aswajamuda.com (190516), Surabaya – Muhammad bin Darwisy bin Muhammad al Hut al Biruti as Syafi’i (1209-1276 H/1795-1859 M) dalam karyanya, Asna al Mathalib fi Ahadits Mukhtalifah al Maratib (343), menjelaskan:

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سورة يٰسٓ لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُّعاَءِ الْمَشْهُورِ فَمِنْ تَرْتِيبِ بَعْضِ أَهْلِ الصَّلَاحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ. قِيلَ هُوَ الْبُونِيُّ وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ.

“Adapun tradisi Yasinan pada malam Nishfu Sya’ban setelah shalat Maghrib dan doanya yang masyhur, maka merupakan kreasi salah seorang ahli shalah (ulama shaleh). Ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah al Buni. Mengamalkan tradisi seperti Yasinan Malam Nishfu Sya’ban itu tidak apa-apa (boleh).”

SEKILAS BIOGRAFI AL BUNI

Ahmad bin Ali bin Yusuf, Abu al ‘Abbas al Buni (w. 622 H/1225 M)

Al Buni merupakan nisbat pada daerah Bunah di Afrika.

Beliau seorang sufi asal Maroko yang meninggal di Kairo dan penulis produktif kitab-kitab hikmah. Di antaranya Syams al Ma’arif yang telah dicetak dan disebut dengan judul Syams al Ma’arif wa Lathaif al ‘Awarif fi ‘Ilm al Huruf wa al Khasanah setebal empat jilid dan al Lum’ah an Nuraniyyah (manuskrip).

Oleh : Ahmad Muntaha AM

Referensi :

  1. Muhammad bin Darwisy al Biruti, Asal Mathalib fi Ahadits Mukhtalifah al Maratib, 343.
  2. Khairuddin az Zirikla, al A’lam, I/174.
  3. Al Babani, Hidayah al ‘Arifin, I/47.