Oleh: Ahmad Muntaha AM

Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama menekankan pentingnya wawasan luas bagi pengkritik NU. Tidak asal comot ayat al Qur’an dan Hadits tapi salah pemahaman.

Sebagaimana keluwesan dalam sikap-sikap kemasyarakatannya, dalam pandangan keagamaannya pun yang berpedoman pada empat mazhab di bidang fikih, mengikuti pendekatan Asy’ari dan Maturidi di bidang akidah dan konsisten merujuk al Junaid al Baghdadi, al Ghazali dan sufi semisalnya di ranah tasawuf, NU dikenal luwes, moderat sekaligus lugas.

Penuh ketegasan beliau menyatakan:

رحم الله امراء عرف قدره فاراح العباد والبلاد من فتنته.
“Semoga Allah merahmati orang yang menyadari kadar keilmuan dirinya, sehingga orang-orang dan negeri-negeri terhindar dari fitnah yang ditimbulkannya.”

Dalam hal ini, beliau juga mengutip pesan hikmah dari gurunya, Syaikh Syu’aib bin ‘Abdurrahman:

وما التضييق على عباد الله الا لقصور الباع وقلة الاطلاع.
“Tidaklah mempersempit (hukum agama bagi) masyarakat kecuali karena sempitnya pandangan dan minimnya wawasan.”

Karenanya, merujuk pernyataan KH. Hasyim Asy’ari ini, hendaknya para pengkritik Jam’iyyah NU tidak hanya berbekal semangat, tapi harus diimbangi dengan ilmu pengetahuan yang cukup dan ideal.

Bila demikian sikap KH. Hasyim Asy’ari terhadap pengkritik dari luar keluarga besar NU, bagaimana sikap beliau terhadap orang yang mengaku-ngaku NU tapi gemar mengkritik dan membullynya secara serampangan? Sederhana bukan?

__
Sumber bacaan: Muhammad Hasyim Asy’ari al Jumbangi, Ziyadah Ta’liqat, (Jombang: Maktabah at Turats al Islami, tth.), edisi: Muhammad ‘Isham Hadziq, h. 50-51.


ilustrasi: nu.or.id