Tarekat Tijaniyah: Bahtera Spiritual Negeri 1000 Benteng

0
2000
tarekat tijaniyah

Oleh: Kusnadi El Ghezwa (Katib Syuriyah PCI NU Maroko)   

Sangatlah pantas jika gelar “Negeri para ulama” disandang negeri Maroko. Terutama karena ulama-ulamanya yang menonjol dalam dunia tasawuf. Lihat saja, berapa banyak aliran tarekat yang berkembang di negeri yang mayoritas penduduknya bermadzhab Maliki tulen. Ada tarekat Tijaniyah, Syadziliyah, Masyisyiyah, Siddiqiyah, Kattaniyah, Darqawiyah dan lain sebagainya.

Alhamdulillah untuk kesekian kalinya saya, Kusnandi El Ghezawa, berkesempatan menziarahi salah satu makam ulama kharismatik pendiri Tarekat Tijaniyah di kota Fez, Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Hassani atau lebih dikenal dengan Syaikh Ahmad at Tijani.

Biografi Singkat Syaikh Ahmad at Tijani

Beliau lahir pada Kamis, 13 Shafar 1150 H di ‘Ain Madhi yang juga akrab disebut Madhawi, di Sahara Timur Maroko (kini bernama Aljazair).  Penyebutan at Tijani merupakan nisbat pada suatu daerah terkenal bernama Tijanah. Kabilah Tijanah adalah keluarga Syaikh Ahmad at Tijani dari pihak ibu dan pada kabilah inilah lebih dikenal sebutan marganya sehingga lazim disebut dengan “Tijani “. Dari keluarga besar atau kabilah Tijanah ini banyak lahir ulama dan wali-wali agung.

Dalam kitab-kitab tarekat Tijaniyah diterangkan, Syaikh Ahmad at Tijani beberapa kali bertemu dengan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi. Dalam pertemuan itu, Syaikh Ahmad at Tijani  mendapatkan bimbingan dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—termasuk bacaan wirid yang dibaca oleh para pengikut Tijaniyah, yaitu wirid Lazimah, Wadhifah dan Hailalah.

Ketika berusia 50 tahun, tepatnya Muharam 1214 H, Syaikh Ahmad at Tijani mencapai martabat al-Quthb al-Kamil, al-Quthb al-Jami’ dan al-Quthb al-‘Udzhma, yang pengukuhannya dilakukan di Padang Arafah, Makkah Al-Mukaramah.

Baca Juga: “al Ghazali Kecil” di Nusantara

Pada tahun yang sama, hari ke-18 bulan Shafar, beliau dianugerahi sebagai al-Khatm al-Auliya al-Maktum (Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian diperingati oleh jamaah, ikhwan, dan para muhibbin Tarekat Tijaniyah sebagai Idul Khatmi. Syaikh Ahmad at Tijani meninggal di Fez Maroko 1230 H.

Destinasi Ziarah Internasional

Umat Islam dari seluruh wilayah Afrika Barat dan penganut Tarekat Tijaniyah sering mengunjungi komplek makam Syaikh Ahmad at Tijani di sudut Kota Fez, Maroko. Kota yang berusia 12 abad ini lebih dikenal sebagai ibukota spiritual Maroko. Tak heran bila jutaan orang dari Senegal, Mali, Niger dan Nigeria datang ke sana untuk berziarah ke makam Syaikh at Tijani. Termasuk dari Indonesia pun banyak yang berziarah ke makamnya terutama dari para pengikut Tarekat Tijaniyah.

Hubungan Tarekat Tijaniyah dengan Kerajaan Maroko

Jika ditelisik lebih dalam, tarekat Tijaniyah dan Negara Maroko memiliki hubungan yang sangat erat. Kerekatan ini sudah terbentuk sejak masa pemerintahan Sultan Moulay Sulaiman (W. 1238 H) dengan Sang Pendiri Tarekat Tijaniyah. Sosok pemimpin Negeri 1.000 benteng memang sejak dahulu cinta kepada ulama. Di samping nasab keduanya sama-sama berujung pada Maulana Muhammad (Nafs az-Zakiyah) bin Sidi Abdullah al Kamil bin Sidi Hasan as Sibth bin Sidi Hasan al-Mutsanna bin Sidi Ali dan Sayyidah Fatima az-Zahra binti Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, Sultan Moulay Sulaiman juga mengakui kewalian Syaikh Ahmad at-Tijani lebih tinggi dari semua ulama sezamannya.

Terbukti, rasa syukur yang tiada tara saat Moulay Sulaiman meminta kepada Syaikh Ahmad at-Tijani agar dapat bertemu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— dalam keadaan terjaga (bukan mimpi), dengan izin Allah—subhanahu wa ta’ala—permintaan itu terkabulkan.

Sejak peristiwa inilah perhatian dan rasa kasih sayang Moulay Sulaiman kepada Syaikh Ahmad at-Tijani begitu kuat. Diangkatlah Syaikh Ahmad at-Tijani menjadi salah satu penasehat kerajaan dan diberi tempat tinggal (Dar al-Miraya) di kota Fes untuk majelis pengajiannya. Hal ini pun masih berlaku sampai sekarang dalam sistem birokrasi Negara Matahari Terbenam, yang menempatkan posisi khalifah tarekat Tijaniyah, Syaikh Muhammad al-Kabir sebagai salah satu penasehat Raja Muhammad VI.

Pertemuan Nasab

Nasab Raja Muhammad VI: Muhammad VI bin Hasan II bin Muhammad V bin Yusuf bin Hasan I bin Muhammad bin Abdur Rahman bin Hisyam bin Muhammad III bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad bin Abdur Rahman bin Hisyam bin Muhammad bin Abdullah bin Ismail bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Yusuf bin Ali bin Hasan bin Muhammad bin Hasan bin Qasim bin Muhammad bin Abu Qasim bin Muhammad bin Hasan bin Abdullah bin Abu Muhammad bin Arafah bin Hasan bin Abu Bakar bin Ali bin Hasan bin Ahmad bin Ismail bin Qasim bin Muhammad (Nafs az-Zakiyah).

Baca Juga: 10 Orang yang Jasadnya Utuh di Alam Kubur

Sedangkan nasab Syaikh Ahmad at-Tijani: Syaikh Ahmad at-Tijani bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Abi al-Ied bin Salim bin Ahmad (al-Ulwani) bin Ahmad bin Ali bin Abdellah bin Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Idris bin Ishak bin Ali Zaenal Abidin bin Ahmad bin Muhammad (Nafs-az Zakiyah).

Demikianlah, hubungan Tarekat Tijaniyah dengan Negara Maroko sangat erat dalam lintasan sejarah. Hubungan harmonis ini sangat berperan penting bagi penyebaran tarekat Tijaniyah, karena antara Ulama dan Umara seirama dalam satu tujuan mulia, menegakkan pilar-pilar agama melalui bahtera spiritual tasawuf.

_______________________

Sumber:

  1. Min A’qab al Bidl’ah al Muhammadiyah at Thohiroh.
  2. Al Fathu ar Rabbani.
  3. Jawahirul Ma’ani, Sayyid Ali Harazim bin Arabi.
  4. Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi.
  5. Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam.
  6. Tarekat Tijaniyah Perspektif Amaliah dan Ilmiah.

Diedit oleh: Ahmad Muntaha AM

Ilustasi: gadventures