اَلْمُسْتَدِلُّ بِهَ عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُودِ أَصْلِهِ، وَالْاِسْتِدْلَالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ.

Orang (waliyullah) yang menjadikan Allah sebagai petunjuk atas adanya alam, mengetahui Allah karena menyaksikan-Nya secara langsung (dengan hati/mata batinnya), lalu menetapkan wujud alam dari wujud asalnya, yaitu Allah. Sedangkan orang (salik/awam) yang menjadikan alam sebagai petunjuk atas wujud Allah, itu karena tidak wushulnya dia terhadap Allah (sebagaimana para wali).

وَإِلَّا فَمَتَى غَابَ حَتَّى يُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ؟ وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْهِ؟

Bila tidak demikian, maka kapan Allah menjadi gaib (raib) darinya sehingga ia harus mencari petunjuk alam untuk menemukan wujud-Nya? Kapan pula Allah menjadi jauh darinya sehingga alam yang menyampaikan (memahamkan) kepadanya atas wujud-Nya?

Baca Juga: Orang Marah yang Dicintai Allah

Perbedaan Mengenal Allah, Wali dan Orang Awam

Hikam-29 ini menjelaskan perbedaan antara wali yang telah wushul ilallah dan salik (penempuh tarekat/orang awam) dalam ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah).
Para wali mengenal Allah secara langsung bil musyahadah, terbuka mata batinnya, sehingga mengenal Allah secara nyata. Kemudian hal itu menjadi perantara kesadarannya atas eksistensi makhluk seisi alam semesta.

Sebaliknya para penempuh tarekat (salik) atau orang awam, mereka mengenal Allah dengan perantara makhluk-Nya. Dengan mengamati, melihat, mendengar dan merenungkan alam semesta yang diinderanya, begitu teraturnya, begitu dahsyatnya sehingga mengantarkannya pada pemahaman bahwa semuanya pasti ada penciptanya yaitu Allah Swt.

Sementara Allah sendiri sebenarnya tidak pernah gaib, samar dan raib darinya sehingga untuk mengenal-Nya perlu bantuan atau perantara selain-Nya. Tidakkah Allah menegaskan dalam firman-Nya:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ (الحديد: 4)

“Dan anugerah (atau rahmat) Allah selalu bersama kalian dimanapun kalian berada.” (Al-Hadid: 4)

Melupakan Allah : Hati Tertutup Akibat Meninggalkan Shalat Jumat

Begitu pula Allah tidak pernah jauh darinya sehingga membutuhkan bantuan alam untuk mengenalnya. Tidakkah Allah menandaskan dalam firman-Nya:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (ق: ١٦)

“Dan ilmu (atau kekuasaan) Kami (Allah) lebih dekat darinya daripada urat nadi manusia.” (Qaf: 16)

Mengapa manusia bisa terjebak dalam kondisi seolah tidak bersama rahmat kasih sayang Allah dan seakan sangat jauh dari ilmu serta kekuasaan-Nya?

Baca Juga: Berhukum Dengan Hukum Allah Dalam Perspektif Tafsir Otoritatif Mafatih Al Ghaib

Manusia yang Melupakan Allah

Syaikh as-Syahid Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi (1347-1434 H/1929-2013 M) ulama Ahlussunnah wal Jama’ah terkemuka asal Syiria dalam Syarh Hikam (II/24) menjelaskan, tiada lain hal itu karena manusia sendiri yang melupakan Allah. Bukan Allah yang menghalangi manusia, tetapi manusia sendiri yang benar-benar melupakan-Nya, seiring firman-Nya:

نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ (الحشر: 19)

“Mereka melupakan Allah sehingga Allah melupakan diri mereka.” (Al-Hasyr: 19)

Begitu pula kita, seringnya melupakan hak-hak Allah, melupakan ibadah dan tunduk kepada-Nya sehingga kita pun melupakan diri kita untuk berbuat kebaikan, bahkan bagi diri kita sendiri.
___
Sumber:
1. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam dalam Ib’ad al-Ghumam, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), 75-76.
2. Ibn ‘Abbad an-Nafazi ar-Randi, Syarh al-Hikam, (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tth.), 26-27.
3. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-hikam al-‘Atha’iyyah; Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), 21-24.
4. Fakhruddin Muhammad bin ‘Umar ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421 H/2000 M), XV/90 dan XXIV/140.

Ilustrasi: Pinterest