Pernahkah kita menganggap remeh orang lain, hanya karena pekerjaan yang kita pandang sebelah mata? Pemulung, tukang sapu, kuli bangunan dan semisalnya?

Bagaimana teladan Nabi Muhammad Saw dalam bergaul dengan sesama, terlebih dengan orang-orang yang sering dipandang sebelah mata?

Alkisah, pada masa Nabi Saw, salah seorang sahabat bernama Umi Mihjan, wanita berkulit gelap yang kebetulan mendedikasikan dirinya sebagai penyapu masjid meninggal dunia di malam gulita.

Para sahabat lain yang mengetahui kewafatannya pun segera mengurus jenazahnya dan memakamkannya pada malam itu juga, tanpa mengabari Nabi Saw. Seolah-olah mereka menganggap Umi Mihjan bukan orang penting yang kewafatannya perlu diberitakan kepada beliau. Lebih penting tidak membangunkan Nabi Saw dari tidurnya karena sekedar memberitakan kematian wanita miskin yang tidak terpandang.

Pagi hari ketika dikabari, Nabi Saw langsung menegur: “Kenapa kalian tidak mengabariku tadi malam? Tunjukkan Aku pada kuburannya!”

Tanpa menunggu lama Nabi Saw pun segera menuju ke sana dan menyolatinya.

Demikianlah teladan Nabi Saw dalam bergaul terhadap sesama. Orang-orang ‘tersisih’, miskin dan tidak terpandang pun mendapatkan perhatiannya.

Secara lebih luas Imam an-Nawawi, membahasakan: “Dalam hadits ini terdapat penjelasan teladan kerendahhatian dan kasih sayang Nabi Saw terhadap umatnya, perhatian dengan berbagai kondisinya, memenuhi hak-haknya dan sangat memikirkan kemaslahatan dunia akhirat mereka.”

Oleh:
Ahmad Muntaha AM

___
Sumber: Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, (Bairut: Dar Ihya at Turats al ‘Arabi, 1329 H), VII/25 serta beberapa kitab hadits dan biografi sahabat lainnya.

Ilustrasi: Wak Min – kitabisa.com/sepedamarbot