Oleh: Ahmad Muntaha AM
Judul Asli: Shalat Sunnah Qabliyah Jum’at Bid’ah ?

Sudah maklum bahwa sebelum shalat Jumat dilaksanakan, kaum muslimin melakukan shalat sunnah Qabliyah Jumat dua rakaat, sebagaimana legalitasnya dijelaskan oleh KH. Ali Maksum dalam kitabnya Hujjah Ahlussunnah wal Jama’ah (16-19). Namun kebiasaan ini tidak luput dari tuduhan bid’ah dari sebagian orang. Dianggap tidak ada dalam tuntunan syariat dan tidak boleh dilakukan. Anggapan seperti ini dikemukakan oleh sebagian kecil kalangan umat islam akhir – akhir ini, di beberapa kajian, video maupun website keagamaan.

Bahkan lebih dari itu, mereka juga mengutip al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (773-852 H/1372-1449 M) dan mayoritas ulama Syafi’iyah yang katanya berpendapat sebenarnya tidak ada shalat sunnah Qabliyah Jumat, tidak ada hadits yang melegalkannya. Lalu disimpulkan shalat sunnah Qabliyah Jumat adalah bid’ah.  Karenanya hal ini mengundang tanya, apakah benar anggapan seperti itu, padahal shalat sunnah Qabliyah Jumat diamalkan oleh kaum muslimin secara luas?

Ibn Hajar al-‘Asqalani: Sholat Sunnah Qobliyah Jum’at Bid’ah?

Apakah Ibn Hajar benar-benar berpendapat bahwa sunnah Qabliyah Jumat tidak ada dan tidak boleh dilakukan? Bahkan bid’ah? Karena beliau menyatakan: “Adapun shalat sunnah Qabliyah Jumat maka tidak ada satu hadits (Nabi) pun yang menetapkannya” (Fath al-Bari, II/410).

Tidak benar bila dikatakan Ibn Hajar al-‘Asqalani berpendapat tidak ada dan tidak boleh dilakukan shalat sunnah Qabliyah Jumat. Apalagi menganggap bahwa beliau membid’ahkannya. Tentu sangat keliru.

Ibn Hajar memang mengkritik pemahaman beberapa hadits yang menjadi dalil keabsahan shalat sunnah Qabliyah Jumat. Namun demikian bukan berarti beliau berpendapat bahwa shalat sunnah Qabliyah Jumat tidak ada dan tidak boleh dilakukan, apalagi bid’ah. Hal ini berdasarkan dua alasan:

  1. Ketika disodori atsar Ibn ‘Umar —radhiyallahu ‘anhuma— yang memanjangkan shalat sunnah sebelum shalat Jum’at, yang beliau nafikan hanyalah anggapan bahwa shalat itu diajarkan langsung (marfu’) oleh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Bukan menafikan keabsahannya. Dalam Fath al-Bari (II/426) beliau berkata:

وَأَمَّا قَوْلُهُ كَانَ يُطِيلُ الصَّلَاةَ قَبْلَ الْجُمُعَةِ، فَإِنْ كَانَ الْمُرَادُ بَعْدَ دُخُولِ الْوَقْتِ فَلَا يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ مَرْفُوعًا، لِأَنَّهُ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ فَيَشْتَغِلُ بْالْخُطْبَةِ ثُمَّ بِصَلَاةِ الْجُمُعَةِ.

“Adapun ucapan Nafi’: ‘Ibn ‘Umar sering memanjangkan shalat sebelum shalat Juma’at’,

maka bila yang dimaksud adalah shalat itu dilakukan setelah masuk waktu shalat Jum’at, maka tidak benar shalat Ibn ‘Umar berstatus mar’fu, karena Nabi —shallallahu ‘alaihi wa sallam—(datang) keluar ketika matahari telah bergeser (ke arah barat), langsung melaksanakan khotbah, kemudian shalat Juma’at.

  1. Diakhir kritiknya, setelah menyebutkan berbagai hadits dha’if seputar shalat sunnah Qabliyah Jum’at, terbukti beliau tetap menyampaikan dua hadits shahih atas kebolehannya secara umum, yaitu (Fath al-Bari, II/426):

مَا مِنْ صَلَاةٍ مَفْرُوضَةٍ إِلَّا وَبَيْنَ يَدَيْهَا رَكْعَتَانِ. (رواه ابن حبان. صحيح)

“Tidak ada shalat fardhu kecuali di depannya (sebelumnya) disunnahkan shalat dua rakaat.” (HR. Ibn Hibban. Shahih)

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ. (متفق عليه)

“Di antara setiap azan dan iqamah terdapat kesunnahan shalat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Baca Juga: Hukum, Cara dan Keutamaan Sholat Hadiah

Jadi sekali lagi, tidak benar bila dikatakan Ibn Hajar al-‘Asqalani berpendapat tidak ada dan tidak boleh dilakukan shalat sunnah Qabliyah Jumat.

Pendapat Mayoritas Ulama Syafi’iyyah

Begitu pula tidak benar bila mayoritas ulama Syafi’iyah dianggap berpendapat tidak ada dan tidak boleh dilakukan shalat sunnah Qabliyah Jumat, apalagi bid’ah. Justru mereka menyunnahkannya, berdasarkan beberapa argumen, di antaranya:

  1. Keumuman hadits:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ. (متفق عليه)

“Di antara setiap azan dan iqamah terdapat kesunnahan shalat.” (Muttafaq ‘Alaih)

  1. Hadits shahih riwayat Ibn Hibban, ketika Sulaik al-Ghathafani terlambat Jumatan dan masuk masjid saat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam— sedang berkhotbah lalu beliau bersabda:

أَصَلَّيْت قَبْلَ أَنْ تَجِيءَ قَالَ لَا قَالَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا  (رواه ابن حبان. صحيح)

“Apakah kamu sudah shalat sebelum datang (ke masjid)?” Sulaik menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Maka shalatlah dua rakaat dan cepat-cepatlah.” (HR. Ibn Hibban. Shahih)

Hadits  ini tidak bisa dipaksakan hanya dipahami menunjukkan kesunnahan shalat tahiyyatul masjid saja. Sebab, shalat Sulaik sebelum masuk masjid (yang ditanyakan oleh Nabi) tidak mungkin dipahami sebagai shalat tahiyyatul masjid, sehingga menjadikan hadits ini sebagai dalil shalat sunnah Qabliyah Jumat dianggap salah (Tuhfah al-Muhtaj, II/224, Hawasyi Tuhfah al-Muhtaj, II/224 dan Tuhfah al-Muhtaj ila Adillah al-Minhaj, I/339).

  1. Qiyas terhadap sunnah Qabliyah Zhuhur (al-Majmu’, IV/10).

Baca Juga: Seri Artikel Hujjah

Kesimpulan

Jadi jelas, bahwa shalat sunnah Qabliyah Jumat itu disyariatkan sesuai pendapat ulama Syafi’iyyah dan hadits-hadits shahih. Tidak seperti asumsi sebagian kecil kalangan umat islam yang mengatakan tidak ada dasarnya. Apalagi bid’ah tercela dan pelakunya diancam masuk neraka. Tidak tentunya. Wallahu a’lam.

________

Sumber:

  1. Ali Maksum, Hujjah Ahlussunnah wal Jama’ah, (Surabaya: Karamah, tth.), 16-19.
  2. Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H), II/10 dan 426.
  3. Ahmad Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj pada Hawasyi Tuhfah al-Muhtaj, (Mesir: Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, tth.), II/224.
  4. Abdul Hamid as-Syirwani dan Abu al-Qasim al-‘Abbadi, Hawasyi Tuhfah al-Muhtaj, (Mesir: Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, tth.), II/224.
  5. Ibn al-Mulaqqin al-Mishri, Tuhfah al-Muhtaj ila Adillah al-Minhaj, (Makkah: Dar Hara’, 1406 H), edisi: Abdullah bin Sa’af al-Lihyani, I/339.

Ilustrasi: qiblati