Si Ahli Sujud yang Tertolak Doanya

0
825

Dalam Syarh al-Hikam al-’Atha‘iyyah (hlm. 72-73), Syekh Muhammad bin ’Abbad (1333-1390 M) mengisahkan sebuah cerita yang cukup mengernyitkan dahi.

Kisahnya berawal saat seorang abid (ahli ibadah) dari kaum Bani Israil yang sedang bersujud tiba-tiba diinjak lehernya oleh orang lain. Si abid tentu saja kesal.

“Angkat kakimu,” katanya seraya bersumpah, “Demi Allah, Allah tak akan mengampunimu.”

Mungkin pikirnya dia berhak menyumpahi orang lain semaunya. Namun kebijaksanaan Allah Swt. memang tak mudah dipahami, kecuali bagi para kekasih-Nya.

Allah Swt. Pun berfirman, “Wahai kau yang bersumpah atas nama-Ku, justru kamulah yang tidak Kuampuni.”

Menurut guru agung para sufi, Imam Harits al-Muhasibi (786-857 M) hal ini dikarenakan sumpah yang diucapkan si abid tak lain disebabkan perasaan bangganya terhadap dirinya sendiri. Ia menilai dirinya mulia di sisi Allah. Ia kira, karena ibadah dan sujudnya, berbuat buruk pada dirinya adalah dosa besar yang tak akan diampuni Allah.

إنَّمَا تَأَلَّى عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُ لِعُظْمِ قَدْرِ نَفْسِهِ عِنْدَهُ وَأَنَّ الْإِسَاءَةَ إلَيْهِ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَظِيمَةٌ

“Alasan si abid bersumpah atas nama Allah Swt. agar Allah tak mengampuni lelaki tadi, tiada lain dikarenakan kebesaran derajat dirinya menurut dirinya sendiri. Ia juga menilai perbuatan buruk terhadap dirinya adalah dosa besar di sisi Allah.”

Dengan ini si abid sudah mengumpulkan tiga sifat buruk: bangga diri, sombong, dan terperdaya akan ibadahnya sendiri.

Baca juga: Hanya Kepada Allah Kita Mengadu (Hikam-38)

Kisah di atas dikutip oleh Syekh Ibnu ’Abbad saat menjelaskan perkataan Syekh Ibnu ’Atha‘illah as-Sakandari:

مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَت عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

“Kemaksiatan yang menumbuhkan perasaan hina dan butuh kepada Allah lebih baik dari pada ketaatan yang mendatangkan perasaan mulia dan sombong.”

Sebab, merasa butuh dan hina merupakan bagian dari sifat-sifat kesempurnaan penghambaan. Sementara merasa besar dan mulia bertentangan dengan sifat penghambaan. Keduanya justru merupakan sifat ketuhanan.

Tiadalah kebaikan pada ketaatan seorang hamba jika kemudian memunculkan hal yang berlawanan dengan penghambaannya, karena hal tersebut akan melenyapkan nilai ketaatannya.

Sebaliknya, tiadalah urusan dengan kemaksiatan yang justru mendatangkan sifat sejati penghambaan, sebab sifat tersebut bakal menghapus catatan kemaksiatannya. Sekian. Wallahu a’lam.