Urgensi Nur Ilahi Bagi Manusia (Hikam-51)

Pilihan

Fikih Kebencanaan Perspektif NU (bag-1)

PENDAHULUAN Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dan aktivitas manusia, seperti letusan gunung, gempa bumi dan tanah longsor. ...

Bolehkah Membatalkan Sholat Karena HP Berdering ?

Sering kali saat ke masjid kita menemukan instruksi untuk mematikan HP “HP HARAP DIMATIKAN”. Sebut saja pak Jono, seorang kuli yang rajin...

Pilihan Mendalami Agama atau Berdakwah

Galau, bingung dan penuh dilematis, mungkin inilah yang dirasakan kang Sholeh santri Ibtidaiyyah yang baru saja memulai petualangan mempelajari ilmu agama khas...
Ahmad Muntaha AM
PP Imadut Thulabah, Nepak, Mertoyudan Magelang. PP Nurul Hidayah, Pangen Juru Tengah, Purworejo. PP Lirboyo Kota Kediri (2001-2010). Sekretaris PC LBM NU Kota Surabaya (2013-2015 & 2015-2017). Narasumber Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur (2014-sekarang). Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur (2013-sekarang). Pengurus LTN HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo PUSAT) dan Lirboyo Press. Penulis Buku Populer Khazanah Aswaja.

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan kalam hikmah:

إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.

“Allah mendatangkan al-warid (pengetahuan/nur ilahi) kepada anda hanya agar dengannya Anda menghadap kepada-Nya.”  

Ulama sufi menjelaskan, maksud al-warid adalah nur ilahi yang Allah datangkan pada hati manusia.

Perbedaan antara Pengetahuan Akal dan Nur Ilahi

Lalu apa bedanya al-warid (sesuatu yang datang di hati) ini dengan sesuatu yang datang di hati atau akal lantaran proses belajar, mendengarkan guru atau membaca kitab? Sebab keduanya sama-sama datang membawa pengetahuan baru?

Dalam hal ini Syaikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi secara panjang lebar menerangkan, bahwa pengetahuan yang datang lantaran proses belajar, mendengarkan guru atau membaca kitab, terkadang baik dan terkadang buruk, terkadang berupa prasangka yang keliru dan terkadang berupa suatu hakikat yang benar. Dalam kondisi pengetahuan itu benar, maka ia akan tersimpan di akal dan tidak berguna bagi pemiliknya kecuali hanya menjadi setitik pengetahuan saja, meskipun terkadang bisa merasuk ke hati dan menuntun pemiliknya untuk bertindak dan bersikap sesuai dengannya.

Lain halnya dengan al-warid yang dimaksud dalam kalam hikmah ini. Maksud al-warid ini adalah karunia Allah berupa pengetahuan atau nur ilahi yang datang ke hati tanpa perantara proses belajar, mendengar arahan guru atau membaca kitab. Al-warid ini pasti baik karena langsung datang dari pemberian Allah Ta’ala. Ia juga tidak hanya menjadi setitik pengetahuan di kepala, namun menghujam ke hati dan menyadarkannya dari kelalaian.

Sebagaimana orang yang sibuk bergelut dengan berbagai urusan duniawi, kemudian tiba-tiba hatinya sadar bahwa hakikatnya urusan-urusan duniawi hanyalah bersifat sementara dan tidak layak menguras habis seluruh tenaga dan perhatiannya. Ketika tergerak untuk mengingat Allah kemudian bahkan ia sadar bahwa urusan-urusan duniawi itu hanyalah seonggok sampah belaka, sehingga sirnalah kecintaan duniawi dari hatinya. Inilah contoh nur ilahi yang telah menghujam hati.

Urgensi Nur Ilahi

Lalu apa sebenarnya urgensi nur ilahi bagi manusia? Dalam konteks ini Ibn ‘Athaillah as-Sakandari mengatakan:

لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.

“Agar dengannya Anda menghadap kepada-Nya.” 

Nur ilahi sangat urgen bagi manusia dan berfungsi sebagai media agar dapat menuju Allah Ta’ala, dimana perjalanan menuju Allah Ta’ala tidak dilakukan dengan menempuk jarak sekian jauh, akan tetapi hanya dengan menghadapnya hati kepada-Nya dengan penuh kecintaan, penghormatan dan pengagungan. Hatipun tidak akan mampu melakukannya kecuali setelah terbebaskan dari ketergantungan terhadap harta, syahwat, pangkat dan urusan-urusan duniawi lainnya, yang tidak akan selamat darinya kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Allah Ta’ala, seiring firman-Nya:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (119) [هود: 118-119)

“Dan andaikan Tuhanmu menghendaki niscaya ia jadikan manusia satu umat dan mereka tidak akan berbeda-beda, kecuali orang yang dirahmati Tuhannya. Karena demikian itulah Tuhanmu menciptakan mereka, dan kalimat Tuhanmu telah sempurna, niscaya Ia akan penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya.” (QS. Hud: 118-119)

Baca Juga: Amal yang Menghidupkan Hati

Sumber:

  1. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam dalam Ib’ad al-Ghumam, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), I/102.
  2. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Hikam al-‘Athaiyyah Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), II/249-252.

More articles

Terbaru

Doa Sholat Tahajud, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa Sholat Tahajud memiliki banyak sekali manfaat dan keutamaan. Tentunya akan semakin memperkuat semua niat dan tujuan kita...

Niat Sholat Tahajud dan Keutamaannya

Sholat Tahajud atau yang biasa kita kenal dengan Sholat malam merupakan salah satu sholat sunnah yang sangat dianjurkan, lazimnya dilaksanakan di sepertiga...

Sayyid Gus Dur Dan Sayyid Millennial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagergunung, 27 Desember 2019 Gus Dur itu Sayyid. Sayyid sejati. Sebab yang berhak mengenakan gelar sayyid...

Gus Dur, Al-Muhallab Dan Dedikasi Generasi Milenial

Oleh: Ahmad Muntaha AMPagi dingin di Pagergunung, 28 Desember 2019 Ini sedang baca-baca karya al Muhallab : al Mukhtashar...

Nafkah wajib istri termasuk kuota internet & make up nih ?

Memenuhi kebutuhan istri merupakan kewajiban utama seorang suami. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan materi, tapi juga kebutuhan non-materi. Selain mencukupi kebutuhan istri, seorang suami...