Oleh: Ahmad Muntaha AM

Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan kalam hikmah:

مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتُ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافِقَاتِ وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَ مِنْ وُجُودِ الزَّلَاتِ.

“Di antara tanda-tanda hati mati adalah tidak ada kesedihan atas berbagi ketaatan yang Anda lewatkan dan meninggalkan penyesalan atas adanya kesalahan-kesalahan yang Anda lakukan.

Matinya hati berarti hati kosong dari nilai-nilai keimanan. Matinya hati juga bermakna kosongnya hati dari kecintaan terhadap Allah, mengagungkan-Nya dan rasa takut dari-Nya. Sedangkan di antara tanda-tandanya adalah tidak adanya kesedihan atas terlewatkannya berbagai ketaatan dan tidak adanya penyesalan atas kesalahan dan dosa yang dilakukan.

Sebaliknya, hidupnya hati berarti penuhnya hati dengan nilai-nilai keimanan, penuh kecintaan, penuh pengagungan dan penuh rasa takut terhadap Allah Swt. Tandanya adalah sedihnya hati ketika melewatkan ketaatan dan menyesalnya hati ketika melakukan kemaksiatan.

Kenapa bisa demikian? Tiada lain karena amal baik dan amal buruk menjadi tanda keridhaan dan kemurkaan Allah kepada manusia. Ketika Allah memudahkan baginya melakukan berbagai kebaikan, niscaya hal itu akan membuatnya bahagia karena menjadi tanda keridhaan Allah kepadanya. Begitu pula sebaliknya, ketika Allah memudahkan baginya melakukan berbagai keburukan dan kemaksiatan, niscaya hal itu akan membuatnya sedih karena menjadi tanda kemurkaan Allah kepadanya.

Baca Juga: Zikir Jalur Strategis Meraih Ridah Allah (Hikam-46)

Hati yang hidup adalah hati yang mampu merasakan setiap hal yang mendatangkan keridhaan Tuhan, sehingga membuatnya bahagia; juga mampu merasakan setiap hal yang mendatangkan kemurkaan Tuhan, sehingga membuatnya sedih dan perih. Sementara hati yang mati tidak mampu merasakan apapun. Baginya ketaatan dan kemaksiatan sama saja. Ketaatan tidak membuatnya bahagia dan maksiat tidak membuatnya gundah gulana, persis seperti orang mati yang tidak mampu merasakan apa-apa.

Dalam konteks ini Nabi Muhammad Saw bersabda:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ. (رواه أبو الفرج البغدادي في جامع العلوم والحكم)

“Orang yang kebaikannya membuatnya bahagia dan keburukannya membuatnya sedih, maka ia seorang mukmin (yang sempurna).” (HR. Abu al-Faraj al-Baghdadi dalam Jami’ al-Ulum al-Hikam)

Sementara Abdullah bin Mas’ud mengatakan:

إِنَّ اَلْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعُ عَلَيْهِ، وَالْفَاجِرُ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ، فَقَالَ بِهِ هَكَذَا فَأَطَّارَهُ.

“Sungguh orang mukmin (sejati) melihat dosa-dosanya seolah ia (duduk) di bawah gunung yang dikhawatirkan akan roboh menimpanya; sedangkan orang fasik melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, lalu ia usir dengan tangannya sehingga ia membuatnya terbang (pergi darinya).”

Baca Juga: Seri Artikel Kajian Hikam


Sumber:
1. Ibn ‘Ibad an-Nafazi ar-Randi, Syarh al-Hikam, (Indonesia: al-Haramain, tth.), 42.
2. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Hikam al-‘Athaiyyah Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), II/207.

Ilustrasi: freepik