Ma’had Aly, Strategi Mi’raj Pesantren

0
152

Dalam beberapa tahun belakangan, pesantren menjadi salah satu objek yang sangat diminati oleh banyak kalangan untuk diteliti dan dibicarakan. Terutama pasca penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional untuk memperingati resolusi jihad dan peran pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Diakui atau tidak, ada ratusan naskah ilmiah yang ditulis berdasarkan penelitian tentang pesantren. 

Ini tentu membahagiakan. Pesantren kembali menerima perhatian dari masyarakat. Tentu saja, perhatian semacam ini layak didapatkan oleh pesantren. Apalagi jika menengok kembali ke masa lalu tentang kiprah pesantren, baik di arena perjuangan mencerdaskan anak bangsa dan memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat ataupun perjuangan heroik dalam menggapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Hanya saja, perhatian yang diterima pesantren saat ini hanya didasari sisi romantisme heroik pesantren di masa lalu, bukan peran pesantren di masa ini. Ini tentu mengecewakan. Diakui atau tidak, tidak sedikit orang yang masih mendiskreditkan alumni yang genuine dari pesantren. Sebagai lembaga pendidikan, alumni pesantren masih diletakkan pada kelas dua. Untuk mendapatkan pengakuan sebagai orang terpelajar dan berpendidikan, alumni pesantren harus kembali mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan non-pesantren untuk memperoleh gelar akademik.

Sebatas dari beberapa indikasi yang tampak, saat ini pesantren kehilangan kepercayaan dari masyarakat sebagai lembaga yang menyelenggarakan dan menyediakan fasilitas pendidikan untuk mencetak seorang intelektual yang berkualitas di bidang akademik. Mayoritas orang tua yang mengirim anaknya ke pesantren, bukan dengan tujuan agar anaknya menjadi intelektual dan akademisi muslim yang berkualitas. Alih-alih demikian, mereka bertujuan untuk membenahi moral anak-anak mereka. 

Disadari atau tidak, mereka cenderung menilai pesantren seperti lembaga rehabilitasi untuk memperbaiki moral, bukan lembaga pendidikan. Ini tentu saja memprihatinkan. Dalam hal pendidikan akademik, para orang tua masih lebih percaya pada lembaga pendidikan non-pesantren. Untuk mencetak anak yang unggul di bidang akademik, pesantren bukanlah lembaga yang akan dipilih oleh para orang tua.

Indikasi-indikasi berupa gejala sosial ini cukup untuk memberikan gambaran bahwa pesantren, sebagai lembaga pendidikan, masih didiskreditkan dan menempati kelas dua. Walau dalam bidang pembenahan moral, pesantren masih menjadi pilihan utama.

Jika diruntut dari hilir ke hulu, sebenarnya fenomena semacam ini terjadi bukan tanpa alasan. Salah satu faktor yang membuat pesantren kehilangan kepercayaan dari masyarakat sebagai lembaga pendidikan – padahal di masa lalu, pesantren merupakan sentra pendidikan yang lekat di hati masyarakat – adalah ketidakmampuan pesantren membuktikan kualitasnya di bidang akademik. Ini bukan berarti pesantren tidak memiliki kualitas akademik, hanya saja pesantren tidak mampu menunjukkannya.

Saat ini, salah satu barometer yang digunakan untuk mengukur kualitas akademik suatu lembaga pendidikan adalah publikasi naskah-naskah ilmiah dalam jurnal bereputasi atau sejenisnya. Dan sayang sekali, belum banyak pesantren yang melakukannya. Mungkin ini terdengar ironis, pasalnya pesantren sudah menelurkan banyak naskah yang telah dipublikasikan. Akan tetapi, patut dipahami bahwa publikasi naskah yang dilakukan oleh pesantren masih disangsikan karakter keilmiahannya oleh banyak pihak karena dinilai tidak disusun secara sistematis dan tidak sesuai dengan pedoman ilmiah yang diakui, walau secara substansi mungkin memiliki bobot yang baik. Dan lagi-lagi ini menggiring pada pemahaman bahwa pesantren belum mampu menunjukkan kualitasnya di bidang akademik, walau dia memilikinya.

Dalam krisis semacam ini, salah satu jalan keluar paling strategis yang dimiliki pesantren adalah ma’had aly. Ma’had aly yang dipahami sebagai hasil akulturasi antara budaya pesantren dengan sistem perguruan tinggi merupakan bentuk yang strategis untuk menampakkan kualitas akademik pesantren. Ma’had aly harus bisa menjadi motor yang menggerakkan potensi akademik yang dimiliki pesantren ke permukaan. Ma’had aly harus bisa mengadopsi karakteristik akademik yang dimiliki perguruan tinggi untuk mendongkrak kultur akademik pesantren. Salah satu langkah nyata yang harus diambil oleh ma’had aly adalah melakukan publikasi ilmiah dalam jurnal ilmiah atau sejenisnya. Jika ini dilakukan, ada rasa optimis bahwa kelak reputasi pesantren sebagai lembaga pendidikan akan kembali membaik.

Argumen-argumen ini tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bahwa yang dilakukan pesantren hingga saat ini merupakan hal yang salah. Segala hal yang telah dilakukan oleh pesantren, terutama dalam hal memberikan pelayanan terhadap kelompok grass root yang notabene awam, memang merupakan hal yang sepatutnya dilakukan. Akan tetapi, pesantren juga tidak bisa melupakan bahwa mereka juga memiliki tanggungjawab untuk memberikan pelayanan kepada kelompok elit yang notabene intelektual dengan membuka ruang yang berisifat akademik.

Tulisan ini tidak pula memberikan persuasi agar pesantren melalui ma’had aly harus merubah haluannya yang sudah ada, berfokus pada kelompok elit dan meninggalkan kelompok grass root. Akan tetapi justru melakukan keduanya sekaligus, tanpa meninggalkan salah satunya. Lagipula, tindakan semacam ini juga bukan hal baru. Al-Ghazali melalui karyanya yang variatif memberikan indikasi bahwa selain memberikan layanan kepada kelompok awam, tapi juga terbiasa dengan meladeni kelompok elit akademik. Dengan meneladani Al-Ghazali, ma’had aly harus dimanfaatkan oleh pesantren untuk melakukan mi’raj ke arena diskusi akademik para intelektual tanpa melupakan daratan, tempat kelompok grass root berada. Wallahu A’lam bi Al-Showab.

Penulis: M. F. Falah Fashih. Founder IBIDISM (Inspiration Base, Initiators and Developers Institution for Santri of Ma’had Aly). Mahasantri Pascasarjana Ma’had Aly Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. ([email protected])