Persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini berada pada satu titik yaitu krisis spiritualitas.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme ternyata membawa manusia pada kehidupan modern dimana sekularisme menjadi mentalitas zaman

 

            [4]Munculnya berbagai krisis manusia modern sesungguhnya bersumber pada masalah makna. Modernisme dengan kemajuan teknologi dan pesatnya industrialisasi dapat menciptakan manusia meraih kehidupan dengan perubahan yang luar biasa. Namun, seiring dengan logika dan orientasi modern, kerja dan materi lantas menjadi aktualisasi kehidupan masyarakat dan gagasan tentang makna hidup terhancurkan. Implikasinya, manusia kemudian menjadi bagian mesin yang mati. Masyarakat lantas tergiring pada proses penyamaan diri dengan segala materi serta pendalaman keterbelakangan mentalitas. Manusia semakin terbawa arus deras desakralisasi, dehumanisasi, karena ia selalu disibukkan oleh pergulatan tentang subyek positif dan hal yang empiris.

             Memang di satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia. Namun pada sisi lain, juga tidak dapat ditampik bahwa modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias. Dampak paling krusial dari modernitas adalah terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensi. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasarkan pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spiritualitas dirinya terpinggirkan. Maka, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan[1].

             Inilah yang kemudian pada sisi kenyataan lain, memunculkan bahwa spiritualitas semakin mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat modern dewasa ini. Fenomena keagamaan ini sangat menarik untuk dicermati, karena akhir-akhir ini terdapat pula kecendeungan “rekonsiliasi” antara nilai sufistik dengan dunia modern. Ada kecenderungan baru bahwa dimensi spiritualitas yang bersumber dari agama mulai dilirik kembali oleh masyarakat modern, karena kemajuan seperti dalam bidang iptek membuktikan bahwa problema yang muncul kemudian akibat kemajuan dunia global tetap saja belum terpecahkan. Kegagalan manusia modern, ternyata oleh banyak pengamat hampir sepakat mengatakan bahwa krisis besar melanda umat manusia tidak akan dapat diatasi dengan keunggulan iptek sendiri dan kebesaran ideologi yang dianut oleh negara-negara terkemuka.

             Ekses negatif dari modernisme telah menjadi salah satu pemicu bagi memekarnya hasrat pada spiritualitas termasuk pengkajian kembali terhadap tasawuf. Ketika seluruh kehidupan menjadi begitu melelahkan dan kebudayaan justru melahirkan kegersangan ruhaniah, terjadilah pendulum balik, spiritualitas menjadi sangat digemari oleh mereka yang dahulu menolak prinsip-prinsip rohani dalam hidup. Manusia lantas menggandrungi kearifan tradisional yang menjanjikan pengembalian manusia pada fitrah dan mengembangkan hidup yang bermakna.

             Dalam konteks ini, Saya (Kyai Sa’id) ingin menegaskan bahwa persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini berada pada satu titik yaitu krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme ternyata membawa manusia pada kehidupan modern dimana sekularisme menjadi mentalitas zaman dan karena itu spiritualisme menjadi semacam antagonisme bagi kehidupan modern.

             Tasawuf memang sering mendapatkan kritikan dan tuduhan menyakitkan. Beberapa orientalis dan pemikir muslim sendiri tidak sedikit yang menuduh tasawuf menjadi biang kemunduran peradaban Islam. Tasawuf dituduh sebagai ‘virus’ yang menghambat kemajuan dan menyebabkan ketertinggalan dunia muslim dalam kancah peradaban modern. Ajaran dan doktrin-doktrin tasawuf dianggap tidak relevan dengan spirit era global dan modernisme. Begitupun, kelompok-kelompok Islam puritan menganggap tasawuf sebagai bid’ah dan khurafat yang menyesatkan, seperti kita lihat akhir-akhir ini dengan kemunculan kelompok-kelompok Islam radikal-puritan/salafi-wahabi. Padahal bila kita baca dalam sejarah, banyak para sufi dikenal dengan keilmuannya yang ensiklopedis. Kita bisa sebutkan seperti Syeikh Sahl at-Tasturi[2], sufi yang ahli tafsir. Syeikh ibn Arabi[3], sufi yang mengedepankan tasawuf-falsafi dikenal pula sebagai ahli tafsir dan hadits. Syeikh ibnul Farid dan Syekh Fariduddin Al-Aththar adalah dua figur sufi yang dikenal luas sebagai sastrawan.

             Banyak sarjana-sarjana muslim yang menyatakan bahwa apa yang disebut tasawuf tak lebih dari etika Islam. Karenanya, tasawuf cukup saja diberi label sebagai moralitas Islam. Tujuan tasawuf dalam hal ini adalah sama dengan tugas Nabi Muhammad saw, yaitu: “Tidaklah aku diutus kecuali hanya untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.”

             Menurut hemat saya, pendapat tersebut tidak benar. Cakupan tasawuf bukan sekedar etika, tapi lebih penting dari itu tasawuf mengurai dan berkecimpung dalam wilayah estetika. Tasawuf tidak lagi bicara soal baik buruk, tapi berbicara tentang sesuatu yang indah. Ia selalu mengaitkan dengan jiwa, ruh dan institusi. Ia tidak hanya membangun dunia yang bermoral, tapi juga sebuah dunia yang indah dan penuh makna.

             Tasawuf melampaui apa yang diserap oleh pikiran, perilaku dan perasaan manusia secara penampakan. Tasawuf tidak bisa diturunkan derajatnya hanya semata perbuatan yang secara lahiriyah sebagai kebajikan seperti bersedekah atau kebajikan sosial lainnya. Bukan pula, tasawuf diidentikkan secara ekstrem sebagai wahana untuk memperbanyak ibadah (katsrah al-ibadah) khususnya yang sifatnya ritual. Tarekat pun yang dipandang sebagai pelembagaan dari praktik tasawuf tidak mesti disejajarkan dengan makna tasawuf. Apalagi tasawuf kemudian disamakan dengan ilmu hikmah yang berfungsi sebagai pengobatan dan penyembuhan segala problem konkrit manusia yang lebih bersifat instan. Misalnya karya Imam Ali Al-Buni yaitu kitab Syamsul Al-Ma’arif atau juga karya Imam Ad-Dairabi yaitu kitab Al-Mujarrabat.

             Tasawuf bukan pula spiritualitas yang sekedar menjadi tempat pengasingan diri. Tasawuf berusaha menampilkan visi keagamaan yang otentik yang mengarahkan diri untuk melampaui diri. Sebuah visi yang tepat dalam menafsirkan dunia, dunuia lain di luar dunia ini yang mungkin ada dan melingkupi seluruh realitas. Sebuah komitmen yang lebih besar dari sekedar tujuan perkembangan pribadi dan spiritualitas semata. Sebuah obsesi yang lebih tinggi dari sekedar pemahaman hidup di dunia dan materi. Karena tasawuf merupakan bentuk dari ajaran Islam itu sendiri, maka ia banyak menjanjikan untuk memenuhi hasrat hidup manusia seutuhnya dari pada janji-janji spiritualitasisme sekejap. Ia bukan hanya untuk memahami eksistensi dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi, yaitu kehadiran Allah (tajalli).

             Tasawuf sesunguhnya nberdiri pada dua asas. Pertama, sebagai pelatihan batin (tajribah bathiniyah). Yaitu berusaha membangun hubungan langsung antara hamba dan Allah melalui pelatihan spiritual yang intensif dan mendalam. Di sini sufi melalui pendakian dalam tingkatan maqam dan pencapaian ahwal. Kedua, imkan al-ittihad, yaitu kemungkinan kebersatuan antara sufi dan Allah secara rasa (dzauq). Di sini, sufi memperkuat wujud yang mutlak yang mencakup semua wujud, sehingga sampai pada perasaan tidak ada yang ada kecuali hanyalah Allah.

             Para sufi telah meletakkan dasar-dasar keilmuan dan terminologi serta metode seperti maqamat, ahwal, ilm al qulub, ilm asrar, ilm haqiqah, ilm mukasyafah, fana’, hulul, ittihad dan ma’rifat. Penting diketahui sebelumnya, dalam kesufian terdapat semacam rumusan misalnya, seperti kata Syekh Abu Sulaiman Ad-Darani (w. 215 H) bahwa Allah seringkali menganugerahkan kasyf kepada seseorang disaat dia tidur di atas dipan, bukan justru di saat dia sedang shalat. Bagi sufi, seorang yang zuhud dan abid tidak akan mendapatkan ‘nur’ kecuali dengan melepaskan semuanya hanya tertuju semata kepada Allah. Sedang seseorang tidak akan mampu menjadi zuhud kecuali ada nur dalam hatinya.

             Iman seseorang terbagi menjadi dua maqam, yaitu maqamul amilin yaitu maqamnya orang yang sibuk dengan dirinya mengasingkan diri dari manusia, dan maqamul arifin yaitu maqamnya orang yang sibuk dengan Tuhannya mengasingkan diri dari dirinya sendiri.

             Dalam kaitan ini pula, saya mengawali dengan menjelaskan istilah “Masyarakat Modern” sendiri dalam kajian akademis selama ini. istilah “masyarakat modern” terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Istilah masyarakat dalam bahasa inggris disebut society yang asal katanya socius yang berarti kawan. Dalam ilmu antropologi, masyarakat didefinisikan sebagai kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat terus menerus (continue) dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama, atau sejumlah orang dalam keompok tertentu yang membentuk perikehidupan berbudaya. Menyitir Hasan Shadily, masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari beberapa manusia yang dengan sendirinya bertalian secara golongan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Adapun kata modern dalam KBBI diartikan dengan terkini, mutakhir dan terbaru.

             Demikianlah, masyarakat modern adalah sekelompok manusia yang hidup dalam kebersamaan yang saling mempengaruhi dan saling terkait dengan norma-norma serta sebagian besar anggotanya mempunyai orientasi nilai budaya untuk menuju kehiodupan yang lebih maju. Pengertian masyarakat modern dapat dikatakan bahwa masyarakat modern adalah masyarakat the city, yaitu masyarakat yang telah menjadi sekuler.

bersambung..


[1] Komaruddin Hidayat dan Wahyuni Nafis, “Agama Masa Depan, Perspektif Filsafat Perennial”, (Jakarta: Paramadina, 1995)

[2] Abu Muhammad Sahl bin Abdullah bin Yunus at-Tasturi (w. 283 H), Lihat, Thabaqat ash-Shufiyah, Abi Abd ar-Rahman as-Sulami, editor Nur ad-Din Syuraibah, (Cairo: Maktabah al-Khonji, 1406 H), Cet. III, h. 15.

[3] Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Hatimi, at-Thai, al-Mursi, al-Andalusi (560-638 H).

[4] Sumber Tulisan: Tasawuf Sebagai Revolusi Spiritual dalam Kehidupan Masyarakat Modern, Pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA dalam bidang tasawuf pada fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya 2014.

[5] Sumber Gambar: http://hidayaresearch.com/wp-content/uploads/2011/08/salat.jpg