Sawad Bin Qarib; Sahabat Nabi yang Mendapat Hidayah Lantaran Khadam Jin

0
777
nu'aiman

Sawad bin Qarib r.a. adalah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. yang sebelum memeluk agama Islam merupakan penyair sekaligus dukun yang sering kali berkomunikasi dengan bangsa jin. Kisah awal mula Islamnya Sawad bin Qarib telah diabadikan Ibn Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibn Katsir, vol. 4, hal. 169).

Ibn Katsir mencatat bahwa Sawad bin Qarib telah mengisahkan asal muasal dirinya memeluk agama Islam setelah ditanya mengenai hal itu oleh Umar bin Khattab r.a.

Dulu, saat Sawad sedang berada di daratan Hindia, ia memiliki khadam dari bangsa jin. Pada suatu malam saat Sawad tertidur, khadamnya datang ke dalam mimpinya. si khadam berkata, “Bangunlah, pahamilah dan berpikirlah jika memang kau punya akal. Sungguh telah diutus seorang nabi dari keturunan Lu`ayy bin Ghalib.”

Lalu kemudian khadam itu menembangkan tiga bait syair:

Aku heran pada bangsa jin beserta kemampuan mereka mencari informasi dan ikatan tali pada unta-unta dengan pelananya.”

Mereka turun ke Mekah mencari hidayah. Tidaklah jin-jin yang baik sama dengan jin yang celaka

Bangkitlah kamu menuju nabi pilihan dari keturunan Hasyim. Pakailah kedua matamu untuk menaiki puncaknya.”

Sejurus kemudian khadam itu membangunkan Sawad dan sontak membuatnya kaget.

“Hai Sawad bin Qarib, sungguh Allah Swt. telah mengutus seorang Nabi. Bangkitlah kamu kepadanya. Kau akan mendapat petunjuk.” Kata si khadam.

Sawad menceritakan pada Umar bahwa kejadian serupa terjadi hingga tiga malam berturut-turut. Kejadiannya nyaris sama semua. Hanya redaksi syair-syairnya saja yang berbeda, meskipun maksudnya juga sama.

“Setelah aku mendengarnya beberapa kali, tiba-tiba hatiku mulai mencintai Islam dari hal-hal yang berhubungan dengan Rasulullah saw.” Kata Sawad.

Akhirnya Sawad memutuskan untuk segera pergi menemui Nabi Muhammad saw. Katanya, ia telah menghabiskan sembilan pelana hingga benar-benar tiba di kota Mekah. Sesampainya di hadapan Nabi yang sedang dikerumuni banyak orang, beliau ternyata sudah tahu akan kedatangannya. Nabi menyambut Sawad dan bersabda: “Selamat datang, wahai Sawad bin Qarib. Sungguh aku telah mengetahui apa yang membawamu ke mari.”

Sawad berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah menggubah beberapa syair. Dengarkanlah.”

Rasul menjawab, “Ya. Ucapkanlah, wahai Sawad.”

Sawad pun menembangkan syairnya:

Aku didatangi khadamku setiap malam dan setiap kali tidur. Sebatas pengetahuanku, ia tak pernah bohong.”

Selama tiga malam ia berkata: ‘telah datang kepadamu rasul dari keturunan Lu`ayy bin Ghalib.’”

Aku pun memingkis sarungku dari betis. Dan seekor unta yang kuat membawaku ke tengah-tengah jalur gurun pasir.”

Sekarang aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa kau dipercaya atas segala hal yang samar.”

Aku bersaksi pula bahwa engkau adalah perantara paling dekat kepada Allah dari sekian para rasul, wahai keturunan orang-orang mulia nan suci.

Maka, perintahkanlah kami sesuatu yang datang padamu, wahai sebaik-baiknya utusan, meskipun hal itu tentang perkara uban dari rambut yang dijalin.”

Dan jadilah engkau penolongku di hari ketika tidak ada orang selainmu yang bisa memberi kecukupan pada orang bernama Sawad bin Qarib.”

Nabi tersenyum mendengarnya. Hingga gigi-gigi mulianya tampak kelihatan. Beliau bersabda, “Beruntunglah dirimu, wahai Sawad.”

Setelah mendengar kisah panjang tersebut, Umar bin Khattab bertanya kembali kepada Sawad, apalah khadam jinnya masih mendatanginya hingga saat ini.

“Tidak, sejak aku membaca Al-Qur’an.” tukas Sawad.

Kisah ini memperlihatkan kepada kita semua kalau hidayah dan taufiq adalah murni milik Allah Swt. Bahkan Rasulullah saw. tidak bisa menentukan untuk siapa hidayah Allah akan diberikan. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Qashash (28) ayat 56:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ 

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.”

Berhubungan dengan makna dari ayat di atas, Kiai Haji Musthofa Bisri pada beberapa kesempatan sering kali menyampaikan: “Hidayah adalah hak preogratif Allah Swt.”

Wallahualam.