Sirah Nabawiyah [15]: Rahasia di Balik Pemilihan Jazirah Arabia sebagai Tempat Kelahiran Islam —Bagian 3 (Habis)

0
474
Rahasia di Balik PEmilihan Jazirah ARab sebagai Tempat KElahiran Islam

Kita telah mengetahui bagaimana kondisi tempat kelahiran Islam, yakni komunitas Arab di jazirahnya sebelum kedatangan Islam dan kondisi komunitas-komunitas lain di sekitarnya. Selanjutnya, lebih mudah bagi kita untuk mencari kejelasan tentang hikmah ilahi yang menghendaki agar Jazirah Arabia mendapat kehormatan dengan kelahiran dan misi kenabian Muhammad saw. Kita juga akan mendapatkan hikmah bagaimana Jazirah Arabia menjadi generasi pertama yang membawa obor dakwah Islam sebagai peribadatan manusia dari satu ujung sampai ujung lain semesta.

Hikmah ilahi itu tidak seperti dugaan sementara orang.

Orang-orang menganggap bahwa pelaku ritual dan budaya menyimpang akan sulit untuk diobati dan diarahkan. Para pelaku itu terlalu bangga pada perilaku rusak itu. Malah menganggapnya sebagai kebaikan. Sedangkan orang-orang yang selalu hidup dalam pencarian, tidaklah mengingkari kebodohan dan tidak pula mengklaim pengetahuan dan peradaban tinggi. Jadi mereka ini lebih mudah untuk diatur dan diarahkan.

Bukan demikian.

Baca juga: Rahasia di Balik Pemilihan Jazirah Arabia sebagai Tempat Kelahiran Islam —Bagian 2

Menurutku, bukan itu hikmah ilahi yang benar. Karena uraian semacam itu akan lebih cocok untuk “Tuhan” yang kekuasaannya terbatas. Ia memilah mana yang sulit dan mana yang mudah bagi-Nya, memilih yang mudah dan menghindari yang sulit agar tidak perlu berpayah-payah. Sungguh bukan demikian.

Seandainya memang Allah Swt. menghendaki tempat kelahiran dakwah Islam berada di Persia, Romawi, atau India, Allah Swt. pasti menyiapkan sarana untuk kesuksesan dakwah itu sebagaimana yang terjadi pada Jazirah Arabia. Dan itu bukan hal sulit bagi Allah Swt., Sang Pencipta dan kreator setiap sarana.

Hikmah yang benar dari pemilihan tempat kelahiran islam ini adalah agar Rasul yang terutus adalah seseorang yang buta huruf. Seseorang yang tidak membaca dan tidak menulis buku apapun. Sebagaimana yang dikatakan sendiri oleh Allah Swt. Dengan kondisi ini, manusia tidak meragukan nubuwahnya. Juga meminimalisir penyebab keraguan akan kebenaran dakwahnya.

Hikmah ilahi selanjutnya adalah kondisi lingkungan diutusnya sang Rasul. Orang-orang di sekitar Nabi saw. lebih banyak yang buta huruf jika dibandingkan dengan komunitas lain di sekitarnya. Jadi mereka tidak terpengaruh oleh budaya di sekitarnya. Metode pemikiran mereka juga tidak dirumitkan oleh filsafat-filsafat yang membingungkan.

Mengapa demikian?

Karena manusia akan meragukan nubuwah ketika melihat sang Nabi adalah seorang pelajar yang membaca kitab sebelumnya, buku sejarah lampau, dan budaya negara tetangga. Maka keraguan itu dikhawatirkan muncul jika dakwah Islam pertama kali muncul di tengah komunitas berperadaban tinggi dan terbiasa berfilsafat. Seperti Persia, Yunani, atau Romawi. Pasti banyak sekali peragu akan berasumsi bahwa ajaran Islam berasal dari serangkaian pengalaman, kebudayaan, dan pemikiran filsafat yang dimodifikasi.

Al-Qur’an menjelaskan hikmah ini dengan redaksi yang begitu jelas:

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah: 2)

Kehendak Allah Swt. menuntut agar Rasul adalah seorang buta huruf di tengah komunitas yang mayoritas juga buta huruf. Sehingga, mukjizat kenabian dan syariat Islam terasa jelas di hati. Ia Tidak akan menjadi rancu dan mudah dibedakan dari macam-macam kehendak manusia. Hal ini memuat belas kasih yang besar pada hamba Allah Swt.

Ada juga hikmah lain yang mudah terlihat oleh para pembahas biografi Nabi saw., yang secara global terbagi menjadi tiga.

Pertama. Sebagaimana diketahui, Allah Swt. menjadikan Baitullah al-haram sebagai tempat berkumpul yang aman. Bait (rumah) pertama yang dibangun untuk peribadatan dan menunjukkan syiar agama dan menampakkan dakwah ayah para Nabi, Ibrahim as. Secara otomatis, tempat berkah ini layak menjadi tempat kelahiran dakwah Islam yang merupakan inti ajaran Nabi Ibrahim as. Juga menjadi tempat lahir dan diutusnya Nabi terakhir. Bagaimana tidak begitu, sedangkan Muhammad saw. adalah keturunan Ibrahim as.?

Simak Kajian Tafsir di fanpage aswajamuda.com

Kedua. Secara geografis, letak Jazirah Arabia lebih cocok untuk menanggung beban dakwah ini karena—sebagaimana sudah dijelaskan—terletak tepat di tengah di antara aneka ragam komunitas-komunitas lain.

Inilah faktor utama yang mendorong penyebaran dakwah Islam ke bangsa dan negara di sekitarnya menjadi mudah. Jika kita memperhatikan perjalanan dakwah Islam pada masa permulaan dan masa Khulafaur Rasyidin, kita akan mendapati hal ini secara lebih jelas.

Ketiga. Hikmah ilahi menghendaki agar bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dakwah dan perangkat utama untuk menerjemahkan Kalam Allah untuk disampaikan pada kita.

Bila kita mendalami ciri khas bahasa-bahasa dan membandingkannya, kita akan mendapati bahasa Arab memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki bahasa lain, sehingga bahasa Arab menjadi lebih layak untuk dijadikan bahasa muslimin di aneka ragam wilayah dan negara.

Allahu a’lam.

Referensi: Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, (Mesir: Dar al-Salam, 2021), Hal. 47-50.