Oleh: Ahmad Muntaha AM

Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan kalam hikmah:

إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.

“Allah mendatangkan al-warid (pengetahuan/nur ilahi) kepada anda hanya agar dengannya Anda menghadap kepada-Nya.”  

Ulama sufi menjelaskan, maksud al-warid adalah nur ilahi yang Allah datangkan pada hati manusia.

Perbedaan antara Pengetahuan Akal dan Nur Ilahi

Lalu apa bedanya al-warid (sesuatu yang datang di hati) ini dengan sesuatu yang datang di hati atau akal lantaran proses belajar, mendengarkan guru atau membaca kitab? Sebab keduanya sama-sama datang membawa pengetahuan baru?

Dalam hal ini Syaikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi secara panjang lebar menerangkan, bahwa pengetahuan yang datang lantaran proses belajar, mendengarkan guru atau membaca kitab, terkadang baik dan terkadang buruk, terkadang berupa prasangka yang keliru dan terkadang berupa suatu hakikat yang benar. Dalam kondisi pengetahuan itu benar, maka ia akan tersimpan di akal dan tidak berguna bagi pemiliknya kecuali hanya menjadi setitik pengetahuan saja, meskipun terkadang bisa merasuk ke hati dan menuntun pemiliknya untuk bertindak dan bersikap sesuai dengannya.

Lain halnya dengan al-warid yang dimaksud dalam kalam hikmah ini. Maksud al-warid ini adalah karunia Allah berupa pengetahuan atau nur ilahi yang datang ke hati tanpa perantara proses belajar, mendengar arahan guru atau membaca kitab. Al-warid ini pasti baik karena langsung datang dari pemberian Allah Ta’ala. Ia juga tidak hanya menjadi setitik pengetahuan di kepala, namun menghujam ke hati dan menyadarkannya dari kelalaian.

Sebagaimana orang yang sibuk bergelut dengan berbagai urusan duniawi, kemudian tiba-tiba hatinya sadar bahwa hakikatnya urusan-urusan duniawi hanyalah bersifat sementara dan tidak layak menguras habis seluruh tenaga dan perhatiannya. Ketika tergerak untuk mengingat Allah kemudian bahkan ia sadar bahwa urusan-urusan duniawi itu hanyalah seonggok sampah belaka, sehingga sirnalah kecintaan duniawi dari hatinya. Inilah contoh nur ilahi yang telah menghujam hati.

Urgensi Nur Ilahi

Lalu apa sebenarnya urgensi nur ilahi bagi manusia? Dalam konteks ini Ibn ‘Athaillah as-Sakandari mengatakan:

لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.

“Agar dengannya Anda menghadap kepada-Nya.” 

Nur ilahi sangat urgen bagi manusia dan berfungsi sebagai media agar dapat menuju Allah Ta’ala, dimana perjalanan menuju Allah Ta’ala tidak dilakukan dengan menempuk jarak sekian jauh, akan tetapi hanya dengan menghadapnya hati kepada-Nya dengan penuh kecintaan, penghormatan dan pengagungan. Hatipun tidak akan mampu melakukannya kecuali setelah terbebaskan dari ketergantungan terhadap harta, syahwat, pangkat dan urusan-urusan duniawi lainnya, yang tidak akan selamat darinya kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Allah Ta’ala, seiring firman-Nya:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119) [هود: 118-119)

“Dan andaikan Tuhanmu menghendaki niscaya ia jadikan manusia satu umat dan mereka tidak akan berbeda-beda, kecuali orang yang dirahmati Tuhannya. Karena demikian itulah Tuhanmu menciptakan mereka, dan kalimat Tuhanmu telah sempurna, niscaya Ia akan penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya.” (QS. Hud: 118-119)

Baca Juga: Amal yang Menghidupkan Hati

Sumber:

  1. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam dalam Ib’ad al-Ghumam, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), I/102.
  2. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Hikam al-‘Athaiyyah Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), II/249-252.