Oleh: Moh Nasirul Haq Lc

Perdagangan bebas antar negara ASEAN yakni Masyarakat Ekonomi Asean atau MEA sudah dimulai sejak akhir tahun 2015. Melalui ASEAN free trade area (AFTA), Pasar tunggal dikawasan ASEAN melakukan pembentukan pasar tunggal di kawasan negara Asia Tenggara dimana perdagangan, tenaga kerja, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pertanian dan perikanan, sains dan tekhnologi, kesehatan, dan sosial budaya menjadi satu Indonesia sebagai salah satu anggota ASEAN harus juga mampu memberikan kontribusi dalam menyiapkan sumberdaya manusia (SDM) yang cerdas, fleksible dengan zaman, terampil dan kompetitif.

Persiapan dasar yang paling tidak harus dimiliki agar bisa bersaing pada Era MEA ini adalah ; penguasaan bahasa asing, mengaplikasikan interpesonal skill menjadi life skill, dan menginovasikan SDM dengan terampil, memiliki kemampuan leadership, dan keahlian dalam wirausaha & interpreneurship, memperkuat jaringan partner.

Sebab MEA menjadikan semuanya menjadi terbuka, misalnya orang singapore ingin berdagang di indonesia, menjadi doter, guru, teknisi, menjadi suatu kebolehan. Oleh karenanya jika kita yang notabenenya sebagai santri tidak memiliki keterampilan maka bisa kalah saing. Fenomena ini tidak bisa kita tolak akan tetapi harus kita hadapi. dan adanya MEA ini jangan sampai membuat santri minder akan tetapi justru kita jadikan moment agar santri juga bisa menjadi santripreuner yang go internasional.

Meskipun ekonomi adalah titik tumpu utamanya, akan tetapi ada sektor lain yang tak kalah penting yaitu sektor pendidikan. Yang mana sektor pendidikan sebagai upaya human invesment memanusiakan manusia, memiliki hak yang sama untuk mendapat kelayakan kehidupan agar tetap survive dalam dunia global.

Dalam pengamatan kami, Pesantren Amtsilati merupakan sebuah Pesantren yang mampu untuk mencetak komoditi santri unggulan. Melalui tangan kreatif yang dimiliki oleh beliau pengasuh pesantren Amtsilati yaitu KH Taufiqul hakim, Amtsilati terus melakukan inovasi guna mencetak Santri Zaman Now yang memiliki SDM kuat dan berdaya saing tinggi, serta pastinya memiliki way of life (Orientasi kehidupan).

Santri Zaman Now Amtsilati dalam setiap hasil intelektual dan spiritual selalu diajarkan agar tidak hanya memikirkan for bread alone (hanya memikirkan urusan perut) saja yang bermuara pada result duniawi semata, akan tetapi haruslah bersinergi dengan nilai nilai dakwah ilallah yang kelak bermuara kepada ketulusan mencari ridlo Allah swt. Dan hal itu selalu dibangun Abah yai taufiq (kami menyebut beliau) melalui Quotes beliau yang selalu kami tancapkan di hati ; “Dengan berfikir dan berdzikir hidup jadi modern.”

Nilai nilai Dzikir; The Philosophy of Remembrance menjadi cirikhas santri Amtsilati dalam setiap kegiatan Ubudiah (ibadah) ataupun Muamalah (interaksi sosial). Tarbiyah (pendidikan) dzikir di Amtsilati di asah melalui Riyadloh / tirakat. Santri Amtsilati diwajibkan berpuasa senin kamis, ngaji Al Qur’an, Sholat malam (tahajjud), Sholat pagi (Dluha), sholat sunnah Qobliah (sebelum) dan Bakdiah (sesudah) sholat fardlu, membaca Hizib dan istighotsah, ziarah kubur dan maulid nabi, dan toriqoh (bagi yang mau).

Sementara nilai nilai intelektual berpikir selalu di asah dalam setiap kegiatan yang ada di pesantren. otak santri Amtsilati harus terus diputar menghafalkan Bait Nadzom Alfiyah dan kitab kuning, selain itu penguasaan bahasa asing tak luput dari target, serta program penunjang lainnya yang memerlukan kinerja otak secara maksimal agar benar menjadi intelegent intellectual.  perlu dicatat, santri Amtsilati di tuntut untuk tidak kolot dan monoton akan tetapi responsibility harus tetap dinamis menghadapi dinamika kekinian.

Menurut Muhammad Hatta, “kaum intellectual hanya bagian sedikit dari komoditi masyarakat. Namun begitu, karena tingkat kualitas yang tinggi, mereka sering tampil dalam kondisi genting mencarikan solusi bagi masalah yang dihadapi komunitasnya.”

Santri amtsilati paham betul akan pentingnya intellektualitas, dan santri Amtsilati beranggapan  bahwa orang intellek akan mendayagunakan semua skill dan knowledge yang dibutuhkan untuk berprestasi ia akan memaksimalkan Attitude positif untuk mendorong kebutuhan untuk memajukan diri dan lembaga tempatnya berkiprah. Maka jangan heran sudah banyak santri Amtsilati berprestasi dikancah lokal maupun nasional.

Santri amtsilati dalam beraktifitas spiritual maupun intellectual selalu di ajarkan untuk bekerja sama dengan sesama santri amtsilati. Baik itu saat hafalan, sorogan, sharing program. Kecerdasan santri yang menular pada santri lainnya akan menjadi kecerdasan kolektif pesantren. Pesantren yang cerdas pada akhirnya akan lebih mampu mewujudkan tujuan dan target karena semua santri terikat pada fokus dan tujuan yang sama.

Bisa saja sebuah pesantren memiliki orang orang pintar, tapi IQ pesantrennya secara keseluruhan jongkok, karena masing masing orang cerdas itu bergerak sendiri sendiri alias tidak terorganisir. Akibatnya konfrontasi antar anggota lebih mengemuka. Tidak ada kesatuan pikir untuk mewujudkan target. Pesantren tinggal menunggu waktu kejatuhannya. Itulah yang dihindari di Amtsilati.

Santri Zaman Now Amtsilati memiliki karakter akhlakul karimah yang luhur sebagai seorang intelektual, kiai taufiq selalu menekankan penanaman moral dalam keseharian santri amtsilati. Hal itu selalu ditanamkan pada santri, mulai dari cara minum, cara berbicara, cara duduk, cara berfikir, cara berkreasi, bahkan etika pandang memandang orang lain yang bukan mahromnya.

Meskipun santri Amtsilati lebih terkenal karena program metode baca kitabnya, Abah yai telah menyiapkan program untuk kader Santri Zaman Now Amtsilati, yang memiliki competitive advantage dan comparative advantage. Nah, competitive advantage biasanya di arahkan pada penguasaan kemajuan tekhnlogi. Sementara comparative advantage lebih mengarah kepada sumberdaya insani yang ada. Contoh real nya bisa kita lihat dari sekolah kejuruan yang mulai didirikan dan ceramah abah yai sendiri selalu mengolaborasikan kedua aspek tersebut.

Terkait leadership Amtsilati punya cara sendiri membangunnya, santri yang sudah lulus ataupun yang belum lulus namun memiliki keahlian, maka oleh abah yai akan diberikan amanah mengembangkan interpersonal skill yang dimilikinya. Misal pengobatan prana, pencak silat, marching band, kaligrafi, design and lay out, tata boga, tata busana, dll.

Sementara Abah Yai sendiri bisa menjadi teladan bagi santri sebagai kiai Interpreuner yang handal. Mungkin banyak orang yang memiliki karya berfikir mencetak karya tulisnya di percetakan orang lain, berbeda dengan abah yai, yang mana beliau berfikir bagaimana memiliki percetakan mandiri. Tidak hanya itu, abah yai juga membangun minimarket dan toko bangunan sehingga pembelanjaan pesantren terkait akomodasi dan infrastrktur lebih terjangkau dan efisien.

Usaha kecil dan menengah (UKM) pun dibangun oleh abah yai di banyak sektor. Ini menunjukkan bahwa abah yai memberikan uswatun hasanan (contoh yang baik) bagaimana mengelola keuangan yang baik. Padahal beliau bukan putra seorang kiai maupun orang kaya, akan tetapi benar benar membangun usaha dari Nol.

Kendati demikian, abah yai yang sudah menjadi jutawan, beliau tetap mengajarkan untuk take and give (mendapatkan dan memberi). Maksudnya adalah; abah yai secara kontinyu memberikan sodaqoh kepada masyarakat setiap bulannya hingga puluhan juta. Sekaligus mendapatkan implementasi dakwah di masyarakat, yang mana awalnya masyarakat sekitar masih banyak yang tidak berbusana islami dan enggan mengaji, namun seiring kedermawanan dan jiwa sosial abah yai yang tinggi. Masyarakat mulai sadar akan uslub dakwah (metode dakwah) abah yai, sehingga hari ini masyarakat sekitar pun berpenampilan islami dan menghadiri rutinan pengajian pesantren.

Abah yai juga mengingatkan sejak awal, bahwa setiap santri yang belajar di Amtsilati harus tetap tunduk dan tawadlu meski telah mencapai target keilmuan. Hal ini beliau tuliskan dalam filosofi salah satu bait Alfiyah berikut;

بالجر والتنوين والندا وال *** ومسند الاسم تميز حصل

“Derajat yang tinggi di sisi Allah diperoleh dengan JER (harus tunduk dan tawadlu), TANWIN (niat yang benar mencari ridlo Allah), NIDA (berdzikir), AL (berfikir), MUSNAD ILAIH (beramal nyata).”

Amtsilati “Mati satu tumbuh seribu”, itulah kata pepatah. Saya akui memang banyak lembaga yang mampu menciptakan competitive advantage dan comparative advantage nya, akan tetapi jarang ada lembaga menjaganya secara berkesinambungan yang sustinable competitiveness alias bertahan lama. Nah, amtsilati telh membuktikan bahwa amtsilati mampu menjaga hal itu. Terbukti berapa santri yang silih berganti setiap 3 tiga bulan sekali maupun program kilatan mingguan, belum lagi pesantren cabang yang sudah ada dimana mana.

Pesantren Amtsilati sendiri mengalami indeks perkembangan yang terus melejit signifikan dari tahun ke tahun. Santri terus bertambah, gedung terus membangun, tanah terus meluas, pesantren cabang semakin menyebar, dan amtsilati berkibar dimana mana.

Saya bangga menjadi santri amtsilati, saya sangat terispirasi oleh beliau kiai muda Romo KH Taufiqul Hakim berserta ibu nyai sekalian. Mungkin pembaca masih belum percaya tentang apa yang kami tuliskan. Namun itu tidak penting, datang sajalah sendiri ke kecamatan bangsri kabupaten jepara jawa tengah. Lihat, Dengar dan Saksikan kehebatan Amtsilati membentuk pesantren yang berkemajuan dan mandiri, membentuk masyarakat sekitar yang madani, serta mecetak kader Santri Zaman Now Amtsilati.

Sekian,  Salam Satu hati.

Kediri, 4-12-2017.