Seputar Mitos Hingga Amaliyah Bulan Suro / Muharram

0
1697
bulan suro

Bulan Suro Bulan Angker ?

Tidak ada bulan angker, seperti keangkeran bulan Syawal yang diasumsikan masyarakat Jahiliyah kemudian ditepis oleh Sayyidah ‘Aisyah.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-قَالَتْ: تَزَوَّجَنِيْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى شَوَّالٍ وَبَنَى بِيْ فِيْ شَوَّالٍ. فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّيْ. (رواه مسلم)

“Dari ‘Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-mempersunting diriku di bulan Syawal, berhubungan badan denganku di bulan Syawal, maka siapakah istri beliau yang lebih agung derajatnya di sisinya daripada aku?” (HR. Muslim)

Keutamaan Bulan Suro / Muharram

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ-رضى الله عنه-يَرْفَعُهُ قَالَ سُئِلَ أَىُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَىُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ؟ فَقَالَ: أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللهِ الْمُحَرَّمِ. (رواه مسلم)

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anuh-dengan dinisbatkannya kepada Nabi Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam-, ia berkata: “Beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam-ditanya shalat apakah yang paling utama setelah shalat maktubah Dan puasa apakah yang paling utama setelah bulan Ramadhan? Lalu beliau menjawab: “Shalat yang paling utama setelah shalat maktubah adalah shalat di tengah malam dan puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa bulan Allah yaitu bulan Muharram.”

Kesunahan Puasa Tanggal 9-10 Muharram dan Keutamaannya

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، قَالَ رَسُولُ اللهِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: … وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ. (رواه مسلم)

“Diriwayatkan dari Abu Qatadah-radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-bersabda: “… dan puasa hari Asyura (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah agar melebur dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-قَالَ: … وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ. (رواه مسلم)

“Diriwayatkan dari Abu Qatadah-radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata: “… dan Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-ditanya tentang puasa hari Asyura (tanggal 10 Muharram), lalu menjawab: “Ia melebur dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim)

Terkait dosa-dosa yang dilebur, merujuk keterangan dalam puasa Arafah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat mu’tamad seperti yang dipedomani Ibn Hajar al-Haitami diberbagai kitabnya menyatakan, yang dilebur adalah dosa kecil saja. Sedangkan menurut ar-Ramli dan al-Kurdi, yang dilebur termasuk pula dosa besar. Sebab redaksi haditsnya mutlak tanpa keterangan yang membedakan antara dosa kecil dan dosa besar, dan anugerah Allah sangat luas. (Hasyiyah as-Syirwani, III/454).

Anjuran puasa tanggal 9 Muharram berpijak pada hadits riwayat Abbas-radhiyallahu ‘anuh-:

عَنْ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ-رَضي اللهُ عَنْهُمَا-يَقُولُ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ-إِنْ شَاءَ اللهُ-صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللهِ- صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. (رواه مسلم)

Diirwayatkan dari Abdullah ibn ‘Abbas-radhiyallahu ‘anuhuma- ia berkata saat Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- berpuasa hari Asyura dan memerintahkan puasanya. Para Sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang diagunggan orang Yahudi dan Nasrani.” Lalu Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-bersabda: “Ketika tiba tahun depan, insya Allah, kami akan puasa pada tanggal 9.” Abdullah ibn ‘Abbas-radhiyallahu ‘anuhuma-berkata: “Maka tahun depan belum tiba sampai Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-wafat.”  (HR. Muslim)

Dari hadits ini kemudian ulama, seperti as-Syafi’i dan para Ashabnya, Ahmad dan Ishaq, menyunahkan puasa pada tanggal 9 Muharram, karena Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-telah meniatinya.

Peristiwa Sejarah Hari Asyura/10 Muharram dan Berbagai Amalannya

Di antara peristiwa sejarah yang terjadi pada hari Asyura/10 Muharram adalah (1) diterimanya tobat Nabi Adam-‘alaihis salam-, (2) diangkatnya Nabi Idris-‘alaihis salam-ke tempat yang tinggi, (3) turunnya Nabi Nuh-‘alaihis salam-dari kapal, (4) selamatnya Nabi Ibrahim-‘alaihis salam-dari api, (5) diturunkannya at-Taurat pada Nabi Musa-‘alaihis salam-, (6) dikeluarkannya Nabi Yusuf-‘alaihis salam-dari penjara, (7) disembuhkannya kebutaan Nabi Ya’qub-‘alaihis salam-, (8) disembuhkannya Nabi Ayyub-‘alaihis salam-dari sakitnya yang berkepanjangan, (9) dikeluarkannya Nabi Yunus-‘alaihis salam-dari perut ikan, (10) disibakkannya lautan bagi Bani Israil, (11) diampuninya Nabi Dawud-‘alaihis salam-dari kesalahannya, (12) diberinya Nabi Sulaiman -‘alaihis salam-kerajaan, (13) diangkatnya Nabi Isa-‘alaihis salam-ke langit, (14) diampuninya kesalahan yang telah lewat dan yang akan datang dari Nabi Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Adapun amalan yang dianjurkan di hari Asyura adalah puasa, melapangkan nafkah bagi kelurga, shalat malam, memberi minuman orang yang membutuhkan, sedekah, mandi dan bersuci, mengusap kepala atau berbuat baik terhadap anak yatim, dan mengunjungi orang sakit. (I’anah at-Thalibin, II/267).

Kisah Inspiratif Yahudi Dermawan vs Muslim Pelit

Suatu ketika seorang fakir puasa di hari Asyura bersama keluarganya. Namun apa mau dikata, mereka tidak punya makanan apapun untuk berbuka. Dengan penuh harapan Si Fakir keluar rumah untuk mencari rejeki demi buka puasa keluarganya.

Ia menuju di pasar hendak meminjam uang secukupnya kepada seorang muslim pemilik toko emas. Si Fakir berkata: “Tuanku, aku orang fakir, bisakah Anda meminjamiku uang sedirham untuk Ku gunakan membeli makanan berbuka keluargaku, dan sebagai balasannya aku akan mendoakanmu hari ini?” Namun si pemilik toko justru memalingkan wajahnya dan tidak memberinya pinjaman sedikitpun.

Bercucuranlah air mata Si Fakir mengalir di pipinya mengiringi hanti yang remuk pilu. Seketika itu, pemilik toko emas lainnya yang kebetulan seorang Yahudi melihatnya dan menaruh iba. Si Fakir pun mengadukan kisahnya barusan di toko sebelah. “Hari apa ini?” tanya Si Yahudi penuh selidik. “Hari Asyura” jawab Si Fakir sambil menerangkan keutamaan-keutamaannya. “Ambil ini 10 dirham dan belanjakan untuk keluargamu karena memuliakan hari ini”, sergah Si Yahudi. Gembiralah Si Fakir dan segera berbelanja dan pulang membawa makanan buka puasa bagi keluarganya.

Di malam harinya, Si Muslim pemilik toko emas bermimpi, hari kiamat telah tiba, sagat kehausan dan sedih. Setelah melihat ke sekelilingnya, ia mendapati istana yang terbangun dari mutiara putih sedangkan pintu-pintunya terbuat dari batu yakut merah. Ia segera berteriak dari luar: “Wahai pemilik istana, beri aku minum sedikit saja!” Lalu dijawab: “Ini sebenarnya istanamu kemarin hari. Setelah Kamu mengusir Si Fakir dengan hati perih, maka namamu dihapus dan dituliskan nama tetanggamu Si Yahudi yang menolong Si Fakir sebagai pemiliknya.”

Menyesal tiada guna, kekecewaan terus melanda. Pagi harinya Si Muslim Pelit mendatangi Si Yahudi Dermawan untuk membeli pahala 10 dirham yang diberikannya kepada Si Fakir kemarin hari, dengan harga 10 kali lipatnya, 100 dirham. Namun Si Yahudi bersikeras tidak akan menjualnya seraya menegaskan: “Demi Allah, aku tidak akan menjualnya, meskipun dibayar lebih dari 100 dirham, bahkan 100 dinar pun.” Si Muslim pun penasaran, siapa yang memberitahu rahasia hari Asyura ini kepada Si Yahudi, dan menanyakannya. “Yang memberitahu kepadaku adalah Allah, Tuhan yang berfirman pada apapun yang akan diciptakan ‘Kun Fayakun, jadi maka jadilah’, dan Aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan Aku bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”, terang Si Yahudi penuh haru mengiringi keislamnnya.

Demikian keberuntungan Si Yahudi yang bermodalkan khusnuzhan atas keutamaan hari Asyura’, yang tidak mengetahui keutamaannya. Karena memuliakannya ia mendapat anugerah besar dan diberi hidayah masuk Islam. Lalu bagaimana dengan orang muslim yang mengetahui dan mengakui keutamaannya namun justru mengabaikannya? (I’anah at-Thalibin, II/267-268).  

Kisah Bubur Asyura Nabi Nuh-‘Alaihis Salam-

Penggagas awal tradisi pembuatan bubur Asyura adalah Nabi Nuh–‘alaihis salam-. Dikisahkan, ketika Nabi Nuh–‘alaihis salam–turun dari kapalnya pasca banjir bandang yang menimpa serantero dunia, mereka merasakan sangat lapar, sementara perbekalannya sudah habis. Lalu beliau memerintah agar mencari lagi sisa-sisanya. Terkumpullah kemudian 7 biji-bijian yang dibawa, masing-masing sebanyak satu telapak tangan. Ada gandum, kacang adas, ful dan selainnya, dan bertepatan hari itu adalah hari Asyura. Lalu beliau membacakan basmalah dan memasaknya untuk mereka. Akhirnya mereka semua makan dan kenyang berkat barakah Nabi Nuh–‘alaihis salam–, sebagaimana isyarat al-Qur’an:

 قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ. (هود: 48)

“Difirmankan kepada Nabi Nuh–‘alaihis salam–: “Wahai Nuh, turunlah dengan keselamatan dari Kami dan berbagai keberkahan bagimu dan bagi umat-umat dari orang-orang yang bersamamu.” (Hud: 48)

 Wirid Hari Asyura

Di bacaan wirid yang dianjurkan di hari Asyura adalah bacaan wirid dari Syikh Ali al-Ajhuri:

حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ وَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ.

Yang mencukupiku hanyalah Allah dan yang paling dipasrahi segala urusan hanya Allah. Yang paling dapat mengurus urusan hanyalah Allah dan yang paling dapat menolong hanyalah Allah.

Cara: Di baca 70 kali pada hari asyura.

Faidah: Penjagaan diri dari tertimpa berbagai bahaya dan bencana pada tahun tersebut. (Nihayah az-Zain, 196)

Oleh : Ahmad Muntaha AM


Ilustrasi: askideas