Oleh: Ahmad Muntaha AM

Talqin mayit yang dimaksud adalah talqin mayit setelah selesai proses pemakamannya. Yaitu mengingatkan mayit tentang berbagai pertanyaan malaikat Munkar Nakir yang ditujukan kepada mayit.

Talqin mayit seperti ini termasuk amaliah yang diperselisihkan kebolehannya. Bahkan tidak jarang ada yang membid’ah-bid’ahkannya, karena haditsnya dha’if (lemah) misalnya. Lalu Apa ada dalil yang melegalkannya? Bagaimana hukum sebenarnya menurut para ulama?

Talqin Mayit: Haditsnya Pantas Diamalkan

Dalil yang mendasari kesunnahan talqin mayit setelah dikuburkan adalah hadits riwayat Abu Umamah al-Bahili (w. 81/700 M), salah seorang generasi akhir para sahabat Nabi yang tinggal Syam (Syiria sekarang). Di tengah-tengah naza’ (sakaratul maut) beliau meriwayatkan:

 إذَا أَنَا مِتُّ فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصْنَعَ بِمَوْتَانَا. أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إخْوَانِكُمْ فَسَوَّيْتُمْ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ. ثُمَّ لْيَقُلْ: يَا فُلَانُ بْنُ فُلَانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلَا يُجِيبُ. ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلَانُ بْنُ فُلَانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا. ثُمَّ يَقُولُ يَا فُلَانُ بْنُ فُلَانَةَ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْنَا يَرْحَمْكَ اللهُ، وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ. فَلْيَقُلْ: اُذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنْ الدُّنْيَا: شَهَادَةَ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَبِالْقُرْآنِ إمَامًا. فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَدِ صَاحِبِهِ وَيَقُولُ: انْطَلِقْ بِنَا مَا يُقْعِدُنَا عِنْدَ مَنْ لُقِّنَ حُجَّتُهُ. قَالَ: فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ؟ قَالَ: يَنْسُبُهُ إلَى أُمِّهِ حَوَّاءَ يَا فُلَانُ بْنُ حَوَّاءَ. (رواه الطبراني وَإِسْنَادُهُ صَالِحٌ)

“Ketika aku mati, lakukan oleh kalian sebagaimana perlakuan yang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—perintahkan kepada kami untuk orang-orang mati kami. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— mererintahkan kepada kami, lalu bersabda: ‘Ketika salah seorang dari saudara kalian mati, maka ratakanlah tanah di atas kuburnya, lalu hendaklah salah seorang dari kalian berdiri di bagian atas kuburnya. Lalu katakan: ‘Wahai Fulan bin Fulanah’, maka sungguh ia mendengarnya namun tidak menjawabnya. Lalu katakan: ‘Wahai Fulan bin Fulanah’, maka sungguh ia beranjak duduk. Lalu katakan: ‘Wahai Fulan bin Fulanah’, maka sungguh ia menjawab: ‘Mohon beri petunjuk kepadaku, semoga Allah merahmatimu’, namun kalian tidak merasakan(mendengarkan)nya. Lalu katakan: ‘Ingatlah hal-hal yang engkau pedomani saat keluar dari dunia, yaitu bersaksi sungguh tiada Tuhan selain Allah dan sungguh Muhammad adalah utusan-Nya. Sungguh engkau rela Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agamamu, Muhammad sebagai Nabimu, al-Qur’an sebagai pemimpinmu.’ Sebab masing-masing malaikat Munkar dan Nakir memegang tangan temannya dan berkata: ‘Mari kita pergi, kita tidak akan duduk di sisi mayit yang telah ditalqinkan hujjahnya.’ Abu Umamah berkata: ‘Lalu ada seseorang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, maka bagaimana bila kita tidak mengenal ibunya?’ Beliau pun menjawab: ‘Nisbatkanlah mayit kepada ibunya Hawa: ‘Wahai Fulan bin Hawa’.” (HR. at-Thabarani)

Baca Juga: Hukum, Cara dan Keutamaan Sholat Hadiah

Meskipun sanadnya dha’if (lemah), namun banyak ahli hadits yang menegaskan bahwa hadits ini boleh diamalkan. Seperti al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani yang menyatakan: “Sanadnya shalih/pantas untuk dijadikan sebagai dalil amaliah” (Talkhis al-Habir, II/321); Ibn al-Mulaqqin: “Sanadnya tidak aku ketahui bermasalah” (al-Badr al-Munir, V/334); dan Imam an-Nawawi: “Hadits ini meskipun dha’if, namun dapat dijadikan isti’nats (petunjuk amaliah). Para ulama ahli hadits dan selainnya pun sepakat menolelir penggunaan hadits-hadits dha’if dalam fadha’il al-a’mal …” (al-Majmu’, V/304).

Talqin Mayit Menurut Hadits-Hadits Shahih

Namun demikian, al-Hafizh Dhiyauddin al-Maqdisi (569-643 H/1174-1245 M) ahli hadits danpakar  sejarah bermazhab Hanbali menguatkannya dalam al-Ahkam, sebagaimana al-Hafidz Ibn Hajar dalam sebagian karyanya (Talkhis al-Habir, II/321). Di antara hadits shahih yang menguatkan kesunnahan talqin mayit adalah sebagai berikut:

فَإِذَا دَفَنْتُمُونِى فَشُنُّوا عَلَىَّ التُّرَابَ شَنًّا ثُمَّ أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِى قَدْرَ مَا تُنْحَرُ جَزُورٌ وَيُقْسَمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتَأْنِسَ بِكُمْ وَأَنْظُرَ مَاذَا أُرَاجِعُ بِهِ رُسُلَ رَبِّى. (رواه مسلم)

“Kemudian ketika kalian telah memakamkanku  (‘Amr bin al-‘Ash), lalu memasukkan tanah di atasku, kemudian berdirilah di sekitar kuburku sekira waktu onta disembelih dan dibagikan dagingnya sehingga aku merasa nyaman dengan keberadaan kalian dan aku melihat apa yang ditanyaan para malaikat utusan Tuhanku.” (HR. Muslim)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ: اسْتَغْفِرُوا لأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْأَلُ. (رواه أبو داود والبيهقي. صحيح)

“Diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata: ‘Biasanya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika usai dari menguburan mayit dan berdiri di kuburnya, lalu beliau bersabda: ‘Mohonkan ampunan untuk saudara kalian dan mohonkan keteguhan hati untuknya, sebab sungguh sekarang ia sedang ditanya (oleh malaikat)’.” (HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi. Shahih)

Talqin Mayit Diamalkan di Berbagai Negeri Islam Sepanjang Masa

Taqin mayit setelah dikuburkan juga telah diamalkan oleh kaum muslimin sepanjang masa, sebagaimana kesaksian Imam Ahmad dari negeri Syam, kesaksian Ibn al-‘Arabi dari Madinah, dan ulama lainnya dari Cordova Spanyol. Begitu pula menurut informasi dari an-Nawawi bahwa talqin mayit telah menjadi tradisi di negeri Syam sepanjang masa sejak zaman ulama panutan sampai pada masanya. (Kasyf al-Khafa, I/316).

Baca Juga: Sholat Sunnah Qobliyah Jumat , Bid’ah ? (Hujjah-6)

Talqin Mayit Sunnah Menurut Para Ulama

Karenanya, meskipun ada ulama yang menganggap makruh, namun banyak ulama yang membolehkan, bahkan menghukuminya sebagai amalan sunnah secara terang-terangan. Dari kalangan Syafi’iyah seperti Ibn as-Shalah, Imam an-Nawawi, al-Qadhi Husain, al-Mutawalli, Syaikh Nashr al-Maqdisi, ar-Rafi’i dan selainnya (al-Majmu’, V/304). Ibn ‘Abidin dari Hanafiyah (Rad al-Mukhtar, VI/220). Dari Malikiyah ada Ibn at-Thalla’, al-Qurthubi, ats-Tsa’alabi dan selainnya (al-Fawakih ad-Diwani, II/665). Dari mazhab Hanbali bahkan ada Imam Ahmad yang membolehkannya  seperti dikutip oleh Ibn Taimiyyah dalam Fatwanya (al-Fatawa al-Kubra, III/24-25).

Talqin Mayit Menurut Ibn Taimiyyah

Ketika ditanya tentang hukum talqin mayit setelah dikuburkan, Ibn Taimiyah menjawab (al-Fatawa al-Kubra, III/24-25):

تَلْقِينُهُ بَعْدَ مَوْتِهِ لَيْسَ وَاجِبًا، بِالْإِجْمَاعِ. وَلَا كَانَ مِنْ عَمَلِ الْمُسْلِمِينَ الْمَشْهُورِ بَيْنَهُمْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخُلَفَائِهِ. بَلْ ذَلِكَ مَأْثُورٌ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ ؛ كَأَبِي أُمَامَةَ، وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ. فَمِنْ الْأَئِمَّةِ مَنْ رَخَّصَ فِيهِ كَالْإِمَامِ أَحْمَدَ، وَقَدْ اسْتَحَبَّهُ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ، وَأَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ. وَمِنْ الْعُلَمَاءِ مَنْ يَكْرَهُهُ لِاعْتِقَادِهِ أَنَّهُ بِدْعَةٌ. فَالْأَقْوَالُ فِيهِ ثَلَاثَةٌ: الِاسْتِحْبَابُ، وَالْكَرَاهَةُ، وَالْإِبَاحَةُ، وَهَذَا أَعْدَلُ الْأَقْوَالِ.

 “Talqin mayit setelah matinya (di kuburnya), tidak wajib berdasarkan ijma’, dan tidak termasuk amaliah kaum muslimin yang populer di masa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam— dan para khalifahnya. Akan tetapi talqin mayit ma’tsur (diriwayatkan) dari segolongan sahabat seperti Abu Umamah dan Watsilah bin al-Asqa’. Dari kalangan para Imam ada yang membolehkannya seperti Imam Ahmad. Ada pula yang menyunnahkannya dari para murid Imam Ahmad dan Imam as-Syafi’i. Ada pula yang memakruhkannya karena meyakininya sebagai bid’ah. Ringkasnya, ada tiga pendapat tentang talqin mayit, yaitu sunnah, makruh dan mubah (boleh), dan ini merupakan pendapat yang paling adil.”

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas menjadi terang, talqin mayit merupakan amaliah kaum muslimin sejak masa awal Islam hingga sekarang, ada dalil hadits shahihnya dan bahkan disunnahkan oleh para Ulama lintas mazhab. Sehingga meskipun ada ulama yang memakruhkan, tetap tidak boleh diingkari legalitasnya, sebagaimana tradisi kaum muslimin di bumi Nusantara.

Baca Juga: Seri Artikel Hujjah

________

Sumber:

  1. Ali Maksum, Hujjah Ahlussunnah wal Jama’ah, (Surabaya: Karamah, tth.), 19-24.
  2. Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Talkhis al-Habir fi Takhrij Ahadits ar-Rafi’i al-Kabir, (Ttp.: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1419 H/1989 M), II/321.
  3. ‘Umar bin ‘Ali Ibn al-Mulaqqin al-Mishri, al-Badr al-Munir fi Takhrij al-Ahadits wa al-Atsar al-Waqi’ah fi as-Syarh al-Kabir, (Riyadh: Dar al-Hijrah, 1425 H/2004 M), V/334.
  4. Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, V/304.
  5. Isma’il bin Muhammad al-Jarahi al-‘Ajluni, Kasyf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas ‘am Ma Isytahar min al-Ahadits ‘ala Alsinah an-Nas, (ttp.: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, tth.), I/316.
  6. Ibn ‘Abidin, Hasyiyyah Rad al-Mukhtar ‘ala ad-Dur al-Muhtar, (Bairut: Dar al-Fikr, 1421 H/2000 M), IV/220).
  7. Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harrani, al-Fatawa al-Kubra, (ttp.: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1408 H/1987 M), III/24-25.
  8. Dll.