Metode Talaqqi Keilmuan, Arti dan Urgensinya.

0
4648

Judul Asli: Seberapa pentingkah talaqqi keilmuan?

Oleh: Gus M. Masrukhan (PP Al Inayah Wareng, Tempuran, Magelang)

Kisah An-Nawawi

Suatu hari Imam Nawawi masuk angin. Beliau yang ketika itu berusia kisaran 18 tahun mengalami demam karena terlalu sering mandi. Merasa ada yang aneh, beliau menghadap kepada gurunya untuk mendapat pencerahan. Usut punya usut ternyata itu bersumber dari muthala’ah (mengkaji) sendiri kitab yang menjelaskan hal-hal yang mewajibkan mandi, namun ternyata pemahaman beliau belum tepat. Tidak dengan metode talaqqi. Kitabnya benar tapi pemahaman kurang tepat karena belum ditashih kepada guru bisa berakibat fatal.

Fenomena Belajar Agama Masa Kini

Di masa kini membaca dan mendengar ajaran agama sangat mudah. Asal punya kuota internet atau sambungan wi-fi Anda bisa mendownload buku atau kitab, melihat youtube, membaca kultwit, membaca status facebook hingga tausiyah pendek di grup WA atau channel Telegram. Walau demikian metode tersebut belum bisa menjamin pemahaman Anda akan teks yang dibaca atau didengar benar. Ada satu yang tak bisa tergantikan yaitu metode talaqqi.

Urgensi Metode Talaqqi

Talaqqi secara sederhana saya artikan dengan menerima ilmu secara langsung melalui pertemuan. Dalam talaqqi ada tatap muka dan komunikasi.

Secara ringkas dapat saya simpulkan talaqqi mencakup dua hal; talaqqi pemahaman dan talaqqi cara memahami.

Talaqqi Pemahaman

Ketika kita membaca atau mendengarkan sendiri, pemahaman kita akan sangat terpengaruh oleh pra anggapan dan ragam pengetahuan yang ada dalam pikiran kita. Akibatnya bisa-bisa kesimpulan yang kita dapat jauh dari yang dimaksud oleh pengarang.

Di sinilah pentingnya kita bertatap muka dengan orang yang memiliki pengetahuan tersebut bersanad hingga pengarang, sehingga ada interaksi. Penjelasan yang tak termaktub bisa diperoleh, upaya untuk meminta penjelasan juga terbuka lebar.

Pengalaman Penulis Membaca Kitab Wahabi

Terkait ini penulis punya pengalaman terjebak oleh belajar non talaqqi. Penulis pernah membaca beberapa karya Syaikh Ibn Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Ia mempelajari dengan autodidak dan tentunya dengan basic keilmuan yang bernuansa Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kitab tersebut dibaca, ditelaah dan disimpulkan. Suatu ketika ia bertemu dengan orang yang mempelajari langsung dari para Syaikh Wahabi. Saat itu ia menyadari ada beberapa kesimpulan dan pemahaman yang salah dan tak sesuai pemahaman Wahabi. Kenapa? Karena tak mempelajari langsung dan upaya memahami banyak terpengaruh oleh ajaran Asya’irah yang kontra.

Talaqqi pemahaman ini sangat penting terutama terkait fikih amaliah, ilmu akidah (terutama yang cukup pelik seperti konsep kasab, shifat khabariyah) dan tasawuf. Apalagi yang terakhir ini, tasawuf merupakan ilmu rasa sehingga tanpa mempelajari dari ahlinya rawan salah pemahaman. Andai bisa memahami teks pun sebatas kulit bukan inti yang dimaksud pengarang.

Talaqqi Cara Memahami

Sedangkan talaqqi yang kedua adalah cara memahami. Menurut saya ini lebih penting daripada talaqqi pertama. Talaqqi pemahaman akan berbuah paham teks namun hanya seperti hardisk atau penyimpanan awan, tak lebih. Pengetahuan tersebut akan bernilai kecil bila tak dibarengi cara mengolah pemahaman tersebut. Kalau dalam karya-karya klasik kita akan dikenalkan dengan metode pengembangan, fa’ tafri’, iqtidha’, ad-dhahir, mafhum dan semisalnya. Nah, untuk bisa memperlakukan teks dengan benar, cara pengolahan ini butuh talaqqi biar tak terlalu jauh dari maksud pengarang. Memahami teks berarti kita berusaha menyelami alam pikiran pengarang seutuhnya serta membawa cara berpikirnya dalam memahami realita. Agar hasil ini mendekati sempurna perlu bertalaqqi dari orang-orang yang memperoleh langsung gaya berpikir dengan bersanad hingga pengarang.

Imam Syathibi mengatakan dalam Al-Muwafaqat mengatakan:

“Di antara metode keilmuan paling bermanfaat sehingga bisa benar-benar paham adalah mengambil ilmu tersebut dari para ahlinya yang telah benar-benar paham dengan sempurna.”

Begitu juga talaqqi dalam pengembangan pemahaman dan kontekstualisasi.

Keunikan Bahtsul Masail

Anda mungkin akan heran melihat hasil-hasil bahtsul masail. Di sana didapati persoalan kekinian diselesaikan dengan teks-teks 10an abad yang lalu. Bahtsul masail mengandung seni yang tak bisa diperoleh dengan instan. Ia harus diperoleh melalui talaqqi kontinyu sehingga metode dan seni tersebut sudah mendarah daging dan menjadi corak berpikirnya. Karena itu tak heran orang yang tak pernah berbahtsul masail atau mentafri’ masalah akan merasa sangat bertele-tele dan menjemukan.

Ini tentang seni, seni yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Walau sama-sama belajar, antara yang bertalaqqi dan tidak akan menghasilkan buah berbeda.

Belajar via Youtube?

Mungkin akan timbul pertanyaan, bukankah penjelasan panjang secara kontinyu itu bisa diperoleh melalui istiqomah melihat youtube?

Hmm, dalam interaksi dan tatap muka ada hal besar yang tak dapat tergantikan. Tak semua ilmu bisa ditransfer secara verbal atau melalui body language. Ikatan batin justru sering lebih berguna daripada komunikasi verbal.

Pesan Para Ulama

Dalam diam dan bertemu ada banyak yang tak terucap tapi bisa dimengerti dan diperoleh. Pertemuan langsung yang intens akan menimbulkan kedekatan jiwa yang tanpa disadari akan berbuah transfer kuat semangat, keteguhan hati, karakter keilmuan, kepribadian, cara berpikir, dan tingkah laku. Imam Ibnu Khaldun dalam Mukaddimahnya mengatakan:

“Malakah (karakter keilmuan) yang dihasilkan melalui mubasyarah (pertemuan langsung) dan talqin (transfer keilmuan) itu lebih kuat dan lebih menancap. ”

Imam Murtadha az-Zabidi dalam Ithaf juga mengatakan:

“Para ulama telah sepakat atas keutamaan belajar mengajar melalui mulut para guru.”

Dalam satu keterangan malah dijelaskan, bahwa dua orang yang sering bertemu berkumpul dengan intens dan intim yang disertai kesatuan hati bukan hanya karakter yang menjadi sama, kondisi fisik dan wajahpun akan semakin mirip.

Begitulah, mempelajari ilmu agama tak bisa dengan cara melalui hubungan jarak jauh saja. Dalam tatap muka langsung ada ikatan batin, menghasilkan malakah (karakter), mengurai persoalan yang belum jelas, kesempatan bertanya jawab, kesempatan memiliki pemahaman yang lebih kuat dan membekas.

Di sana juga ada pendidikan adab bagaimana seharusnya sikap lahir batin seorang pelajar kepada guru. Para ulama mengatakan:

“Awal mula ilmu berada di hati para ulama kemudian berpindah dalam karya tulis. Namun kuncinya tetap di tangan para ulama.”

Refleksi

Andai ada kesempatan, saya ingin bersimpuh di hadapan seorang guru. Saya ingin belajar huruf perhuruf, kata perkata, kalimat perkalimat agar pemahaman saya bener, lurus dan nyambung (bersanad).

Ilustasi: blogspot