Hakikat Tawakal: Jadilah Seperti Burung

0
146
tawakal

Oleh: Habib Mas Ahmad Gholib Basyaiban (PP Ibrahim Sidosermo Dalam, Surabaya)

Tawakal, Hakikatnya Apa ?

Makhluk paling tawakal kepada Allah adalah burung, sedangkan yang paling tamak adalah semut. Demikian riwayat dari sebagian ulama. Sementara hakikat tawakal sendiri adalah kemantapan hati terhadap Dzat yang diserahi segala sesuatu, yakni Allah yang Maha Kekal nan Abadi, sekira hati terasa tenang,  jauh dari kebingungan ketika berbagai sebab-sebab duniawi sulit terwujud, karena yakin dan percaya kepada Dzat yang maha menciptakan segala sebab.

Dalam konteks ini wali agung dan tokoh utama generasi tabi’in Sayyidina Uwais al-Qarani (w. 37H/657M) berujar:

لَوْ عَبَدْتَ اللهَ عِبَادَةَ أَهْلِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا يُقْبَلُ مِنْكَ حَتَّى تَكُوْنَ أَمِنًا بِمَا تَكَفَّلَ اللهُ مِنْ أَمْرِ رِزْقِكَ وَتَرَى جَسَدَكَ فَارِغًا لِعِبَادَتِهِ. قَالَ تَعَالَى وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوْا اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ (المائدة: 23).

“Andaikan engkau beribadah kepada Allah sebagaimana ibadahnya penghuni langit dan bumi, maka ibadahmu tidak akan diterima darimu sehingga engkau percaya terlebih dulu dengan urusan rejekimu yang telah dijamin oleh Allah dan engkau lihat tubuhmu memiliki waktu luang ( yang banyak) untuk beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian semua bertawakal, jika kalian semua benar-benar orang beriman.’ (QS. al-Maidah: 23).”

Tawakal Tidak Berarti Meninggalkan Usaha

Lalu apakah anjuran bertawakal berarti meninggalkan usaha? Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا. (رواه الترمذي وقال: حديث حسن)

“Seandainya kalian semua bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi kalian rejeki sebagaimana Allah memberi rejeki pada burung. Burung keluar (mencari makan) di waktu pagi dalam kedaan perut kosong dan pulang di waktu sore dalam kondisi kenyang.” (HR. at-Tirmidzi dan ia berkata: “Ini hadits hasan.”)

Baca Juga: Menghormati Ulama Dengan Membungkuk, Bolehkah ?

Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallammenuturkan bahwa burung pergi di pagi hari dan pulang di sore hari demi mencari rejeki, tidak berpangku tangan dan bermalas-malasan. Secara lebih luas hadits tersebut berarti apabila manusia bersandar kepada pemberian Allah saat pulang pergi mencari rejeki, dan yakin bahwa kebaikan hanya berada di bawah kekuasaan Allah, maka ia tidak akan pulang terkecuali meraih kesuksesan dan keselamatan. Sikap tawakal kepada Allah seperti itu akan mencukupi dirinya, sehingga sebenarnya ia tidak butuh menyimpan harta, sebagaimana burung yang juga tidak mempunyai simpanan makanan. Namun, umumnya manusia bersandar pada kekuatan dan usahanya sendiri, yang justru bertolak belakang dengan hakikat tawakal yang sebenarnya.

Jawaban Imam Ahmad Tentang Orang Malas

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (XI/305-306) mengisahkan, suatu kali Imam  Ahmad pernah ditanya tentang orang yang hanya diam berpangku tangan di rumah atau beribadah di masjid saja tanpa berusaha mencari rejeki yang bergumam: “Aku tidak akan bekerja apapun sampai rejekiku yang mendatangiku.” Lalu apa jawab Imam Ahmad? Penuh ketegasan beliau menyeru:

هَذَا رَجُلٌ جَهِلَ الْعِلْمَ.

“Orang ini tidak tahu ilmu.”

Bahkan lanjut Imam Ahmad, tidakkah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallamjelas-jelas bersabda:

وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي. (رواه البخاري)

“Sungguh Allah jadikan mayoritas rejekiku di bawah bayangan tombakku.” (HR.al-Bukhari)

Artinya, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallampun tidak berpangku tangan namun tetap berusaha mengais rejeki dengan berbagai cara halal tentunya.

Baca Juga: Kaya Hati Bukan Kaya Duniawi

Jadi jelas, tawakal bukan berarti meninggalkan usaha mengais rejeki sama sekali. Akan tetapi tawakal adalah mentalitas hati dalam kepasrahan penuh terhadap Allah, sembari secara lahiriah tetap mengais rejeki. Tawakal di hati, bekerja semampu diri.

_____

Keterangan:

  1. Sumber: Nawawi al-Jawi, Kasyifah as-Saja Syarh Safinah an-Naja,(ttp.: Dar Ibn Hazm, tth.), 69-70 dan Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H), XI/305-306.
  2. Diedit oleh: Ahmad Muntaha AM.
  3. Ilustrasi: insider
SHARE
Previous articleAnak Rohingya, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Siap Menampung
Next articleHikmah Pergaulan (Hikam-32)
Pengasuh PP Ibrahim Sidosermo Sidosermo Dalam No 32 - Wonocolo - Surabaya. Alumni PP Al-Falah Ploso Kediri (1993-2000). PP Roudlotul Ihsan Petuk Semen Kediri. Wakil Ketua PC LBM NU Surabaya (2015-2017). Divisi Kiswah Aswaja NU Center Jatim (2014-Sekarang). Aktifis Aswaja Surabaya. Penerjemah buku NU Menjawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here