Sirah Nabawiyah [6]: Penulisan Sejarah Nabi dan Politik Imperialisme

0
58
Sejarah Nabi dan Politik Imperialisme

Munculnya sekolah yang mengkaji sejarah Nabi dengan metode aliran subjektif tidak terlepas dari penjajahan Inggris atas Mesir. Mesir adalah panggung ilmu dunia Islam. Orang yang ingin mempelajari Islam pasti mempelajari pemikiran ulama Mesir, sebagaimana orang yang salat atau haji pasti menghadap kiblat.

Gaung imperialisme di satu sisi dan perhatian dunia Islam pada Mesir di sisi lain membuat imperialis Inggris tidak bisa tenang barang sebentar. Ketika Inggris berhasil menaklukkan negeri lembah Mesir di bawah kekuasaannya dengan kekuatan militer, mereka menyadari itu hanya penaklukan temporal yang membuat mereka tidak tenang selama Al-Azhar masih memiliki pengaruh dalam dunia Islam.

Untuk itu, imperialis Inggris harus melakukan salah satu dari dua tindakan politik, tanpa ada pilihan ketiga.

Simak pengajian for ladies: Haid dan Permasalahannya

Pertama, memutus hubungan antara Al-Azhar dengan umat Islam sampai titik di mana Al-Azhar tidak lagi memiliki otoritas.

Kedua, melakukan infiltrasi (penyusupan) langsung di pusat kepemimpinan ilmiah Al-Azhar sehingga fatwa Al Azhar bisa diarahkan sesuai kepentingan imperialisme.

Inggris pastilah memilih opsi kedua dengan pertimbangan bahwa hal itu lebih mudah dicapai tanpa mengusik perhatian dunia Islam.

Satu-satunya cara untuk melakukan infiltrasi pemikiran baru ke internal Al-Azhar adalah dengan mengorek titik lemah menyakitkan yang dirasakan oleh umat Islam, baik yang di dalam atau di luar Mesir. Titik lemah itu adalah perasaan tersia-siakan, terbelakang, dan tercerai-berai. Diperlihatkan pada mereka, para pemikir Al-Azhar tentang kebangkitan Eropa yang mengagumkan yang didorong oleh aneka ragam pemikiran dan budaya yang juga sangat diidamkan oleh umat Islam. Bahkan sampai hari ini, perasaan rendah diri karena beban keterbelakangan itu masih ada. Sehingga mereka tergerak untuk ikut dalam perkembangan peradaban dan pengetahuan modern.

Baca Juga: Sirah Nabawiyah [5]: Sejarah Nabi di Tangan Aliran Penulisan Sejarah Modern

Pemikiran semacam ini—yang sebenarnya adalah tipuan imperialis—mulai menyusup di kepala tokoh-tokoh pemikir Mesir. Kelanjutan dari pemikiran ini adalah bahwa kebebasan Barat dari belenggu zaman kegelapan adalah ketika mereka menundukkan agama di bawah standar ilmu pengetahuan. Agama adalah satu hal dan ilmu adalah hal lain yang tidak mungkin dikompromikan kecuali dengan menundukkan agama demi superioritas ilmu pengetahuan.

Jika dunia Islam menginginkan kebebasan dan kemajuan peradaban yang sama, tidak ada jalan lain kecuali menempuh jalan yang sama. Islam di sini harus dipahami dengan cara yang sama dengan Barat memahami Nasrani. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan cara menjernihkan pemikiran Islam dari hal-hal gaib yang tidak bisa dipahami dan dibuktikan secara empiris oleh standar pengetahuan modern.

Dengan cepat pemikiran ini merasuki orang-orang yang terbelalak terkagum akan tampilan kebangkitan Eropa modern. Orang-orang yang tidak memiliki iman yang kuat yang akalnya tidak mampu menempatkan pengetahuan modern pada porsinya. Mereka menggaungkan pembebasan Islam dari hal-hal gaib yang tidak bisa dibuktikan oleh pengetahuan modern dan tidak mungkin divalidasi oleh otoritas riset.

Dari situ muncullah gerakan pemurnian agama yang mengakibatkan berbagai dampak. Salah satunya modernisasi penulisan dan pemahaman akan biografi Nabi saw. dengan berpedoman pada metodologi baru untuk menguraikannya sesuai dengan keinginan mereka. Ini untuk menghilangkan aspek gaib dan khawariq (kejadian luar biasa) yang tidak bisa diterima oleh pembuktian pengetahuan modern.

Aliran metodologi subjektif dalam penulisan sejarah adalah cara paling ampuh untuk memuluskan tujuan mereka.


Bersambung

Referensi: Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, (Mesir: Dar al-Salam, 2021), Hal. 31-33.