Penamaan tasawuf belum dikenal pada abad permulaan hijriyah. Tasawuf baru dikenal sebagai sebuah nama atau sebagai disiplin yang melembaga pada sekitar abad kedua hijriyah.

Namun demikian, secara factual nilai-nilai tasawuf itu sendiri adalah sesuatu yang diajarkan oleh rasulullah kepada para sahabatnya

 

KEMUNCULAN DAN TUMBUH KEMBANG

 

             [1]Tasawuf adalah disiplin keilmuan dan praktik spiritual yang dilengkapi dengan leksikon teknis, wacana dan teori-teori yang dikendalikan dengan ketat. Gaya hidup religiusnya bersifat individual maupun sosial dalam proses mewujudkan kebenaran spiritual. Kebenaran spiritual itulah yang akhirnya membawa berbagai varian dan berkembang secara luar biasa yang acapkali memancing kecurigaan dari sayap pemikiran lain. Dicurigai, karena kehadirannya identik dengan misteri besar dalam habitat keilmuan keislaman. Dan dipercayai, karena dia memasuki wilayah otoritas keagamaan, apalagi menawarkan kedamaian dan kebenaran esoteric.

             Penamaan tasawuf belum dikenal pada abad permulaan hijriyah. Tasawuf baru dikenal sebagai sebuah nama atau sebagai disiplin yang melembaga pada sekitar abad kedua hijriyah. Namun demikian, secara factual nilai-nilai tasawuf itu sendiri adalah sesuatu yang diajarkan oleh rasulullah kepada para sahabatnya. Oleh karena itu, dalam pandangan abu nashr as-sarraj, penyebutan istilah tasawuf sebenarnya sudah dikenal di kalangan sahabat rasulullah saw. As-Sarraj membantah pendapat yang menyebutkan bahwa istilah tasawuf pertama kali dimunculkan oleh para ulama Baghdad. Dengan berdasarkan pernyataan imam al-Hasan al-bashri sebagai seorang tabi’in (110 H), beliau berkata: suatu hari aku melihat seorang sufi sedang melaksanakan thawaf, aku beri sesuatu kepadanya dan ia menolaknya. Sedangkan imam al-Hasan al-Bashri sendiri hidup semasa para sahabat rasulullah saw.

             Para peneliti sepakat bahwa kata sufi pertama disandangkan kepada Jabir bin Hayyan al-Azdi (100-161 H), Abu Hasyim al-Kufi (w. 150 H) dan Addak Abdul Karim (210 H). Jabir bin Hayyan dikenal sebagai ahli kimia, zuhud, berpantang dari syahwat dan vegetarian yang bermadzhab Syi’ah. Karya-karyanya sangat banyak berkisar tentang kimia, fisika hingga masalah jimat dan rajah. Sedangkan abu Hasyim dikenal sebagai ensiklopedis, pengembang teori zuhud, wara’ dan tawakkal yang lahir dari lingkungan madzhab sunni dan juga ahli menulis puisi. Imam sufyan ats-Tsauri bahkan baru memahami makna riya’ dari Abu Hasyim yang mempunyai kaidah ada’u al-amal li ajli an-nas syirkun, wa tarkuhu li ajli an-nas riya’un, menjalankan amal karena manusia adalah syirik dan meninggalkan karena manusia adalah riya’. Sementara, Abdak adalah sosok aktivis Syiah di Kufah dan wafat di Baghdad (210 H) yang dikenal zuhud, ensiklopedis dan mempunyai pendapat bahwa dunia ini haram, hanya untuk sekedar bertahan hidup sampai datangnya imam yang adil, barulah dunia ini menjadi halal.

             Tiga tokoh di atas adalah yang pertama kali mendapatkan sematan sebagai sufi. Adapun tokoh-tokoh yang pertama kali dipandang sebagai tokoh sufi adalah Dzunnun al-Mishri, Abu Yazid al-Bushtami dan al-Hallaj.

             Tentang sejarah timbul nama tasawuf, ada berbagai pendapat. Satu pendapat mengatakan bahwa asal penamaan tasawuf disandarkan kepada ahl ash-shuffah, yaitu sebuah komunitas sahabat rasulullah dari kaum Muhajirin yang selalu berdiam diri di masjid Nabawi. Sifat-sifat para sahabat dari ahl ash-shuffah ini sangat khas, seperti zuhud, mementingkan orang lain, tidak banyak bergaul dengan khalayak, tidak terkait dengan kesenangan duniawi, dan hanya mementingkan akhirat. Hal ini yang memunculkan pendapat bahwa penamaan sufi sesungguhnya sudah muncul semenjak zaman rasulullah, dikarenakan sifat dan karakter mereka yang menyerupai para ahl ash-shuffah. Menurut ath-Thusi, para sufi merupakan sisa-sisa dari ahl ash-shuffah. Mereka adalah sebagian kecil sahabat yang tinggal di teras sisi kiri dari masjid Madinah. Pada umumnya mereka fakir dan tidak memiliki saudara yang menanggung biaya hidup.

             Pendapat lain mengatakan bahwa nama tasawuf diambil dari akar kata ash-Shuf yang berarti kain wol yang kasar. Penamaan ini diambil dari kebiasaan kaum sufi yang selalu memakai kain wol kasar karena sikap zuhud mereka. Pendapat lain juga mengatakan tasawuf diambil dari akar kata shafa yang berarti suci murni. Pendapat lainnya mengatakan berasal dari akar kata ash-Shafyang berarti barisan. Pendapat terakhir ini secara filosofis untuk mengungkapkan bahwa komunitas sufi seakan berada di barisan terdepan diantara orang-orang Islam dalam kesucian hati dan dalam melakukan segala perintah Allah dan Rasulnya.

             Al-Hafidz abu nu’aim al-Isfahani mengatakan bahwa kemungkinan pengambilan nama tasawuf secara bahasa setidaknya berasal dari salah satu dari tiga hal. Walau demikian, tiga hal ini tidak hanya sebaai pengertian bahasa semata, namun juga secara hakikat merupakan kandungan dari nilai-nilai tasawuf itu sendiri. Artinya bahwa tiga hal ini termasuk diantara sifat-sifat yang dipegang teguh oleh kaum sufi.

             Pertama, kata tasawuf dapat berasal dari ash-shufanah yang berarti tanaman rerumputan atau semacam sayuran-sayuran, secara hakikat pengambilan nama tasawuf dari ash-shufanah ini adalah benar. Ini karena kaum sufi sedikitpun tidak pernah berharap kepada sesama makhluk. Mereka telah merasa cukup dan puas dengan apapun dan seberapapun rizki yang dikaruniakan oleh Allah kepada mereka. Diantara yang membenarkan pendapat ini adalah pernyataan sahabat Sa’ad ibn Abi Waqqash, bahwa ia berkata: Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang Arab yang pertama kali berperang dengan panah di jalan Allah. Dan kami telah berkali-kali berperang bersama rasulullah. Saat itu kami tidak memiliki makanan yang dapat kami makan, kecuali berasal dari dedaunan. Dalam keadaan itu kami tidak ubahnya seperti kambing-kambing.

             Kedua, kata tasawuf dapat berasal dari ash-shufah, yaitu nama salah satu kabilah Arab. Pengambilan nama tasawuf dari kata ini juga memiliki dasar yang cukup kuat. Karena kaum sufi adalah sebagai kaum yang memiliki identitas tersendiri yang khas di antara berbagai komunitas lainnya. Diantara cirri khaasnya ialah bahwa seluruh waktu yang mereka miliki dipergunakan hanya untuk ibdah kepada Allah.

             Ketiga, diambil dari kata ash-shuf dalam pengertian bulu domba. Hal ini karena umumnya kaum sufi memakai pakaian wol kasar yang berasal dari bulu domba. Keadaan ini menunjukkan sikap zuhud mereka. Karena kain wol yang berasal dari bulu domba semacam yang mereka pakai ini tidak membutuhkan biaya. Kain semacam itu juga menjadikan penggunanya sebagai orang yang memiliki sifat merendahkan diri, menghinakan diri, tawadhu’ qana’ah dan sifat-sifat khas lainnya. Hasan al-Bashri berkata: saya bertemu dengan tujuh puluh orang sahabat nabi yang telah ikut dalam perang Badar, dan saya tidak melihat pakaian mereka kecuali berasal dari kain wol.

             Dalam sejarah terdapat sekelompok orang dari suku mudlar, yang disebut dengan bani ash-shufah (keturunan-keturunan ash-shufah), dan ash-shufah ini adalah seorang yang nama aslinya al-Ghauts bin Murr. Disebutkan bahwa ibunda dari al-Ghauts tidak pernah punya anak laki-laki yang hidup. Kemudian ia bernadzar bisa melahirkan anak laki-laki dan hidup hingga dewasa maka ia akan selalu mengikatkan kain wol (shufah) pada kepala anak tersebut. Kemudian lahirlah al-ghauts, dan dari al-ghauts inilah kemudian lahir keturunan-keturunan yang dikenal bani ash-shufah. Hingga kemudian setelah datang agam islam maka mereka masuk ke dalam islam dan menjadi orang-orang shaleh ahli ibadah. Beberapa diantaranya adalah sahabat-sahabat rasulullah yang telah meriwayatkan hadits. Dari sini kemudian dikenal penamaan bagi orang-orang yang dekat dengan sahabatnabi dari bani ash-shufah tersebut, atau bergaul dengan mereka, atau bahkan yang hanya berpakaian dan ahli ibadah seperti mereka, bahwa mereka sebagai orang-orang sufi.

             Beberapa definisi tentang tasawuf dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Syeikh abu mahfudz ma’ruf al-Karkhi (w. 200 H) berkata, tasawuf adalah berusaha meraih hakekat dan meninggalkan segala apa yang berada di tangan para makhluk.
  2. Syeikh dzunun al-mishri berkata: sufi adalah orang yang mendahulukan Allah mengalahkan selain-Nya, maka Allah akan mendahulukan dia mengalahkan lainnya.
  3. Syeikh abu yazid al-bustami berkata, Tasawuf adalah sifat al-haq (Allah) dipakai oleh makhluk.
  4. Imam al-junaid al-baghdadi berkata, tasawuf adalah ibadah kepada Allah hanya karena Allah semata bukan karena mengharap pahala atau menghindari siksa.
  5. Imam abu al-husain an-Nauri ketika ditanya tentang definisi tasawuf, dengan sangat simple menjawab, tasawuf adalah meninggalkan segala keinginan hawa nafsu. Imam abu al ar-raudzabari, ketika ditanya siapakah seorang sufi, beliau berkata, dia adalah seorang yang berpakaian wol dalam kesucian jiwanya, memberikan makanan-makanan pahit bagi hawa nafsunya, menjadikan dunia di belakang punggungnya, dan mencontoh rasulullah dalam segala perbuatannya.
  6. Abu raihan l-bairuni (w. 440 H) menyebutkan bahwa istilah sufio mempunyai padanan kata dan makna dengan Sophia yang berasal dari istilah Yunani. Pendapat ini didasarkan pada kondisi bangsa Yunani Kuno yang berpendapat bahwa eksistensi (wujud) hakiki adalah causa prima. Wujud tak bergantung pada partikel lain, justru partikel lain yag membutuhkan. Wujud hakiki itu adalah Zat Yang Maha Tunggal. Inilah pandangan para sophos yang dikenal sebagai ahli hikmah. Bahkan menurut al-Bairuni, ajaran para sufi ini juga banyak bertemu dengan pandangan bangsa India.

             Dalam dunia tasawuf sendiri, dijumpai kolaborasi tasawuf dengan disiplin selain filsafat yang dinamakan tasawuf sunni (amali) dan klimaks pada diri imam al-Ghazali (w. 505 H) dengan suksesnya membongkar dan mendamaikan rasionalisme ilmu kalam ortodoks, operasional fikih dan argumentasi filsafat. Dalam kitabnya yang sangat terkenal Ihya Ulumuddin. Di sisi lain, muncul kolaborasi antara tasawuf dengan filsafat yang kemudian diwujudkan sebagai taswuf falsafi. Tokoh pertama yang diyakini sebagai peletak dasar jenis tasawuf ini adalah Syeikh ibn Masarrah (w. 319 H/ 931 M) dari Cordoba, Andalusia. Sufi kedua adalah Syeikh Syihabuddin Suhrawardi (w 578 H/ 1191 M) dan mencapai puncak pada Syeikh Muhyiddin ibn Arabi (w 638 H/ 1242 M).


[1]Sumber Tulisan: Tasawuf Sebagai Revolusi Spiritual dalam Kehidupan Masyarakat Modern, Pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA dalam bidang tasawuf pada fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya 2014.

Sumber Gambar : http://1.bp.blogspot.com/-aN0VPwW0F7Y/UaDkGHdaPpI/AAAAAAAAA4I/ogE9kVqALIk/s1600/sufi.jpeg