Refleksi Hadis “Tebarkanlah Ucapan Salam”

0
123

Nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam diutus di jazirah Arab, namun beliau tidak hanya diutus untuk bangsa Arab. Beliau diutus bahkan untuk semesta alam. Beliau diutus menyebarkan agama Islam. Membangun peradaban yang bermartabat, dan menghancurkan budaya-budaya jahiliyyah yang menyimpang dari ajaran agama.

Beban di pundak beliau seakan semakin berat, kala waktu itu beliau juga dinantikan kehadirannya di Yatsrib, sekarang menjadi Madinah, juga salah satunya untuk mendamaikan pertikaian antar dua suku utama kota itu, Aus dan Khazraj.

Pada akhirnya, beliau pulalah yang kemudian membangun peradaban dan menjadikan Madinah sebagai kota yang mutamaddin, sebuah cikal bakal negri yang membentang luas, mengalahkan luasnya imperium adikuasa Persia saat itu. Sebuah gambaran kota yang tetap damai, meski dihuni berbagai macam pemeluk agama berbeda dengan berdampingan. Hidup rukun meski tak sama, hidup saling berbagi meski sama-sama tak begitu memiliki.

Pesan pertama nabi ketika menyelesaikan perjalanan hijrah merupakan sebuah catatan penting bagi kita. Beliau mewasiatkan empat hal untuk penduduk kota yang telah lama menunggu beliau.

عن أبي يوسف عبد الله بن سلام رضي الله عنه قال: لما قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة انجفل الناس قِـبَـله، وقيل: قد قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم -ثلاثا-، فجئت في الناس لأنظر، فلما تبينت وجهه عرفت أن وجهه ليس بوجه كذاب، فكان أول شيء سمعته تكلم به أن قال: (يا أيها الناس: أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصِلُوا الأرحام، وصلّوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام) رواه أحمد والترمذي والحاكم، وصححه الترمذي والحاكم ووافقه الذهبي

Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka berkata, ‘Rasul telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah ‘Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalin silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur. Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.’” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Al-Hakim) 

Yang beliau sampaikan pertama kali bukanlah “dirikanlah salat malam”. Bukan itu yang beliau dahulukan pertama kali dalam sabda beliau. Justru hal tersebut menjadi hal terakhir dalam pesan beliau. Ini memiliki makna yang dalam sebenarnya kala kita renungkan baik-baik.

Hal pertama yang paling penting, yang menjadi wasiat pertama nabi adalah “sebarkanlah salam”.  Secara harfiah memang bermakna sebarkanlah ucapan “assalâmu’alaikum”, namun ada kandungan lain. Yang sejatinya kita sebarkan pertama kali adalah kedamaian. Membutuhkan kedamaian untuk membangun sebuah kota yang rukun. Sejatinya yang kita utamakan sebelum memulai membangun banyak hal adalah membangun arti kedamaian.

Kemudian nabi melanjutkan wasiatnya dengan “sedekahkanlah makanan”. Yang kita sedekahkan secara lahiriyah adalah sebentuk makanan pokok. Namun lebih dari itu, kita diberi wejangan setelah terbentuknya kedamaian dengan memperkuat ekonomi. Memperkuat kekuatan dan modal untuk mulai membangun masyarakat yang lebih bermutu. Tidak dengan ekonomi yang lemah, namun dengan ekonomi yang kuat. Memliliki banyak harta berarti memliki banyak kesempatan untuk banyak-banyak bersedekah.

Yang ketiga, “jalin silaturahim”. Memiliki masyarakat yang damai dan kuat membutuhkan kekompakan. Membutuhkan rasa saling mengerti dan saling menyayangi. Dengan silaturahim, hubungan antar satu insan dengan insan yang lain akan semakin kuat. Hubungan persaudaraan akan terbentuk, dan gambaran negri yang mutamaddin akan semakin dekat. Yang nampak sebenarnya adalah persaudaraan lahir, namun sejatinya, diam-diam kita tengah membangun sebuah komunitas yang bersatu lahir dan batin.

Baru kemudian nabi berwasiat untuk beribadah kepada-Nya, “dirikanlah salat tatkala orang-orang sedang pulas tertidur”. Sebuah tujuan akhir, tatkala sudah terbentuk negri yang damai dan kuat, barulah kita dapat tenang beribadah kepada-Nya. Setelah terbentuk sebuah masyarakat yang madani, baru kita dapat dengan tenang menyembah-Nya.

Dalam hadis lain nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam juga bersabda,

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم أي الإسلام خير قال تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ.

Dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, seorang lelaki pernah bertanya kepada nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam, manakah ajaran Islam yang paling baik? Nabi menjawab, “kamu memberikan makanan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan tak kamu kenal.” (H.R. Bukhari)

Syaikh Badruddin al-‘Aini memberikan penjelasan mengapa nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam khusus menyebut jika memberi makanan dan mengucapkan salam merupakan dua hal yang utama,

ومنها ما قيل: لم خص هاتين الخصلتين في هذا الحديث؟ وأجيب: بأن المكارم لها نوعان. أحدهما: مالية أشار إليها بقوله: (تطعم الطعام) ، والآخر: بدنية أشار إليها بقوله: (وتقرأ السلام) ويقال: وجه تخصيص هاتين الخصلتين وهو مساس الحاجة إليهما في ذلك الوقت لما كانوا فيه من الجهد، ولمصلحة التأليف

Mengapa dua hal itu dikhususkan dalam hadis tersebut? Dijawab, bahwasanya perbuatan mulia itu ada dua macam. Pertama adalah menyangkut materi, yang diisyaratkan dengan sabda nabi ‘memberikan makanan’, dan yang satunya adalah yang menyangkut ragawi, yang diisyaratkan dengan sabda nabi ‘mengucapkan salam’. Ada juga yang menjawab, sebab dua hal tersebut merupakan kebutuhan pada waktu itu. Karena pada saat itu masyarakat dalam kondisi susah, dan ada pula maslahat yaitu meluluhkan hati orang-orang.” (Syaikh Badruddin al-‘Aini, ‘Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari, [Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Araby, tth.], vol I, hal. 138-139.)

Kita patut berkaca pada saudara-saudara kita yang jauh, di negri mereka yang dilanda peperangan, yang kedamaiannya hilang, yang ekonominya berantakan, yang warganya saling bermusuhan. Bagaimana mungkin mereka dapat beribadah dengan tenang? Bagaimana mungkin mereka dapat menunaikan salat malam dengan khusu’, sementara nyawa mereka sedang dalam bahaya?

Ini menjadi sebuah renungan yang paling penting. Sebenarnya manakah yang paling harus kita dahulukan? Egois membentuk komunitas dengan membawa-bawa nama Islam? Ataukah lebih baik membangun sebuah bangsa yang kuat dan damai terlebih dahulu, hingga akhirnya dengan sendirinya agama Islam dapat membentuk komunitas yang kuat didalamnya?

Wallahu a’lam