Sudah Bekerja Keras tapi masih Miskin? Jangan Khawatir, Allah punya Rencana Lain

0
247

Frasa “bekerja keras” dengan “miskin” seharusnya bertolak belakang. Di belahan dunia manapun, para tetuanya pasti mewariskan pepatah, “kerja keras pangkal kaya”, “malas pangkal miskin” dan yang terdengar mirip seperti itu.

Namun konsep rencana Allah Swt. terhadap makhluk-makhluk-Nya tidak seperti itu. Seringkali kita temukan orang yang tiap harinya bekerja keras. Membanting punggung. Makan tiap harinya tahu-tempe. Tapi ndak kaya-kaya. Tabungannya ya segitu-gitu juga.

Sebaliknya. Ada yang cuma ngelus-ngelus guling. Tidur sore, bangun siang. Tapi mobilnya tiga. Motornya lima. Mahal semua.

‘Di mana letak keadilan Allah?’ Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering berdengung di warung kopi. Tempat para kuli dan pekerja keras lainnya menumpahkan sambat.

Saya tidak akan berbicara jauh tentang itu. Namun, Allah Swt. sendiri pernah membocorkan rahasia kenapa ia mentakdirkan nasib yang berbeda-beda, dan seperti tak adil dipandang mata.

Allah Swt. menciptakan setidaknya lima tipe hamba. Hal ini disebutkan Rasulullah saw. dalam salah satu hadis qudsinya, yang diriwayatkan Abu Nuaim dari sahabat Anas r.a.

Pertama, hamba Allah yang dikehendaki tidak rajin beribadah.

و إن من عبادي المؤمنين من يريد بابا من العبادة فأكفه عنه لئلا يدخله عجب فيفسده ذلك

Ada sebagian dari hamba-hambaku yang beriman. Mereka ingin mendekat kepadaku dengan rajin beribadah, tetapi Kucegah. Karena aku tidak ingin ia terjerumus dalam sifat ‘ujub, yang dapat merusaknya.

Kedua, hamba Allah yang dikehendaki miskin.

وإن من عبادي المؤمنين من لا يصلح إيمانه إلا الفقر وإن بسطت له لافسده ذلك

Ada sebagian dari hamba-hambaku yang beriman, yang tidak akan baik imannya kecuali dengan kemiskinan. Jika aku melapangkan rizkinya, ia akan rusak olehnya.

Ketiga, hamba yang dikehendaki jadi orang kaya.

وإن من عبادي المؤمنين من لا يصلح إيمانه إلا الغنى ولو افقرته لافسده ذلك

Ada sebagian dari hamba-hambaku yang tidak akan baik imannya kecuali dengan kekayaan. Jika aku memiskinkannya, ia akan rusak olehnya.

Keempat, hamba yang dikehendaki sehat wal afiat tanpa kekurangan suatu apapun.

وإن من عبادي المؤمنين من لا يصلح إيمانه إلا الصحة ولو استقمته لافسده ذلك

Ada sebagian dari hamba-hambaku yang tidak akan baik imannya kecuali dengan kesehatan. Jika aku memberinya penyakit, itu akan merusak imannya.

Kelima, hamba yang dikehendaki sakit terus-terusan.

وإن من عبادي المؤمنين من لا يصلح إيمانه إلا السقم ولو اصححته لافسده ذلك

Ada sebagian hambaku yang tidak akan baik imannya kecuali dengan rasa sakit. Jika aku menyehatkannya, itu akan merusak imannya.

Hadis mengenai tipe-tipe hamba Allah ini mungkin tidak bisa menjadi jawaban memuaskan dari betapa malangnya hidup yang kita jalani. Namun, paling tidak, kita punya alasan untuk berhusnuzan. Berprasangka baik kepada apapun yang telah digariskan Allah di lauh al-mahfuzhWallahu a’lam.

Sumber: as-Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi al-Maliki, Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar.