Urgensi Ilmu Fikih dan Keutamaan Ahlinya (Bagian Pertama)

0
397

وروي عن النبي صلى الله عليه وسلم كما رواه أبو نعيم من أبي هريرة أنه قال خيار أمتي علماؤها العاملون بعلمهم وخيار علمائها فقهاؤها و في رواية رحماؤها لكثرة النفع بهم و نشر العلم عنهم

Orang-orang pilihan dari umatku adalah para ulama yang mengamalkan ilmunya. Dan orang-orang pilihan dari para ulama tersebut adalah ulama fikih. Dalam riwayat lain disebutkan “mereka yang paling berbelas kasih”. Karena banyaknya kemanfaatan mereka untuk umat dan tersebarnya ilmu dari mereka.

وروى معاذ بن رفاعة عن إبراهيم بن عبد الرحمن العذري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليحمل هذا العلم يعني علم الدين من كل خلف عدوله ينفون عنه اي عن الدين بعلمهم تحريف الغاليين و انتحال المبطلين وتأويل الجاهلين باهوائهم من غير اصل يبتنى عليه ويقاس به

Nabi bersabda: “Ilmu agama ini pasti akan dibawa oleh oleh orang-orang adil dari setiap generasi. Yang dengan ilmunya akan menghalau penyelewengan dari orang-orang yang melampaui batas, pembelokan makna oleh orang-orang yang sesat, dan penafsiran orang-orang bodoh yang mengikuti hawa nafsu tanpa dasar dalil dan analogi yang benar.”

Akan tetapi, hadis ini bukan jaminan bahwa yang mempelajari fikih pastilah orang adil dan tidak akan menyeleweng. Akan tetapi hadis tersebut sebagai jaminan dari nabi bahwa akan selalu ada orang yang benar dan jujur secara ilmiyah pada setiap generasi untuk mengajarkan tuntunan agama yang benar pada generasi berikutnya.

Ketika terjadi perpecahan dan banyak perbedaan pendapat, Nabi memerintahkan agar mengikuti jumhur ulama atau assawadul a’dzom.

Dikutip dari kitab Risalah Ahlussunah Wal Jamaah karya Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari: as-sawadul a’dzom adalah para ulama yang sangat agung dan mulia. Mereka adalah para ulama umat Islam mayoritas pengikut empat imam madzhab mu’tabaroh.

Imam Bukhori bermazhab Syafi’i dari jalur Imam Humaidi, Imam Za’faroni, dan Imam Karobisi. Imam Syibli bermazhab Maliki. Imam Muhasibi bermadzhab Syafi’i. Imam Jarir bermadzhab Hanafi, Syaikh Abdul Qadir bermadzhab Hambali, Imam Syadzili bermadzhab Maliki.

Dan berikut ini adalah penjelasan lain tentang as-sawadu al-a’dzom menurut petunjuk Nabi dan jumhur ulama.

Sabda Nabi Shalallahu’alaihiwasallam;

ﺇِﻥَّ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻟَﺎ ﺗَﺠْﺘَﻤِﻊُ ﻋَﻠَﻰ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔٍ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢْ ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻓًﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺴَّﻮَﺍﺩِ ﺍﻟْﺄَﻋْﻈَﻢِ

Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Sekiranya kamu lihat perselisihan, maka hendaklah kamu mengikuti ‘as-sawad al-‘adzom’.” (H.R. Ibnu Majah: 3940)

Dalam menafsirkan maksud sawadul a’dzom, kitab as-Sindi menerangkan;

ﺃَﻱْ ﺑِﺎﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟْﻜَﺜِﻴﺮَﺓ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻗﻬﻢْ ﺃَﻗْﺮَﺏ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺟْﻤَﺎﻉ

Maksudnya: “Jama’ah yang banyak (Jumlahnya). Karena kesepakatan mereka itu lebih mendekati kepada ijma.” (Hasyiah As-Sindi: 3942)

Sementara Imam As-Suyuti dalam menafsirkan sawadul a’dzom menjelaskan;

ﺃَﻱْ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﻭَﻣُﻌْﻈَﻤﻬﻢْ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺠْﺘَﻤِﻌُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻠُﻮﻙ ﺍﻟْﻤَﻨْﻬَﺞ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘِﻴﻢ ﻭَﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﻳَﺪُﻝّ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞ ﺑِﻘَﻮْﻝِ ﺍﻟْﺠُﻤْﻬُﻮﺭ

Maksudnya: “Ia adalah himpunan manusia dan kebanyakan mereka bersepakat melalui jalan yang betul. Hadis itu menunjukkan bahwa selayaknya beramal dengan perkataan mayoritas ulama.” (Hasyiah As-Sindi : 3940)

Syaikh Al-Munawi juga berkata:

ﻓﻌﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﺴﻮﺍﺩ ﺍﻷعظم ‏- ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺃﻱ ﺍﻟﺰﻣﻮﺍ ﻣﺘﺎﺑﻌﺔ ﺟﻤﺎﻫﻴﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﺤﻖ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻭﺍﻟﻔﺮﺽ ﺍﻟﺜﺎﺑﺖ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺧﻼﻓﻪ ﻓﻤﻦ ﺧﺎﻟﻒ ﻣﺎﺕ ﻣﻴﺘﺔ ﺟﺎﻫﻠﻴﺔ

Maksudnya: “(Hendaklah kamu ikut sawadul a’dzom dari pemeluk agama Islam) maksudnya, mantapkan ikuti pendapat mayoritas orang Islam. Karena hal tersebut adalah kebenaran yang wajib dan fardhu yang pasti, yang tidak boleh disalahi. Barangsiapa menyalahinya, kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.” (Syaikh al-Munawi, Faidhul Qadir, [Maktabah Syamilah, tt], juz 2, halaman 547.)

Wallahu a’lam

Materi kajian kitab Minhajul Yaqin karya Syaikh Uways Wafa Al-Arzinjani pertemuan keempat. Oleh Ning Dalliya HQ. Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, pengasuh pondok pesantren Fasihuddin, Pasirputih, Sawangan, Depok, di fanspage Aswajamuda Kamis 03 September 2020 M.