Tepat Sasaran Memaknai Hadis tentang Syukur

0
201
syukur

Tidak hanya sekali, saya mendapati orang yang berpendapat bahwa kata-kata “melihat orang yang ada di bawah untuk urusan dunia” adalah tuntunan untuk bergembira di atas penderitaan orang lain.

Mari kita kupas hadits Nabi tersebut. Hadis itu dimulai dengan kalimat,

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan dalam harta dan rupa, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (H.R. Bukhari)

Jadi, sasaran hadis tersebut adalah orang-orang yang suka membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Bukan orang yang sudah mampu berfokus pada dirinya sendiri. 

Orang yang semacam ini sangat rentan terhadap iri dengki, yang merupakan penyakit yang menggerogoti hati. Oleh karenanya, permulaan terapi untuk penyakit ini adalah dengan melihat orang lain yang lebih kesusahan, agar ia tidak lagi meremehkan nikmat Allah padanya dan berfokus pada ketenangan hatinya akan pemberian nikmat itu, sehingga dia lebih mudah untuk naik pada tingkat syukur. 

Karena sejatinya, senang dengan pemberian Allah saja belum bisa dikatakan sebagai syukur. Implementasi syukur lebih dari sekedar itu. Ia menuntut tindakan nyata sebagai bukti. Sebagaimana firman Allah dalam surat Assaba’ 13 :

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ.

Beramallah kalian wahai keluarga Daud. Sedikit sekali hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.” (Q.S. As-Saba’: 13)

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin juz 4 halaman 86 (Pustaka Assalam Surabaya) menjelaskan secara lebih rinci tentang bagaimana rasa syukur yang benar.

Rasa terima kasih yang bisa dikategorikan sebagai syukur yang benar adalah perasaan senang gembira yang berfokus pada si pemberi, bukan pada barang pemberian atau tindakan memberi itu.

Misalnya, ada seorang raja yang memberi kuda, maka kondisi penerima kuda itu ada tiga macam:

Pertama, senang pada kuda itu. Karena kuda itu barang mahal, bisa dijadikan kendaraan, dan atau sesuai dengan kepentingannya.

Orang model seperti ini tidak bisa dikatakan sebagai orang yang bersyukur dan berterima kasih. Karena dia fokus pada barangnya, bukan pada pemberinya. Dia dapat kuda dari gurun pun tetap akan merasa senang.

Orang ini sudah tidak membandingkan dirinya dengan orang lain yang membuatnya iri, karena dia sudah senang dengan apa yang diberikan padanya. Tetapi inipun masih jauh untuk bisa dikatakan sebagai orang yang bersyukur.

Kedua, orang itu senang karena mendapat perhatian dan kasih sayang dari sang raja. Bisa jadi karena dia memang tidak membutuhkan kuda itu, atau karena baginya, harga kuda itu sangat sepele bila dibandingkan dengan perhatian sang raja. Dia tidak akan sesenang itu bila mendapatkan kuda dari selain raja.

Kondisi ke dua ini bisa dikatakan syukur. Senang karena di masa mendatang, raja yang perhatian ini bisa diharapkan lagi pemberiannya.

Rasa syukur karena merasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang Allah adalah syukurnya orang salih yang masih mengharapkan pahala dan takut akan dosa.

Ketiga, senang karena dengan kuda itu ia bisa bepergian untuk menjalankan sebuah misi dari raja, sehingga ia semakin dekat dengan sang raja.

Kondisi inilah dimana seorang hamba bersyukur pada Allah dengan paripurna. Karena nikmat itu adalah sarana untuk mendekatkan diri pada Allah.

Indikator posisi tertinggi ini adalah ia hanya akan sangat senang dengan anugerah yang bisa ia jadikan ladang amal solih, sedang anugerah yang membuatnya lalai ibadah akan membuatnya berduka. Karena yang ia harapkan bukanlah anugerah itu sendiri, melainkan kedekatan dengan Allah Subhanahuwata’ala.

Demikianlah. Hadis nabi itu bukan menyuruh senang atau bersyukur di atas penderitaan orang lain, karena yang seperti itu jauh sekali dari syukur yang benar. Akan tetapi hanyalah terapi awal untuk iri dengki yang semakin menjauhkan seorang dari syukur yang benar.

Wallahu a’lam.