Pesan Persaudaraan di Balik Syariat Shalat Berjamaah

0
104
Panduan Praktis Shalat Jumat

Shalat jamaah adalah merupakan syiar Islam yang sangat ditekankan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya:

صَلَاةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الفَذِّ بسَبْعٍ وعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian dengan selisih (pahala) dua puluh tujuh derajat.” (HR Bukhari).

Khusus untuk shalat Isya dan Subuh Rasul saw. bersabda:

لَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا 

“Andai orang-orang tahu ganjaran yang terdapat pada shalat Isya dan Subuh (berjamaah), niscaya mereka akan menghadirinya meski dengan merangkak.”

Cukuplah kiranya dua hadis di atas menjadi bukti besarnya keutamaan shalat berjamaah. Keunggulannya dari pada melakukan shalat seorang diri tak perlu diragukan. Tapi, kenapa? Ada hikmah apa di balik shalat berjamaah hingga Nabi Muhammad saw. mengandaikan orang-orang akan mau menghadirinya meski harus merangkak? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya jika terlebih dahulu kita tahu cerita singkat di belakangnya.

Melakukan ibadah shalat dengan berjamaah sebenarnya sudah diberlakukan sejak awal shalat lima waktu disyariatkan. Ada riwayat menyebutkan bahwa selepas peristiwa Mikraj, pada pagi harinya Malaikat Jibril a.s. shalat berjamaah bersama Nabi Muhammad saw. Riwayat lain menegaskan bahwa selama di Mekah, Nabi sering melakukan shalat berjamaah dengan Ali r.a. dan Khadijah r.a. (Abdullah bin Hijazi, Hasyiyah Asy-Syarqawi, vol. 2, hlm. 53).

Namun selama di Mekah itu shalat jamaah dilakukan secara diam-diam, karena pada waktu itu jumlah umat Islam masih sedikit dan selalu mendapat penentangan dan bullying dari orang-orang kafir Quraisy. Barulah setelah Nabi hijrah ke Madinah, beliau mensyiarkan shalat berjamaah secara terang-terangan bersama seluruh umat Islam. (Abdul Hamid asy-Syarwani, Hawasyi ala Tuhfah al-Muhtaj, vol. 2, hlm. 246).

Nah, dari periode inilah hikmah-hikmah di balik shalat berjamaah banyak dikuak oleh para ulama. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Fiqh as-Sirah (hlm. 211) mencatat, sesampainya di Madinah di antara misi pertama Nabi Muhammad saw. adalah membangun pemerintahan dan peradaban masyarakat yang islami. Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkanlah tiga hal:

  1. Membangun masjid
  2. Menyimpulkan tali persaudaraan di tengah umat Islam secara luas dan khususnya antara kaum Muhajirin (umat Islam yang mengikuti Nabi hijrah ke Madinah) dan Anshar (kaum pribumi Madinah yang menyambut hijrah Nabi dan kaum Muhajirin dengan baik dan membantu perjuangannya)
  3. Adanya piagam kesepakatan untuk dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat antar sesama muslim dan juga lintas agama

Yang pertama dan kedua dari ketiga hal ini memiliki keterkaitan yang sangat erat. Kedua-duanya juga erat hubungannya dengan tema bahasan kita kali ini. Al-Buthi memberi penjelasan:

إِنَّ مِنْ نِظَامِ الْإِسْلَام وَآدَابِهِ شُيُوعُ آصِرَةِ الْأُخُوَّةِ وَالْمَحَبَّةِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَلَكِن شُيُوعُ هَذِه الآصِرَةِ لَا يَتِمُّ إلَّا فِي الْمَسْجِدِ ؛ فَمَا لَمْ يَتَلَاقَ الْمُسْلِمُونَ يَوْمِيًّا عَلَى مَرَّاتٍ مُتَعَدِّدَةٍ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ وَقَدْ تَسَاقَطَتْ مِمَّا بَيْنَهُم فَوَارِقُ الْجَاهِ وَالْمَالِ وَالِاعْتِبَارِ لَا يُمْكِنُ لِرُوحِ التَّآلُفِ وَالتَّأٓخِي أَنْ تُؤَلِّفَ بَيْنَهُم .

“Di antara aturan dan tata krama agama Islam adalah menyebarnya ikatan cinta dan persaudaraan di antara kaum muslimin. Akan tetapi ikatan ini tidak akan sempurna, kecuali di dalam masjid. Maka selagi dalam kesehariannya orang-orang Islam tidak saling bertemu di rumah Allah dalam keadaan steril dari pembeda-pembeda berupa kekayaan dan pangkat, tidak mungkin jiwa persaudaraan bisa menimbulkan kasih sayang di antara mereka.” (Fiqh as-Sirah, hlm 212).

Bagi saya yang menghadiri shalat berjamaah asal ikut imam saja tanpa memikirkan hal-hal yang tersirat di dalamnya, paparan Al-Buthi ini sangat mengagumkan. Persaudaraan antara umat Islam tidak akan mudah terwujud selama umat Islam tidak mengesampingkan perbedaan suku, pangkat, kekayaan dan segala perbedaan-perbedaan lain yang menjadikan si A merasa lebih mulia dari pada si B. Dengan sering berjumpa di satu tempat, bersama-sama dalam satu barisan dengan satu orang pemimpin, tanpa melirik perbedaan yang ada, untuk melaksanakan ibadah di hadapan Allah Swt., barulah misi Nabi tentang persatuan umat Islam dapat diwujudkan.

Kita yakin, masih banyak lagi hikmah tersirat dari shalat jamaah yang belum terkuak. Tapi, jika hikmah yang telah disampaikan di atas direnungkan lantas kemudian kita amalkan di luar shalat, subhanaLlah, maka tak akan ada lagi ceritanya si kaya menilai dirinya lebih berharga dari si miskin; tak akan ada lagi sejarahnya si miskin merasa minder di hadapan si kaya; semuanya sama di hadirat Allah Swt.