Oleh: Ahmad Muntaha AM   

Ibn ‘Athailllah as-Sakandari mengatakan:  

لَا صَغِيرَةَ إِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ وَلَا كَبِيرَةَ إِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ.

“Tidak ada dosa kecil ketika keadilan Tuhan mendatangimu dan tidak ada dosa besar ketika anugerah Tuhan menghadap kepadamu.” 

Dosa kecil adalah dosa yang tidak terdapat ancaman siksa atau hukuman(had)nya dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah; sebaliknya dosa besar merupakan dosa yang terdapat ancaman siksa atau hukuman(had)nya di dalam keduanya. Demikian ini pemahaman lahiriahnya. Lain halnya dengan hakikatnya di sisi Allah dan dengan mempertimbangkan sifat kemurahan dan keadilan-Nya.  

Dosa yang secara lahiriah tergolong sebagai dosa kecil karena keadilan Allah bisa menjadi dosa besar. Sebab ketika keadilan Allah benar-benar ditegakkan pada seorang hamba, maka Allah pasti menghukumnya atas dosa yang sekecil-kecilnya, tidak akan ada yang terlewat sedikitpun dari hukuman-Nya. Sebaliknya, dosa yang secara lahiriah tergolong sebagai dosa besar karena kemurahan Allah akan menjadi dosa kecil. Sebab ketika kemurahan Allah yang sangat luas tercurah pada seorang hamba, maka dosa-dosa besarnya akan berganti menjadi dosa-dosa kecil. Demikianlah, terkadang yang lahiriah bisa jadi berbeda dengan yang senyatanya di sisi Allah Swt. Dalam al-Qur’an Allah Swt berfirman: 

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسبُونَ (الزمر: 47)

“Dan menjadi jelas bagi mereka di sisi Allah apa yang tidak mereka sangkakan.” (QS. Az-Zumar: 79) 

Dalam konteks ini Abu al-Hasan as-Syadzili merintihkan doa: 

اَللهم اجْعَلْ سَيِّئَاتِنَا سَيِّئَاتِ مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَا تَجْعَلْ حَسَنَاتِنَا حَسَنَاتِ مَنْ أَبْغَضْتَ.

“Ya Allah, jadikanlah keburukan-keburukanku sebagaimana keburukan orang yang Engkau cintai dan jangan jadikan kebaikan-kebaikanku sebagaiamana kebaikan orang yang Engkau murkai.” 

Kedahsyatan Kemurahan Allah bagi Hamba-Nya

Kemurahan dan rahmat Allah yang sangat agung tertuang dalam kisah salah seorang umat Rasulullah Saw dalam sabdanya:  

“Pada hari kiamat seseorang dari umatku dipanggil (Allah) di tengah-tengah manusia, lalu dibentangkan kepadanya 99 buku besar catatan amal, setiap buku (lebarnya) sejauh pandangan matalalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Apakah kammengingkari (buku catatan amal) ini?” Orang itu menjawab: “Tidak wahai Tuhanku.” Allah berfirman: “Apakah malaikat al-Hafizun pencatat amal-Ku menzalimimu?” Ia menjawab: “Tidak wahai Tuhanku.” Allah berfirman: “Apakah kamu punya alasan, apakah kamu punya kebaikan?” Maka ketakutanlah orang itu lalu menjawab: “Tidak.” Allah berfirman: “Ya (kamu punya kebaikan di sisiku, dan sungguh tidak akan ada kezaliman terhadapu hari ini.” Lalu dikeluarkan kepadanya secuil kertas yang di dalamnya tercatat: “Asyhadu allaa ilaaha illallaah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.” Orang itu menanyakan: “Wahai Tuhanku, apa arti secuil kertas ini dibandingkan dengan kitab-kitab catatan amal (keburukan yang sangat banyak itu)?” Allah berfirman: “Sungguh kamu tidak akan dizalimi.” Lalu kitab-kitab catatan amal itu diletakkan di piring timbangan yang satu dan secuil kertas itu diletakkan di piring timbangan lainnya, kemudian ringan(naiklah) kitab-kitab catatan amal itu dan berat(turun)lah secuil kertas itu.” (HR. Ibn Majah, at-Tirmidzi dan al-Hakim. Shahih)

Baca Juga: Dosa pun Lebih Baik bagi Orang Beriman


Sumber: 

  1. AbdulMajid as-Syarnubi, Syarh Hikam al-‘Athaiyyah, 58. 
  2. Ibn‘Ujaibah, Iqazh al-Himam fi Syarh Matn al-Hikam pada Ib’ad al-Ghumam(Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), I/100-101. 

Photo by Lewis Burrows from Pexels