Sirah Nabawiyah [13]: Rahasia di Balik Pemilihan Jazirah Arabia sebagai Tempat Kelahiran Islam — Bagian 1

0
344
Rahasia di balik pemilihan jazirah arab sebagai tempat lahir nabi

Sebelum memasuki pembahasan tentang biografi Nabi dan tanah kelahiran islam, Jazirah Arabia, kita perjelas dulu hikmah Allah mengutus beliau di wilayah ini dan bukan di tempat lain dan hikmah kemunculan dakwah Islam di tengah komunitas Arab sebelum memasuki komunitas lain di muka bumi.

Pertama kita harus tahu dulu ciri khas dan karakter orang Arab sebelum kedatangan Islam dan letak geografis tempat tinggal mereka di antara tetangganya. Juga tentang kondisi, tradisi, karakter, ciri khas, dan peradaban komunitas lain pada masa itu, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India.

Kita mulai dengan penjelasan singkat tentang komunitas-komunitas di sekitar Jazirah Arabia, tempat kelahiran Islam, sebelum kedatangannya. 

Pada masa itu, peradaban termaju ada pada dua imperium besar, Persia dan Romawi. Lalu disusul oleh Yunani dan India.

Persia adalah medan pertarungan filsafat-filsafat keagamaan yang berbeda. Di situ ada agama Zoroastrianisme (Majusi) yang dianut oleh penguasa. Salah satu ajaran agama ini adalah lebih mengutamakan seorang laki-laki menikahi ibu, anak, atau saudara perempuannya (pernikahan inses). Kaisar Yezdegerd II yang memerintah pada pertengahan abad kelima Masehi juga menikahi putrinya. Juga banyak lagi penyelewengan yang sangat memalukan yang tidak mungkin disebutkan di sini.

Ada lagi agama Mazdakisme. Sebagaimana penjelasan Syekh Abdul Karim Asy-Syahrastani (w. 1158 M.), agama ini mengajarkan kepemilikan bersama atas harta dan wanita sebagaimana berlaku atas air, api, dan padang rumput. Ajaran ini mendapat penerimaan yang luas oleh orang-orang yang menyimpang dan pemuja nafsu.

Baca juga: Sirah Nabawiyah [2]: Cara yang Benar untuk Memahaminya Saat Ini

Romawi yang dikuasai oleh ambisi imperialisme juga tenggelam dalam perseteruan antara sekte Kristen yang dianut penguasa Romawi (Katolik Roma) dengan sekte Kristen yang dianut di Syam dan Mesir (Kristen ortodoks oriental). Romawi mengandalkan kekuatan militer dan ambisi Imperialismenya dalam upaya kristenisasi juga memanipulasi untuk memuluskan keinginan mereka.

Imperium ini, penghuninya tidak kalah bejat dibandingkan dengan Persia. Gaya hidup rendahan, pungutan liar, dan pajak yang sangat tinggi marak terjadi di sini.

Yunani tenggelam dalam takhayul dan cerita-cerita mitos yang menginspirasi mereka. Namun tetap saja tidak mampu mengantarkan mereka pada esensi dan pencapaian spiritual.

Tentang India—sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abul Hasan Ali Nadvi (w. 1999 M.)—para sejarawan bersepakat bahwa dalam sejarahnya, India mengalami fase terendah dalam kepribadian, karakter, dan keagamaan adalah pada masa itu (menjelang kedatangan Islam). Kondisi itu sudah dimulai sejak permulaan abad keenam Masehi. India bersama tetangga serumpunnya berkontribusi dalam kehancuran moral dan kehidupan sosial. 

Simak kajian islam di fanpage kami aswajamuda.com

Kita harus tahu, faktor utama yang menjerumuskan komunitas-komunitas berbeda itu pada kehancuran moral dan guncangan sosial adalah satu hal yang sama. Yakni kemajuan dan peradaban tinggi yang dibangun di atas orientasi materi semata tanpa ada keteladanan yang mengarahkan peradaban itu ke arah yang benar.

Bersambung.

Referensi: Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah, (Mesir: Dar al-Salam, 2021), Hal. 44-45