SEMINAR DAN BAHTSUL MASAIL KEBANGSAAN
Manhaj Beragama ala Walisongo
Perekat Persaudaraan Islam dan Persatuan Nasional

Seminar

1 .KH. Ma’ruf Amin, Rais ‘Aam PBNU

Hujjah Nahdlatul Ulama’ (NU) mengenai NKRI, Pancasila dan UUD 1945 adalah sudah final:

  1. Keterlibatan NU dalam proses Kemerdekaan Republik Indonesia
  2. Status Negara dan system Pemerintahan Republik Indonesia menurut NU
  3. Konsekuensi bagi NU atas ketetapanya bahwa NKRI, Pancasila dan UUD 1945 adalah sudah final

2. KH. As’ad Said Ali, Wakil Ketua PBNU 2010-2015

Signifikasi nilai-nilai Islam dalam system Ketatanegaraan dan Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI):

  1. Mengukur nilai-nilai Islam yang terserap dalam Ideologi Pancasila dan UUD 1945
  2. Realisasi nilai-nilai Islam menginspirasi system Ketatanegaraan dan Pemerintahan dalam alam demokrasi Pancasila
  3. Strategi menghadapi gerakan ideologi dan aliran yang mengancam keutuhan NKRI dan Aswaja

Bahtsul Masail

Pengantar:

NU yang dipercaya sebagai penerus dakwah ramah Walisongo di bumi Nusantara telah mempuyai rumusan yang jelas tentang ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah wathaniyyah, dan ukhuwah basyariyyah dalam upaya menempatkan diri dengan sebaik-baiknya di tengah kemajemukan bangsa dengan memahami firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ … (الحجرات: 13)

“Hai manusia, sesunguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa …[1]

Namun demikian, eksistensi NU sebagai jam’iyah diniyyah ijtima’iyyah dalam konteks kebangsaan terus menghadapi berbagai tantangan. Baik tantangan dalam ranah keagamaan seiring gencarnya gerakan aliran-aliran Islam transnasional yang cenderung radikal, mudah menyesat-nyesatkan dan mengafir-ngafirkan kelompok yang berbeda secara provokatif; maupun tantangan dalam ranah kebangsaan sejalan makin tersebarnya propaganda-propaganda yang menanamkan benih-benih kebencian, rasa saling curiga dan adu domba, serta massifnya upaya mendeligitimasi NKRI dan Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pembahasan

  1. Aspek apa saja yang menjadi kriteria dan batasan antara sesama muslim sebagai saudara?
  2. Terhadap muslim yang berbeda dalam persoalan pokok-pokok agama (ushuluddin), apakah masih dapat disebut saudara dalam Islam ?
  3. Sejauh mana perbedaan dalam persoalan cabang-cabang agama (furu’uddin) dan thariqah dapat ditoleransi?
  4. Bagaimana manhaj Islam Aswaja an-Nahdliyyah menyikapi realitas ke-bhinneka-an dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
  5. Bagaimana manhaj Islam Aswaja an-Nahdliyyah menyikapi isu-isu bernuansa SARA yang disinyalir terkandung agenda politik yang mengarah kepada pembubaran NKRI dan Pancasila?

Bentuk Kegiatan: Seminar dan Bahtsul Masail dalam rangkaian acara Haul Agung Sunan Ampel 1438 H / 2017 M

Waktu Kegiatan: 14 Sya’ban 1438 / 11 Mei 2017

Tempat Kegiatan: Komplek Masjid Agung Surabaya

[1] Keputusan Muktamar NU Ke-29 di Cipasung Tasikmalaya 4 Desember 1994 (al-Masail al-Maudhu’iyyah) tentang Pandangan dan Tanggungjawab NU terhadap Kehidupan Berbangsa dan  Bernegara. Baca Tim LTN PBNU, Ahkamul Fuqaha, (Surabaya: Khalista, 2011), 755-756.

Download: 

Jadwal (KLIK)

Materi Bahtsul Masail Kebangsaan (KLIK)


Ilustrasi: surabayaheritage