Beliau Baginda Rasulullah ShallalLah ‘alaihi wa sallam bersabda :

حبب إلي من دنياكم النساء والطيب

“Dicintakan kepadaku dari dunia kamu semua wanita dan wewangian”

Sangat terasa indah ketika Beliau menggunakan bahasa hubbiba (dicintakan) bukan Uhibbu (aku cinta). Ada sesuatu yang menarik, sesuatu yang bersifat rahasia.

Tertarik Bukan Karena Nafsu

Al-Imam as-Sya’rani Rahimahullah menjelaskan, diksi ini menunjukkan bahwa ketertarikan Rasulullah SAW. bukan ketertarikan yang didorong oleh nafsu, bukan ketertarikan yang didasarkan oleh fitrah manusia sebagaimana bila menggunakan bahasa Uhibbu. Ketertarikan beliau SAW adalah ketertarikan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya, ketertarikan seorang hamba yang paling ma’rifat dengan Tuhan-Nya, ketertarikan seorang hamba yang paling mencintai Rabb-Nya. Ketertarikan seorang hamba yang benar-benar “menikmati” status sebagai hamba, status yang merupakan status teragung hingga digunakan dalam menceritakan kisah perjalanan jumpa dengan Rabb dalam Isra’ mi’raj (Subhanalladzi asraa ‘abdahu.)

Bagi hamba, segala apa yang dimiliki dan diciptakan oleh Rabb adalah sama. Tak ada yang lebih daripada yang lain karena semua adalah manifestasi (ejawantah) dari Qudrah-Iradah dan segala sifat Rabb-Nya. Batu, berlian, dan emas adalah sama. Pengemis, milyarder, koruptor, pepohonan, hewan buas, binatang melata, bintang gemintang tak ada bedanya dan tak ada yang istimewa. Jujur, berdusta, culas, amanah, tha’at, ma’shiyat tak ada bedanya. Semua tampak sama ketika dihadapkan dengan ke-Maha-an Sang Pencipta.
Namun Sang Pencipta dengan hak prerogatif-Nya, dengan sifat jaiz-Nya telah memilih untuk memerintahkan agar manusia menganggap emas lebih mulia dari batu kali, koruptor adalah penjahat dan berbuat kejahatan adalah perbuatan dosa, jujur dan amanah adalah sifat terpuji. Inilah yang dikenal dengan wadl’un ilahiyyun (aturan Tuhan). Sangat tidak tepat bila secara naif kita memandang sisi persamaan sebagai makhluk, sebagai sesama manusia namun lupa kepada wadl’un ilahiyyun, status mulia-nista yang disandangkan oleh Allah.

Semua Dianggap Setara

Dewasa ini banyak yang kadang secara tak sadar tidak terima dengan derajat nubuwwah, derajat sebagai dzurriyatur Rasul, derajat sebagai ulama, lebih suka untuk memandang kita semua sama-sama manusia. Padahal ini pola pikir yang dulu dipakai kaum-kaum pada masa Nabi-nabi sebelumnya. Bukankah ketika diajak beriman mereka menjawab “Ma anta illa basyarun mitsluna ” Engkau hanyalah manusia seperti kami ?

Dalam hal ini, Rasulullah tafwidl dan tunduk kepada wadl’un ilahiyyun, ketertundukan semata-mata menganggap bahwa itu bagian dari skenario agung Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi Beliau, wanita dan wewangian hakekatnya hanya bagian dari makhluk-makhluknya Allah, tak ada yang istimewa dan tak beda dengan makhluk yang lain. Namun karena Allah telah menetapkan (wadl’un) bahwa segala yang berbau wangi dan wanita “harus” dianggap menarik (dalam bahasa lebih membumi “memiliki daya tarik”) maka demi kepasrahan total dan mentaati perintah Rabb beliau juga tertarik dengan wanita dan wewangian. Namun karena titik tolak ketertarikan ini bukan nafsu atau apa yang diistilahkan dalam bahasa membumi dengan fitrah melainkan ketertundukan total dan mentaati perintah, ketertarikan tersebut juga disesuaikan dengan wadl’un ilahiyyun dan perintah-perintah Allah yang lain. Dalam menerapkan ketertarikan juga memperhatikan aturan-aturan Rabb yang lain, sama sekali tak ada campur tangan ketertarikan diri karena diri Beliau telah “lenyap” dalam ke-Maha-an Sang Pencipta.Ketertarikan tanpa ada rasa takut kehilangan, tanpa rasa kesengsem, tanpa rasa eman, semata hanya tunduk, tunduk, dan tunduk.

Bersikap Adil, Kunci Mengatasi Masalah Kaum Muslimin

Ingat hadits di atas, penulis ingat yang disampaikan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Risalah Untuk Kaum Muslimin dan dipresentasikan oleh guru kami al-Habib Ismail Fajri al-Attas bahwa salah satu kunci penting mengatasi masalah kaum muslimin adalah adil (memposisikan sesuatu pada tempatnya) dan adab yang oleh beliau diartikan sebagai pengenalan (ilmu) serta pengakuan (amal) akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta. Tiap segala sesuatu telah memiliki hak dan derajat masing-masing sesuai dengan wadl’un ilahiyyun.

Saling Menghormati dan Menghargai

Alangkah indah bila yang diisyaratkan Rasulullah SAW. dalam sabda beliau dan telah dijabarkan oleh Sayyid Naquib Alatas benar-benar terejawantahkan dalam kehidupan. Setiap orang memahami, menyadari, dan menghormati hak serta kedudukan manusia yang lain, hak serta kedudukan makhluk-makhluk yang lain. Akhirnya akan terjadi saling menghargai dan menghormati bukan saja antar sesama manusia bahkan sesama makhluk karena semua merasa hanya manifestasi dari ke-Maha-an Sang Rabb dan semua memahami dan tunduk kepada kedudukan yang telah ditetapkan oleh Allah atas makhluk-Nya. dalam memandang segala sesuatu, dalam menghadapi kondisi apapun selalu dihadapkan dan ditimbang dengan aturan-aturan Rabb baik yang tersurat dalam teks keagamaan maupun kedudukan yang ditetapkan-Nya dalam semesta.

Ja’alanallah minal ‘arifin bih waminal muhtadin waminas salimin fid darain.

Baca Juga: Hakikat Tawakal – Jadilah Seperti Burung

Pekalongan, 4 Syawwal 1434 H.

* Tulisan di atas hanya pemahaman penulis ad-dlaif dalam memahami dawuh-dawuh para ulama. Bila ada yag kurang tepat, mohon bantuannya untuk diluruskan.


Ilustrasi : calisia