Kita sering mendengar pelafalan niat puasa dengan kalimat “ramadhana hadzihis sanati” dan sedikit orang yang melafalkannya dengan kalimat “ramadhani hadzihis sanati”. Manakah yang benar di antara kedua lafal tersebut?

Jawaban:

Salah satu darinya ada yang salah, meskipun tidak sampai merusak niat puasa. Sebab, yang berperan dalam niat adalah hati. Namun sangat naif jika dalam pelafalan niat saja masih salah, padahal kita sudah berulang kali berpuasa. Adapun yang benar adalah “ramadhani hadzihis sanati”.

Referensi:

  1. Fath al-Qarib dan Hasyiyah al-Bajuri, /289

    وَأَكْمَلُ نِيَّةِ صَوْمِهِ أَنْ يَقُولَ الشَّخْصُ: نَوْيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ  السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى. (قَوْلُهُ: رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ) بِإِضَافَةِ رَمَضَانٍ إِلىٰ اسْمِ الْإِشَارَةِ لِتَكُونَ الْإِضَافَةُ مُعَيَّنَةً، لِكَوْنِهُ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةِ. وَأَيْضًا عَلىٰ عَدَمِ الْإِضَافَةِ، تَكُونُ هٰذِهِ السَّنَةِ ظَرْفًا  لِقَوْلِهِ نَوَيْتُ وَهُوَ فَاسِدٌ. (فتح القريب مع الباجوري، ج 1، ص 289)


Sumber :
Ahmad Asyhar Shofwan, Fikih Puasa, Solusi 100 Problematika Ramadhan ( Surabaya : Fahdina 2012 ), Halaman 54

.cover-fikih-puasa

Sumber Ilustrasi : afabagus