Memilih Teman yang Menginspirasi (Hikam-42)

74

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Sekian ribu teman yang ada, tentu sangat bermacam-macam tipikalnya. Semuanya akan memberi pengaruh positif-negatif tanpa kita sadari. Karenanya sangat penting memilih teman yang menginspirasi, seperti dinasehatkan oleh Ibn ‘Athailllah as-Sakandari:

لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ.

“Janganlah berteman (berguru) terhadap orang yang kondisinya tidak membangkitkanmu (untuk meraih ridha Allah) dan ucapannya tidak menunjukkanmu kepada Allah.”

Memilih Teman yang Menginspirasi Perspektif Tasawuf

Dalam perspektif, maksud memilih teman yang menginspirasi adalah memilih guru. Memilih guru yang tepat menjadi hal utama dalam perjalanan meraih ridha Allah, sampai-sampai dikatakan oleh sebagian ulama:

مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَالشَّيْطَانُ شَيْخُهُ.

“Orang yang tidak mempunyai guru, maka setan yang menjadi gurunya.”

Guru yang dipilih seseorang sebagai teman dalam perjalanan meraih ridha Allah hendaknya mempunyai kondisi yang mampu membangkitkannya untuk meraih ridha Allah. Yaitu ketika dilihat maka akan mengingatkan kepada Allah, menyadarkan, mengingatkan urusan akhirat dan membangkitkan diri untuk bertobat di tengah kelalaikan, keterbiusan dengan dunia dan keangkaramurkaan maksiat. Selain itu, ucapannya juga menunjukkan kepada Allah dan bahkan diamnya membangkitkan orang lain untuk mengingat kehidupan akhirat. (Iqazh al-Himam, I/91).

Memilih Teman yang Menginspirasi Perspektif al-Buthi

Sementara menurut Syaikh Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, dalam konteks yang lebih luas nasehat Ibn Atha’illah ini juga berarti anjuran memilih teman orang-orang shaleh, yaitu orang yang memenuhi dua kriteria:

  1. Mempunyai kondisi hati yang selalu bersama Allah,
  2. Mempunyai nasehat lisan terhadap hamba-hamba-Nya.

Kondisi hatinya yang selalu bersama Allah akan membangkitkan kita untuk membenahi berbagai kesalahan dan segera bertobat darinya, sebagaimana lisannya menunjukkan kepada kita terhadap berbagai hukum agama dan menjauhkan kita dari berbagai syubhat. (al-Hikam al-‘Atha’iyyah; Syarh wa Tahlil, II/162-163).

Bagaimana dengan Teman Lainnya?

Dengan memilih teman yang menginspirasi bukankah berarti kita telah pilih-pilih dalam berteman? Syaikh al-Buthi menjawab (al-Hikam al-‘Atha’iyyah, II/163):

“Jadikanlah pertemananmu yang sejati bersama orang-orang yang telah disebutkan kriterianya oleh Ibn ‘Athaillah; dan jadikanlah hubunganmu dengan teman lainnya sesuai kebutuhan kadar penghidupanmu dan kewajiban peran sosialmu.”

Dengan demikian, meski yang dijadikan teman sejati hanyalah orang-orang shaleh, bukan berarti kita boleh meremehkan teman lainnya. Namun kita tetap dianjurkan menjaga hubungan baik dengan semua teman sesuai aktifitas kerja dan peran sosial kita. Sering anjuran berbudi pekerti yang baik dalam hadits:

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، وَقالَ: حديث حسن)

“Dan berbudi pekertilah terhadap manusia dnegan budi pekerti yang baik.” (HR. at-Tirmidzi. Hasan)

Baca: Seri Artikel Kajian Hikam

__________

Sumber:

  1. Ahmad bin ‘Ujaibah al-Hasani, Iqazh al-Himam dalam Ib’ad al-Ghumam, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), I/91.
  2. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Hikam al-‘Atha’iyyah; Syarh wa Tahlil, (Bairut-Damaskus: Dar al-Fikr, 1424 H/2003 M), II/162-163

Ilustrasi: freepik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here