Quran – Hadits Melarang Hadiah Pahala ? (Hujjah-3)

0
1719
melarang hadiah pahala

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Ketika berhadapan dengan Salafi Wahabi yang anti tahlilan, kita sering disodori sepenggal Qur’an Hadits yang dianggapnya melarang hadiah pahala kepada orang yang sudah meninggal. Pelakunya pun dituduhnya sebagai ahli bid’ah yang sesat dan terancam neraka. Benarkah tuduhan-tuduhan itu?

Al-Qur’an Melarang Hadiah Pahala?

Ayat yang sering diklaim sebagai larangan hadiah pahala adalah:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (النجم: 39)

“Dan sungguh tiada balasan bagi manusia selain amal yang dilakukannya.”

Lalu bagaimana pendapat ulama ahli tafsir dalam memahami ayat ini? Apakah seperti pemahaman Wahabi?

Dalam konteks ini al-Imam al-Baghawi (436-510 H/1044-1117 M) pakar tafsir dan fikih bermazhab Syafi’i asal kota Khurasan (Iran sekarang) dalam kitab tafsirnya Lubab at-Ta’wil fi Ma’alim at-Tanzil (VII/415) menyatakan, menurut Ibn ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—ayat tersebut telah ternaskh (terhapus/terganti) hukumnya dengan ayat lain, yaitu:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (الطور: 21)

“Dan orang-orang yang beriman dan keturunan mereka mengikutinya dengan keimanan, maka kami ikutkan keturunannya itu kepada mereka (di surga), dan kami tidak mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Semua manusa digadaikan dengan amalnya.”

Baca Juga: Tiga Pesan Kiai Ali Maksum Krapyak (Hujjah-1)

Secara tegas al-Baghawi juga mengatakan, ayat ini jelas-jelas menerangkan anak keturunan dimasukkan ke surga karena kebaikan orang tuanya. Lebih lanjut mengutip ahli tafsir lain, ‘Ikrimah (25-105 H/645-723 M), tabi’in yang menjadi murid langsung Ibn ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—, beberapa hadits shahih menguatkan pendapat di atas. Di antaranya adalah:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: رَفَعَتِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلِهَذَا حَجٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ. (رواه مسلم)

“Diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—, ia berkata: ‘Seorang perempuan menggendong bayi dan bertanya kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: ‘Ya Rasulullah, apakah anak bisa haji?’ Beliau menjawab: ‘Ya, dan kamu juga mendapat pahala.’” (HR Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ، وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ. أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. (رواه مسلم)

“Diriwayatkan dari ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—, ia berkata: ‘Seorang lelaki mendatangi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— dan bertanya: ‘Ya Rasulullah, sungguh Ibuku mendadak wafat dan belum sempat berwasiat. Aku menduga andaikan mampu berbicara maka ia akan (memerintahkan) bersedekah. Apakah ia mendapat pahala bila aku bersedekah atasnamanya?’ Beliau menjawab: Ya.’” (HR Muslim)

Hadits Juga Melarang Hadiah Pahala?

Lalu bagaimana dengan hadits yang sekilas menyatakan tidak sampainya pahala kepada mayit? Seperti hadits shahih ini:

إِذَا مَاتَ اَلْإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالَحٍ يَدْعُو لَهُ. – (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Ketika manusia mati maka (pahala) amalnya terputus darinya, kecuali dari tiga hal: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) anak shaleh yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Ahli hadits dan tafsir kenamaan Ibn as-Shalah (577-643 H/1181-1245 M) bermazhab Syafi’i asal Sarkhan dekat Sharazur Irak secara lugas menjelaskan:

وَالْحَدِيْثُ وَارِدٌ فِيْ عَمَلِهِ وَهَذَا عَمَلُ غَيْرِهِ.

“Hadits ini hanya terkait amalnya sendiri, sedangkan (hadiah pahala) ini adalah amal orang lain.”

Demikian dikutip Syaikh ‘Umairah al-Barlasi dalam karyanya Hasyiyah ‘ala Syarh Minhaj al-Thalibin li al-Mahalli (III/176).

Kesimpulan

Jadi jelas kan, hadiah pahala kepada mayit itu boleh dan sampai berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits, sesuai pemahaman Sahabat, Tabi’in dan ulama mazhab lintas generasi. Karenanya, yuk perbanyak amal shaleh untuk diri sendiri sekaligus ahli kubur yang telah mati mendahului.

Baca Juga: Hadiah Pahala Untuk Mayit Menurut Ibn Taimiyah (Hujjah-2)

_______________________

Sumber:

1. Al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi/Lubab at-Ta’wil fi Ma’alim at-Tanzil, (ttp.: Dar Thaibah, 1417 H/1997 M), edisi: Muhammad Abbullah an-Namr dkk, VII/415.

2. Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim/al-Jami’ as-Shahih, (Bairut: Dar al-Jil dan Dar al-Afaq al-Jadidah, tth), III/81, IV/101 dan V/73.

3. ‘Umairah Ahmad al-Barlasi, asyiyah ‘ala Syarh Minhaj al-Thalibin li al-Mahalli dalam Hasyiyata Qulyubi wa ‘Umairah, (Surabaya; al-Haramain, tth.), III/176.

Ilustrasi : ilmgate