Dilema Hukum Kentongan Menurut Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Faqih Maskumambang

0
419
takbiran di selain hari raya

Sudah kita kenal kedua ulama besar Nusantara, yang sekaligus founding father organisasi Islam terbesar di dunia (Nahdlatul Ulama), yaitu K.H. M. Hasyim Asy’ari dan K.H. M. Faqih Maskumambang.

Kedua ulama ini memiliki banyak kesamaan latar belakang pendidikan agama. Sama-sama pernah mengaji di Pondok Pesantren Langitan Tuban, pernah mengaji kepada Saikhona K.H. Kholil Bangkalan, dan kepada Syaikh Mahfudz Termas, dan beliau berdua juga pernah mengaji kepada ulama-ulama lain, baik di nusantara maupun di Mekah. 

Meskipun memiliki banyak kesamaan latar belakang pendidikan agama, namun tidak semua pendapat beliau berdua sama. Salah satunya yang masyhur di kalangan kita adalah perbedaan pendapat mengenai hukum memukul kentong sebagai tanda masuk waktu salat.

Menurut K.H. Hasyim Asy’ari hukumnya haram, karena mirip dengan loncengnya orang Nasrani. Berbeda dengan K.H. Faqih Maskumambang yang menghukumi boleh. Berikut sekilas kutipan teks tersebut ;

قال الماتن

فيقال : ضرب الناقوس للإعلام بدخول الوقت من أمر النصارى , وليس من الشرع , وليس عليه أمره , وأنه منهي عنه

Penulis matan (KH M. Hasyim Asy’ari) berpendapat:

Artinya: “ Dikatakan, bahwa memukul naqus sebagai tanda masuk waktu adalah termasuk perbuatan Nasrani. Bukan termasuk syara’, dan bukan urusan syara’, sesungguhnya hal itu dilarang”. (K.H. Faqih Maskumambang, Syarh Hazzi Ru’us fi roddil Jasus ‘an tahrimin Naqus, [Depok : Maktabah Turmusy, 2020] cetakan 1, hal. 45.)

K.H. Hasyim Asy’ari mendevinisikan naqus mengutip dari beberapa kitab lughot salah satunya dari kitab faroid Lughoh;

الناقوس : خشبة أو حديدة يضربها النصارى إعلاما للدخول فى الصلاة 

Artinya : “ Naqus adalah kayu atau besi yang dipukul orang Nasroniy guna memberitahu masuk waktu beribadah.”

Selain itu, beliau juga mengutip dari kitab Munjid;

الناقوس : قطعة طويلة من حديد او خشبة يضربونها لأوقات الصلاة وربما استعملوا كلمة الناقوس للجرس

Artinya : “Naqus adalah potongan panjang dari besi atau kayu yang mereka pukul untuk pertanda waktu beribadah, dan terkadang kata naqus digunakan untuk makna lonceng.” (KH Faqih Maskumambang, Syarh Hazzi Ru’us fi roddil Jasus ‘an tahrimin Naqus, [Depok : Maktabah Turmusy, 2020] cetakan 1, hal. 26)

Pendapat K.H. M. Hasyim Asy’ari di atas ditanggapi oleh KH. M. Faqih Maskumambang sebagai berikut:

قال الشار ح

لا يخفى أن قول الماتن ضرب الناقوس للإعلام بدخول الوقت من أمر النصارى مأخوذ من الحديث ولكن لايؤخذ منه تحريم ناقوس المسلمين أصلا ..الى أن قال.. وأما قوله ” وليس من الشرع وليس عليه أمره ” فكذلك لايؤخذ منه تحريم ناقوس المسلمين أصلا. وأما كون ضربه ليس فيه أمر من الشارع وأنه بدعة فمسلم لكن ما كل بدعة محرمة بل منها واجبة ومنها مندوبة

Pensyarah (K.H. M. Faqih Maskumambang) berpendapat:

Artinya: “ Jelas bahwa sesungguhnya pendapat penulis matan, tentang ‘memukul naqus guna sebagai tanda masuk waktu adalah termasuk perbuatan Nasrani, itu diambil dari hadis, tapi tidak bisa diambil kesimpulan dari hadis tersebut keharaman naqus orang muslim. Adapun pendapat beliau; ‘bukan termasuk syara’, dan tidak ada sumber syara’’ seperti halnya tadi, sama sekali tidak bisa diambil kesimpulan tentang keharaman naqus orang muslim. Adapun hal itu tidak ada sumber dari syari’, berarti itu termasuk bid’ah, tetapi tidak semua bid’ah dilarang, bahkan ada yang wajib dan sunah,” (KH Faqih Maskumambang, Syarh Hazzi Ru’us fi roddil Jasus ‘an tahrimin Naqus, [Depok : Maktabah Turmusy, 2020] cetakan 1, hal. 45)

Yang kami kutip di atas hanya sebagian kecil dari uraian perdebatan beliau berdua.

Walhasil, K.H. M. Faqih Maskumambang tidak sepakat dengan K.H. M. Hasyim Asy’ari dalam pengharaman memukul kentong sebagai tanda masuk waktu salat.

Yang menarik di sini adalah K.H. M. Hasyim Asy’ari mengumpulkan ulama-ulama jombang, dan santri-santri senior di Tebuireng guna menyampaikan perbedaan pendapatnya dengan K.H. M. Faqih Maskumambang mengenai kentongan, dan mempersilahkankan untuk memilih dan mengamalkan salah satu pendapat beliau berdua.

Sama halnya dengan K.H. M. Faqih Maskumambang juga melakukan hal yang sama.

Kedua ulama besar ini tetap saling menghormati, saling menjaga persaudaraan, bahkan KH M. Hasyim Asy’ari menikahkan putrinya, Nyai Khoriyyah, dengan saudara kandung KH M. Faqih Maskumambang, yaitu Kiai Ma’sum Ali. (Ibnu Harju al-Jawi, Muqodimah Muhakkiq Hazzi Ru’us, [Depok : Maktabah Turmusy, 2020] cetakan 1, hal. 11)

Wallahu a’lam


*Penulis: Amin Ma’ruf, PP Al-Iman Bulus Purworejo; Mahasiswa Tafsir Pascasarjana UNSIQ Wonosobo.