Sirah Nabawiyah [16]: Sejak Nabi Adam, Akidah Islam Tidak Pernah Berubah

0
463

Muhammad saw. ialah penutup para Nabi. Tidak ada Nabi setelahnya. Ini adalah sesuatu yang sudah disepakati oleh ulama muslim dan diketahui sebagai ajaran pasti agama ini.

Nabi bersabda:

“Perumpamaanku dan para Nabi sebelum aku adalah seperti seseorang yang membuat bangunan dan memperindahnya, kecuali ada satu lubang bata di sebuah sudut dari bangunan itu. Orang mengelilingi bangunan itu dan terheran-heran dibuatnya lalu berkata, ‘Seharusnya bata ini dipasang.’ Akulah bata itu. Akulah penghabisan para Nabi.”

Dakwah Nabi Muhammad saw. memiliki keterkaitan dengan dakwah para Nabi sebelumnya. Untuk menguatkan dan menyempurnakan. Sebagaimana ditunjukkan oleh hadis di atas.

Dakwah para Nabi sebelumnya yang disempurnakan oleh dakwah Nabi Muhammad saw. dibangun di atas dua pondasi utama: (1) akidah, dan

(2) peraturan perundangan dan pendidikan karakter.

Konten akidah tidak pernah berubah mulai Nabi Adam sampai Nabi terakhir, Muhammad saw. Konten itu berisikan dua hal:

  1. Keimanan akan keesaan Allah dan menyucikannya dari sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya.
  2. Keimanan akan hari akhir, hisab (perhitungan amal), surga, dan neraka. 

Jadi, setiap Nabi menyeru umatnya untuk mengimani hal-hal tersebut. Dan tiap mereka mengabarkan tentang pembenaran terhadap dakwah Nabi sebelumnya dan memberi kabar gembira dengan diutusnya Nabi sesudahnya. Begitu seterusnya.

Mereka diutus silih berganti pada kaum yang berbeda, yang kesemuanya menegaskan satu esensi untuk disampaikan dan mendorong kepatuhan manusia. Esensi itu adalah kepatuhan kepada Allah Swt. Hal ini sudah dijelaskan oleh Allah Swt.:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (As-Syura: 13)

Bahkan konten akidah ini tidak mungkin berbeda antara satu Nabi dengan Nabi yang lain, karena konten akidah adalah sebuah indoktrinasi. Indoktrinasi tentang satu hal tidak mungkin berbeda antara satu pendoktrin dengan yang lain jika kita berpikir keduanya benar semua.

Adalah sesuatu yang tidak masuk akal jika salah satu Nabi bertugas menyampaikan pada manusia bahwa Allah Swt. ialah salah satu dari tiga Tuhan, kemudian ada Nabi setelahnya bertugas menyampaikan keesaan Allah dan tiada sekutu bagi-Nya, dan kita berpikir apa yang disampaikan keduanya sama-sama benar.

Satu pondasi dakwah yang lain yaitu peraturan perundangan. Ini bertujuan agar kehidupan personal dan sosial manusia menjadi teratur. Yang ini bisa saja berbeda teknis dan ukuran antara satu Nabi dengan yang lain. Perbedaan ini ada karena peraturan perundangan selain memiliki aspek indoktrinasi, juga memiliki aspek konstruksi pendidikan dan pengasuhan umat. Maka keharusan sama yang berlaku pada aqidah tidak berlaku di sini.

Perkembangan zaman dan perbedaan karakteristik tiap komunitas memengaruhi perkembangan dan perbedaan peraturan perundangan. Karena, peraturan perundangan dibangun atas dasar tuntutan kebaikan hamba Allah baik di dunia maupun di akhirat. Apalagi Nabi terdahulu diutus hanya pada satu komunitas tertentu, bukan semua manusia. Maka sewajarnya peraturan perundangan yang dia bawa hanya terbatas di wilayahnya. Yang tentu saja berdasarkan treatment yang paling tepat untuk kondisi dan karakteristik komunitas itu.

Referensi: Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, (Mesir: Dar al-Salam, 2021), Hal. 51-52