Urgensi Puasa

0
1973

Ibadah Sepanjang Masa

Puasa bukan merupakan ibadah yang hanya diwajibkan kepada umat Islam sejak masa Nabi Muhammad Saw, namun telah diwajibkan sejak masa Nabi Adam As. Tidak ada syariat samawi (agama yang berasal dari Allah) yang tidak mewajibkan puasa.

Di antara informasi yang menunjukkannya adalah ayat dan hadits berikut:

  1. Al-Baqarah: 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, supaya kalian bertakwa.”

       2. Hadits at-Tirmidzi:

عَنْ زَيِدِ بْنِ سَلَامٍ أَنَّ أَبَا سَلَامٍ حَدَّثَهُ أَنَّ الْحَارِثَ الْأَشْعَرِيَّ حَدَّثَهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللهَ أَمَرَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ يَعْمَلَ بِهَا وَيَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهَا وَإِنَّهُ كَادَ أَنْ يُبْطِئَ بِهَا. فَقَالَ عِيسَى: إِنَّ اللهَ أَمَرَكَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ لِتَعْمَلَ بِهَا وَتَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهَا. فَإِمَّا أَنْ تَأْمُرَهُمْ وَإِمَّا أَنَا آمُرُهُمْ. فَقَالَ يَحْيَى: أَخْشَى إِنْ سَبَقْتَنِي بِهَا أَنْ يُخْسَفَ بِي أَوْ أُعَذَّبَ. فَجَمَعَ النَّاسَ فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَامْتَلأَ الْمَسْجِدُ وَقَعَدُوا عَلَى الشُّرَفِ. فَقَالَ: إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ أَعْمَلَ بِهِنَّ وَآمُرَكُمْ أَنْ تَعْمَلُوا بِهِنَّ: 

Diriwayatkan dari Zaid bin Salam: “Sungguh Abu Salam bercerita kepadanya, bahwa al-Harits al-Asy’ari bercerita kepadanya: “Bahwa Nabi Saw bersabda: “Sungguh Allah memerintah Nabi Yahya bin Zakariya As dengan lima hal agar dilakukannya dan diperintahkannya kepada bani Israil, dan hampir saja beliau terlambat tidak melakukannya. Lalu Nabi Isa As berkata: “Sungguh Allah telah memerintahkanmu dengan lima hal agar Kamu lakukan dan perintahkan kepada bani Israil. Maka kamu yang memerintah mereka atau aku.” Nabi Yahya As menjawab: “Aku takut bila Anda mendahuluiku memerintahkannya maka Allah Akan menenggelamkanku ke perut bumi atau menyiksaku.” Lalu beliau mengumpulkan bani Israil di Baitul Maqdis sehingga masjid penuh, dan mereka duduk di altar. Beliau berkata: “Sungguh Allah telah memerintahku dengan lima hal agar aku lakukan dan aku perintahkan kepada kalian, yaitu:

أَوَّلُهُنَّ أَنْ تَعْبُدُوا اللهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا. وَإِنَّ مَثَلَ مَنْ أَشْرَكَ بِاللهِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اشْتَرَى عَبْدًا مِنْ خَالِصِ مَالِهِ بِذَهَبٍ أَوْ وَرِقٍ، فَقَالَ: هَذِهِ دَارِي وَهَذَا عَمَلِي، فَاعْمَلْ وَأَدِّ إِلَيَّ. فَكَانَ يَعْمَلُ وَيُؤَدِّي إِلَى غَيْرِ سَيِّدِهِ. فَأَيُّكُمْ يَرْضَى أَنْ يَكُونَ عَبْدُهُ كَذَلِكَ؟

Pertama, kalian sembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan apapun. Sungguh orang yang menyekutukan-Nya ibarat orang yang membeli budak dengan hartanya sendiri, dengan emas atau perak, lalu berkat: “Ini adalah rumahku dan ini pekerjaanku, sekarang kerjakanlah dan penuhilah untukku.” Kemudian budak itu justru melakukan pekerjaan untuk orang lain. Maka siapa dai kalian yang rela budaknya berlaku seperti itu??

وَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ. فَإِذَا صَلَّيْتُمْ فَلاَ تَلْتَفِتُوا. فَإِنَّ اللهَ يَنْصِبُ وَجْهَهُ لِوَجْهِ عَبْدِهِ فِي صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ.

“Kedua, sungguh Allah memerintahkan kalian untuk melakukan shalat. Bila kalian shalat maka jangan menolah-noleh. Sebab Allah akan menegakkan wajahNya kepada wajah hambanya (merahmatinya) di dalam shalatnya selama tidak menolah-noleh.

وَآمُرُكُمْ بِالصِّيَامِ. فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ فِي عِصَابَةٍ مَعَهُ صُرَّةٌ فِيهَا مِسْكٌ، فَكُلُّهُمْ يَعْجَبُ-أَوْ يُعْجِبُهُ-رِيحُهَا، وَإِنَّ رِيحَ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ.

“Ketiga, Allah memerintahkan kalian agar berpuasa. Orang yang berpuasa ibarat orang yang berada di suatu perkumpulan dan dikantongnya terdapat parfum misik, sehingga mereka mengagumi aroma wangi semerbaknya, dan sungguh bau (mulut) orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada aroma misik.”

وَآمُرُكُمْ بِالصَّدَقَةِ. فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَسَرَهُ الْعَدُوُّ، فَأَوْثَقُوا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ، وَقَدَّمُوهُ لِيَضْرِبُوا عُنُقَهُ، فَقَالَ: أَنَا أَفْدِيهِ مِنْكُمْ بِالْقَلِيلِ وَالْكَثِيرِ، فَفَدَى نَفْسَهُ مِنْهُمْ.

“Keempat Allah memerintahkan kalian zakat. Sebab sungguh orang yang mengeluarkan zakat ibarat orang yang ditawan musuh, mereka membelenggu tangannya pada lehernya dan mereka siapkan untuk ditebas lehernya. Lalu tawanan itu berkata: “Aku tebus diriku dari kalian dengan harta sedikit maupun banyak. Lalu ia benar-benar menebus dirinya dari penawannannya.”

وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللهَ. فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا، حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ. كَذَلِكَ الْعَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللهِ … (رواه الترمذي وقال: هذا حديث حسن صحيح غريب)

Kelima, Allah memerintah kalian agar ingat kepadanya. Sebab sungguh orang yang mengingat Allah ibarat orang yang dikejar-kejar musuh secara cepat sampai ke benteng pertahanannya, lalu ia berhasil menyelamatkan diri dari mereka. Begitu pula orang tidak bisa menjaga diri dari setan kecuali dengan ingat kepada Allah.

Kenapa begitu penting puasa bagi umat manusia sehingga diwajibkan sepanjang masa?

Dalam konteks ini, pakar tafsir dan hadits asal Aleppo, Halab Syiria, al-Imam Abdullah Sirajuddin al-Husaini (1342-1422 H/2002-1924 M) dalam karyanya, as-Shiyam Adabuh wa Mathalibuh wa Fawaiduh wa Fadhailuh (Puasa; Etika, Anjuran, Faidah, dan Keutamaannya) halaman 7-8 menjelaskan, puasa diwajibkan dalam sepanjang masa karena puasa merupakan kemaslahatan yang bersifat mendasar bagi manusia dan merupakan ibadah yang luhur derajatnya. Sebagaimana hal itu tersirat dalam akhir surat al-Baqarah ayat 183 di atas. Tepatnya dalam frasa: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “semoga kalian dengan berpuasa mencapai derajat takwa.”

Urgensi Puasa

Sementara urgensi puasa tercermin dalam nilai-nilai takwa yang terkandung dalam puasa, yaitu:

  1. Penjagaan fisik dari berbagai penyakit.
  2. Penjagaan fisik dari menuruti hawa nafsu.
  3. Penjagaan akal pikiran dari berbagai pikiran kotor.
  4. Penjagaan hati dari waswas dan bersitan buruk.

Oleh :
Ahmad Muntaha AM

Referensi :

  1. Abdullah Sirajuddin al-Husaini, as-Shiyam Adabuh wa Mathalibuh wa Fawaiduh wa Fadhailuh, (Halab: Maktabah Dar al-Falah, tth.), h. 7-8.
  2. Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, al-Jami’ as-Shahih Sunan at-Tirmidzi, (Bairut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, tth.), edisi Ahmad Muhammad Syakir, dkk., Juz V, h. 148.