Nabi: Segar Jasmani dan Ruhani untuk Melihat Allah (Hikam-33)

0
105
melihat allah

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Dalam kalam hikam-33 Syaikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan prinsip, bahwa sebenarnya Allah tidak terhalang dari manusia, tapi manusialah yang terhalang dari-Nya. Beliau katakan:

اَلْحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجُوبٍ عَنْكَ وَإِنَّمَا الْمَحْجُوبُ أَنْتَ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهِ.

Allah yang Maha Tetap Wujud-Nya tidak terhalang darimu, niscaya dirimu lah yang terhalang dari melihat-Nya.

 

إِذْ لَوْ حَجَبَهُ شَيْءٌ لَسَتَرَهُ مَا حَجَبَهُ، وَلَوْ كَانَ لَهُ سَاتِرٌ لَكَانَ لِوُجُودِهِ حَاصِرٌ وَكُلُّ حَاصِرٍ لِشَيْءٍ فَهُوَ لَهُ قَاهِرٌ . وَهُوَ الْقَاهرُ فَوْقَ عِبَادِهِ (الأنعام: 18)

“Sebab, andaikan ada sesuatu yang menghalangi Allah, niscaya penghalang itu menutupi-Nya; andaikan Allah ada yang menutupi, niscaya wujud-Nya ada yang membatasi; sementara sesuatu yang membatasi terhadap selainnya maka ia pasti menguasainya secara sempurna, seiring firman Allah: ‘Dan Allah Zat yang maha menguasai secara sempurna di atas (kekuasaan) hamba-hamba-Nya.’ (QS. Al-An’am: 18).”

Allah Tidak Terhalang, Tapi Manusia

Secara lugas dalam al-Hikam al-‘Athaiyyah Syarh wa Tahlil (II/47) Syaikh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi menjelaskan, sangat beda ucapan: “Matahari tertutup dari pandanganmu” dengan ungkapan: “Pandanganmu tertutup dari matahari.” Sebab, ungkapan pertama berarti matahari memang tertutup awan secara sempurna sehingga manusia tidak bisa melihatnya; sementara ungkapan kedua bermakna mata manusia yang tertutup dengan sesuatu, bahkan mungkin sesuatu yang menjadi bagian dari tubuhnya—seperti sakit mata umpamanya—sehingga ia tidak bisa melihat matahari.

Seperti itu pula maksud Syaikh Ibn ‘Athaillah, kapanpun, di manapun dan dalam kondisi apapun Allah tidak terhalang dari manusia, tapi manusia lah yang terhalang dari melihat Allah dengan mata batinnya. Andaikan Allah menghendaki menghilangkan hijab (penghalang) dari siapapun, bagaimanapun, dan kapanpun itu, niscaya ia akan melihat keagungan Allah dengan mata batinnya. Inilah maqam ihsan yang juga diungkapkan dengan istilah maqam musyahadah, sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Majid as-Syarnubi (Syarh al-Hikam al-‘Athaiyyah, 43).

Baca Juga : Semakin Syukur Semakin Makmur (Hikam-30)

Sebab andaikan Allah yang terhalang dari manusia, berarti ada sesuatu yang menghalangi Allah. Bila demikian adanya, pasti Allah terbatas dan terkalahkan secara sempurna oleh penghalang itu. Karenanya, pengandaian ini mustahil dan bertentangan dengan firman Allah:

وَهُوَ الْقَاهرُ فَوْقَ عِبَادِهِ. (الأنعام: 18)

“Dan Allah Zat yang maha menguasai secara sempurna di atas (kekuasaan) hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’am: 18).

Penghalang Manusia

Lalu apa yang menjadi penghalang manusia dari Allah—subhanahu wa ta’ala—?

Dalam Iqadh al-Himam (II/80) Ibn ‘Ujaibah menjelaskan, manusia terhalang dari Allah karena i’tikadnya terhadap selain Allah dan ketergantungan hatinya terhadap hal-hal yang kasat mata (terindra).

Baca Juga: Tak Lelah Ibadah, Tak Henti Mengupdate Hati (Hikam-31)

Cara Menembus Penghalang antara Manusia dengan Tuhannya

Kemudian bagaimana cara menghapus atau menembus penghalang manusia dari Tuhannya? Apakah dengan memerangi tabiatnya dan memutus diri dari kebutuhan jasadnya, seperti memutus makan, minum dan semisalnya?

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi menerangkan (al-Hikam al-‘Athaiyyah, II/54), caranya hanya dengan mendamaikan (memanage) antara ruh dan berbagai kecenderungannya dengan jasad manusia dan berbagai kebutuhannya. Yaitu seluruh jasad dan berbagai kebutuhannya harus diposisikan sebagai pelayan ruh, bukan sebaliknya. Karena ruh inilah yang abadi sementara jasad segera sirna.

Hikmah Utama

Karenanya, yuk kita lebih perhatikan rohani kita yang selama ini terlupa, sembari meneladani para wali dan orang-orang shaleh dalam membersihkan hati dengan giat beribadah semampunya. Kita manfaatkan kesehatan jasmani untuk menyegarkan rohani secara optimal demi mencapai ridha-Nya. Segar jasmani segar rohani.
Walla hu A’lam

Baca Juga: Hikmah Pergaulan (Hikam-32)

Sumber:

  1. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-hikam al-‘Atha’iyyah; Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), II/47 dan 54.
  2. Ibn ‘Abbad an-Nafazi ar-Randi, Syarh al-Hikam, (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tth.), 29.
  3. Al-Kharasyi dkk., Hawasyi wa Taqrirat Hidayah al-Murid, (Kairo: Dar al-Bashair, 1430 H/2009 M), I/637.
  4. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam dalam Ib’ad al-Ghumam, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), II/80.
  5. Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421 H/2000 M), cetakan pertama, XIII/12.
  6. Ilustrasi : Edited From hcxpyz
SHARE
Previous articlePengajian Lucu dan Banyak Humor, Haram ?
Next articleTarekat Tijaniyah: Bahtera Spiritual Negeri 1000 Benteng
PP Imadut Thulabah, Nepak, Mertoyudan Magelang. PP Nurul Hidayah, Pangen Juru Tengah, Purworejo. PP Lirboyo Kota Kediri (2001-2010). Sekretaris PC LBM NU Kota Surabaya (2013-2015 & 2015-2017). Narasumber Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur (2014-sekarang). Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur (2013-sekarang). Pengurus LTN HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo PUSAT) dan Lirboyo Press. Penulis Buku Populer Khazanah Aswaja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here