Sirah Nabawiyah [9]: Hubungan Sains dan Akidah serta Kekonyolan Husein Haikal

0
374
Hubungan sains dan akidah serta kekonyolan husein haikal

Coba kita perhatikan. Beberapa institusi pendidikan mengkaji biografi Nabi saw. dengan menggunakan metodologi modern—subyektif, dan menghilangkan aspek khawariqul ‘adat. Apa yang mereka lakukan itu justru sebuah tikungan tajam sejarah keilmuan Islam yang sudah lewat. Kedok sains dalam kajian mereka justru membuat mereka berbelok arah kembali menuju kejumudan akidah—jahiliyah.

Mereka, baik sengaja maupun tidak—terlena dengan tipu daya imperialis, akan beralasan bahwa mata mereka terbelalak silau akan berita kebangkitan sains Eropa setelah melewati masa kegelapan yang sangat panjang. Adalah wajar mata menjadi silau ketika pertama kali melihat sesuatu yang sangat terang sehingga tidak bisa memilah hal-hal yang seolah mirip. Butuh waktu agar mata istirahat lalu kembali normal agar bisa memeriksa fakta secara jelas.

Baca juga: Sirah Nabawiyah [8]: Infiltrasi Imperialisme untuk Mencerabut Islam dari Akarnya

Fenomena ini sudah terlewati dengan terkuaknya tabir. Bukti-bukti keterlibatan imperialis sudah terpampang bagi generasi cerdas saat ini. Mereka kembali berinteraksi dengan esensi dan hakikat ketuhanan setelah generasi sebelumnya hanya mengambil kulitnya dan tertipu oleh indikator fisik—yang terukur oleh sains.

Mereka kembali dengan pemikiran merdeka. Meyakini bahwa poin paling esensial dari keajaiban dan mukjizat tidak bertentangan dengan poin paling esensial dari sains dan semua rumusnya.

Karena khawariq—secara etimologi berarti yang mengoyak, yang memecah, penerj.—dinamakan seperti itu karena mengoyak sesuatu yang umum dan biasa dalam pandangan manusia. Contoh, api biasanya memiliki daya bakar. Dan kebiasaan itu tidak bisa dijadikan tolak ukur ilmiah untuk semua hal untuk menvonis yang mungkin dan tidak mungkin terjadi.

Mustahil sains bisa menvonis hanya sesuatu yang akrab dan biasa bagi manusia yang bisa terjadi, sedangkan yang aneh, tidak biasa, tidak mungkin, bisa saja terjadi. Bahkan sains sendiri mengakui adanya anomali.

Sains dan Akidah tidaklah Bertentangan

Setiap peneliti pasti tahu bahwa kemajuan yang bisa dicapai oleh semua ilmuwan sains terbatas. Mereka akan selalu terbatas pada pengetahuan bahwa hubungan sabab dan musabab—fenomena yang tampak atau terasa—hanyalah hubungan penyertaan yang “biasanya” terlaku. Para ilmuwan menguraikan sebuah fenomena, mencari alasan di belakangnya, lalu membuat rumus berdasarkan hubungan yang ditampakkan oleh fenomena dan alasan itu. Namun bukan sebaliknya: rumus dulu, alasan, dan terakhir fenomena.

Contoh sederhananya: fenomena hangus, lalu diuraikan terjadinya pembakaran sampai titik tertentu, memunculkan alasan adanya api, lalu menyimpulkan bahwa api memiliki daya bakar. Namun ini tidak bisa dibalik. Tidak bisa dikatakan bahwa api pasti memiliki daya bakar sehingga pasti menghanguskan. Hanya “biasanya” api bisa membakar.

Jika kalian menanyai ilmuwan sains tentang kejadian tidak biasa—mukjizat ilahi, mereka akan menjawab sesuai kapasitas pengetahuan mereka. Bahwa “khawariq dan mukjizat ilahi bukanlah materi pembahasan dan spesialisasi kami. Aku tidak memiliki kapasitas untuk memutuskan. Namun jika kejadian tidak biasa itu ada di depan mataku, ia bisa menjadi materi penelitian untuk diuraikan dan dicari alasannya.” Jadilah kejadian tidak biasa itu bisa merusak rumus yang sudah ditetapkan.

Pada masa lalu, ada ilmuwan yang berasumsi bahwa dampak yang ditimbulkan oleh sebuah sabab atas musababnya adalah dampak pasti yang tidak mungkin dihindari atau diubah. Lalu terbuktilah kebenaran yang sudah sejak lama diingatkan oleh para ulama muslim seperti Imam Ghazali bahwa hubungan sabab-musabab tidak lebih dari hubungan penyertaan semata. Sedangkan sains dengan rumus-rumusnya hanyalah sebuah tembok yang dibangun di atas hubungan penyertaan ini. Ini yang seharusnya menjadi tolak ukur untuk menjembatani sains dan akidah.

Sementara rahasia di balik hubungan penyertaan ini adalah Allah yang maha agung. Tuhan yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk—The biggest cause beyond causes.

Kekonyolan Husein Haikal

Kita bisa melihat ilmuwan eksperimental David Hume, filsuf dan sejarawan Skotlandia (w. 1776) menjelaskan hal ilhwal kabar khawariq ini dengan begitu gamblang.

“Memang betul. Setiap manusia berakal yang menghormati akal dan hakikat, untuk menerima setiap berita, baik yang berisi tentang sesuatu yang wajar ataupun yang menyalahi kebiasaan, dia harus menyaratkan satu hal. Yaitu berita itu sampai padanya dari jalur ilmiah yang bersih, yang berangkat dari kaidah periwayatan dan rantai transmisi yang sudah melewati prosedur verifikasi terstandar. Ini untuk memastikan keyakinan akan kebenaran berita itu.”

Adalah konyol dan aneh, masih ada saja ilmuwan yang mau mengikuti orang semacam Husain Haikal. Ia menjadikan sains dan akidah bertolak belakang. Ia dengan congkak menulis di pendahuluan bukunya:

“Aku tidak mengambil catatan dalam kitab-kitab biografi Nabi dan hadis. Karena aku lebih memilih meneliti biografi Nabi dengan metode ilmiah.”

Apakah kita bisa menerima fakta bahwa Husain Haikal tidak mau mengambil dari Shahih Bukhari-Muslim dengan dalih demi kehormatan ilmu? Padahal apa yang ditulis oleh keduanya memuat standar yang tinggi dan langka dalam prosedur penuturan sebuah kabar. Sungguh sebuah penyimpangan dari kebenaran ilmu ketika penyusunan sejarah berangkat dari metodologi asumsi pribadi dengan dalih menjaga kehormatan standar ilmiah.

Bukankah ini musibah yang menyakitkan bagi dunia keilmuan?

Allahu a’lam

Referensi: Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, (Mesir: Dar al-Salam, 2021), Hal. 36-39

Image: republika.co.id