, sampai ungkapan muallif Kelima amanah, sampai ungkapan muallif Keenam faqih (mengerti) hukum-hukum zakat sampai ungkapan muallif…. jika enam kriteria ini terpenuhi maka seseorang boleh menjadi amil zakat; baik ia laki-laki atau perempuan, meskipun kita memakruhkan mengangkat perempuan untuk urusan tersebut sebab sifat pemalu yang senantiasa ada pada perempuan. Karena ketika perempuan boleh menguasai (mengatur) harta anak-anak yatim, niscaya dia juga boleh menguasai (mengurus) harta zakat.

(وَيَدْخُلُ فِي اسْمِهِ السَّاعِيْ) وَهُوَ الَّذِيْ يَبْعَثُهُ الْإِمَامُ لِأَخْذِ الزَّكَوَاتِ (وَالْكَاتِبُ) وَهُوَ مَنْ يَكْتُبُ مَا يُؤْخَذُ وَيُدْفَعُ (وَالْقَاسِمُ وَالْحَاشِرُ) وَهُوَ الَّذِي يَجْمَعُ أَرْبَابَ الْأَمْوَالِ (وَالْعَرِيفُ) وَهُوَ الَّذِي يُعْرِّفُ أَرْبَابَ الِاسْتِحْقَاقِ وَهُوَ كَالنَّقِيبِ لِلْقَبِيْلَةِ (وَالْحَاسِبُ وَالْحَافِظُ) لِلْأَمْوَالِ وَالْجُنْدِيُّ وَالْجَابِيْ.

(Termasuk dalam kategori amil adalah 1- Sa’i), yaitu orang yang ditugasi imam memungut zakat; (2- Katib) yaitu orang yang mencatat harta yang dipungut dan yang diserahkan, (3 dan 4- Qasim, Hasyir), yaitu orang yang mengumpulkan pemilik harta, (5- ‘Arif) yaitu orang yang memberi tahukan mengenai oraang-orang yang berhak seperti naqib (kepala suku) suatu kabilah, (6 dan 7- Hasib dan Hafizh) harta, 8- tentara, dan 9- al-jabi/penarik zakat.

أَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ الْعَامِلَ عَلَى الزَّكَاةِ مَصْرِفٌ مِنْ مَصَارِفِهَا الثَّمَانِيَةِ لقوله تعالى: (وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا) وَقَالُوْا: إنَّهُ يَدْخُلُ فِي اسْمِ الْعَامِلِ السَّاعِيْ: وَهُوَ الَّذِيْ يَجْبِي الزَّكَاةَ وَيَسْعَى فِي الْقَبَائِلِ لِجَمْعِهَا وَالْحَاشِرُ: وَهُوَ اثْنَانِ أَحَدُهُمَا: مَنْ يَجْمَعُ أَرْبَابَ الْأَمْوَالِ وَثَانِيْهِمَا: مَنْ يَجْمَعُ ذَوِي السِّهَامِ مِنَ الْأَصْنَافِ وَالْعَرِيْفُ: وَهُوَ كَالنَّقِيْبِ لِلْقَبِيْلَةِ وَهُوَ الَّذِيْ يُعْرِفُ السَّاعِيَ أَهْلَ الصَّدَقَاتِ إذَا لَمْ يَعْرِفْهُمْ وَالْكَاتِبُ: وَهُوَ الَّذِيْ يَكْتُبُ مَا أَعْطَاهُ أَرْبَابُ الصَّدَقَاتِ مِنَ الْمَالِ وَيَكْتُبُ لَهُمْ بَرَاءَةً بِالْأَدَاءِ وَيَكْتُبُ كَذٰلِكَ مَا يُدْفَعُ لِلْمُسْتَحِقِّيْنَ وَالْقَاسِمُ: وَهُوَ الَّذِيْ يَقْسِمُ أَمْوَالَ الزَّكَاةِ بَيْنَ مُسْتَحِقِّيْهَا وَيَدْخُلُ فِي اسْمِ الْعَامِلِ كَذٰلِكَ: الْحَاسِبُ وَالْخَازِنُ وَحَافِظُ الْمَالِ وَالْعَدَّادُ وَالْكَيَّالُ وَالْوَزَّانُ وَالرَّاعِيْ لِمَوَاشِي الصَّدَقَةِ وَالْحَمَّالُ وَكُلُّ مَنْ يُحْتَاجُ إلَيْهِ فِي شَأْنِ الصَّدَقَةِ حَتَّى إذَا لَمْ تَقَعْ الْكِفَايَةُ بِسَاعٍ وَاحِدٍ أَوْ كَاتِبٍ وَاحِدٍ أَوْ حَاسِبٍ وَاحِدٍ أَوْ حَاشِرٍ أَوْ نَحْوِهِ زِيْدَ فِي الْعَدَدِ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ.

Fuqaha sepakat bahwa amil zakat merupakan salah satu dari delapan golongan, berdasarkan firman Allah: “Dan amil-amilnya”. Ulama berpendapat, yang termasuk di dalam golongan Amil adalah Sa’i; yaitu orang yang menghimpun zakat dan mendatangi kabilah-kabilah untuk mengumpulkan zakat. Hasyir ada dua: pertama, orang yang mengumpulkan pemilik harta zakat, dan kedua, orang yang mengumpulkan golongan penerima zakat. ‘Arif seperti pemimpin kabilah, yaitu orang yang memberi tahu orang-orang yang wajib zakat kepada Sa’i bila ia tidak mengetahui mereka.

Katib adalah orang yang mencatat harta yang diberikan pemilik harta zakat, menulis keterangan lunas zakat sebab telah terbayar, dan mencatat harta zakat yang telah diserahkan kepada mustahiqqin. Qasim adalah orang yang membagi harta zakat di antara para mustahiqnya. Demikian juga termasuk golongan amil adalah Hasib (penghitung), Khazin (penyimpan), Hafidz al-Mal (penjaga harta), ‘Addad (penghitung), Kayyal (penakar), Wazzan (penimbang), Ra’i (perawat) binatang-binatang zakat, Hammal (pengangkut), dan setiap orang yang dibutuhkan untuk mengurus zakat, sehingga bila tidak tercukupi dengan satu Sa’i, Katib, Hasib, Hasyir atau semisalnya, maka jumlahnya ditambah sesuai kebutuhan.

E. Hak Amil dan Panitia dari Zakat

Sesuai dengan surat al-Taubah: 60, yang berhak menerima zakat (mustahiq) adalah amil (wakil mustahiq) dan bukan wakil muzakki (panitia). Lalu berapa kadar yang menjadi hak amil? Adalah sebatas ongkos sepadan/yang sewajarnya menurut tugas yang dikerjakannya.

وَيُعْطَى الْعَامِلُونَ عَلَيْهَا بِقَدْرِ أُجُورِ مِثْلِهِمْ فِيمَا تَكَلَّفُوا مِنَ السَّفَرِ وَقَامُوا بِهِ مِنَ الْكِفَايَةِ لَا يُزَادُونَ عَلَيْهِ شَيْئًا.

Amil zakat diberi (bagian) sekadar ongkos sepadan sesuai kesulitan tugasnya dan kecukupannya, tidak boleh lebih sedikit pun.

وَيَأْخُذُ الْعَامِلُونَ عَلَيْهَا بِقَدْرِ أُجُورِهِمْ فِي مِثْلِ كِفَايَتِهِمْ وَقِيَامِهِمْ وَأَمَانَتِهِمْ.

Amil zakat berhak mengambil sekadar ongkos yang sepadan dengan kecukupan sesuai tugas dan tanggung jawabnya.

وَالَّذِي يَسْتَحِقُّهُ الْعَامِلُ أُجْرَةُ مِثْلِ عَمَلِهِ فَقَطْ. فَإِنِ اسْتُؤْجِرَ بِأَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ بَطَلَتِ الْإِجَارَةُ وَالزَّائِدُ مِنْ سَهْمِهِ عَلَى أُجْرَتِهِ يُرْجَعُ لِلْأَصْنَافِ.

Yang menjadi hak amil adalah ongkos sepadan saja. Maka jika diberi ongkos lebih dari itu batallah pengongkosannya dan bagian (pendapatan) yang melebihi ongkosnya harus dikembalikan kepada asnaf yang lain.

IV. Penutup

Jelaslah bagi kita bahwa antara amil (BAZNAS) dan pengelola zakat lainnya (LAZ, panitia zakat, yayasan pengelola zakat dan sesamanya) berbeda dalam banyak hal, mulai dari proses pengangkatannya, status dan posisinya, tugas dan tanggung jawabnya dan haknya dari zakat.

Bagian 1: Zakat Firah dan Amil Pasca Regulasi Terbaru


Referensi :

  1. Al-Khathib al-Syarbini, al-Iqna’ fi Hall Alfazh Abi Syuja’, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1998), 429.
  2. Ibid, 429.
  3. Muhammad Nawawi a-Jawi, Nihayah al-Zain Syarh Qurrah al-‘Ain, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2002), 153.
  4. Ibid, 153.
  5. Ibn Hajar al-Haitami, Fatawa Ibn Hajar al-Haitami, vol. 2 (Dar al-Fikr, 1983), 51.
  6. Al-Imam al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, vol. 7 (Dar al-Fikr, 1995), 153.
  7. Risalah Daftar Nishob Zakat dan Istilah Ukuran dalam Kitab Fiqih, (Kediri: Jam’iyyah Musyawarah Riyadlah al-Thalabah, tth.).
  8. MUI, Tuntunan Praktis Tentang Zakat, Infaq dan Sedekah, (Jakarta: MUI, 1994), h. 19.
  9. Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 2,hal. 147.
  10. Ibid, 147 ; Bada’iu al-Shana’i, juz 2, hal. 108 (al-Kasani al-Hanafi).
  11. Risalah Daftar Nishob Zakat dan Istilah Ukuran dalam Kitab Fiqih, (Kediri: Jam’iyyah Musyawarah Riyadlotut Tholabah, tth.).
  12. Ibid.
  13. Wahbah al-Zuhailiy, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu, , vol. 2, hal. 911.
  14. Muhammad Nawawi a-Jawi, Nihayah al-Zain Syarh Qurrah al-‘Ain, (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2002), 153.
  15. Al-Khthib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh al-Minhaj, vol. 3 (Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2000), 136.
  16. Abd al-Rahman Ba ‘Alawi, Bughyah al-Mustarsyidin (Dar al-Fikr,tt), 105.
  17. Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri, vol. 1, h. 283
  18. Abdul Haq bin Ghalib al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajiz fi at-Tafsir al-Kitab al-‘Aziz (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1422 H/2001 M), III/49. Baca pula, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, VIII/176, dan Wazarah al-Auqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyah, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah (Kuwait: Dar ash-Shafwah, 1414 H/1993 M), XXIX/226.
  19. Nihayah al-Muhtaj, VI/168
  20. Al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthaniyah, 38-39.
  21. Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jatim 2014 di PP. Tremas Pacitan.
  22. Mur’a bin Yusuf al-Hanbali, Dalil al-Thalib, vol. 1, h. 133
  23. Fath al-Qarib Hamisy Hasyiyah al-Bajuri, vol. 1, h. 286
  24. Ibrahim bin Ali bin Yusuf al-Syirazi, al-Muhadzdzab, vol. 1, h. 168
  25. Al-Sayyid al-Bakri bin al-Sayyid Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, vol. 2, h. 182.
  26. Al-Bajuri, Hasyiyyah al-Bajuri, vol. 1, h. 296.
  27. Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’, VI/141-142.
  28. Abu al-Hasan al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1414 H/1994 M), VIII/494-.
  29. Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, I/522-523.
  30. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, XXIX/226-228.
  31. Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Umm, vol. 2, h. 75
  32. Ibid, vol. 2, h. 86
  33. Ibn Hajar al-Haitami, Minhaj al-Qawim, 494