Jakarta,
Kasus penembakan majalah Charlie Hebdo yang terjadi di Paris, Prancis, beberapa hari yang lalu menunjukkan bahwa liberalisme dan fundamentalisme mengabaikan aspek rasa.

Hal ini dinyatakan oleh Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Zastrouw Al-Ngatawi kepada NU Online di Pesantren Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta, Sabtu (17/1)

“Apa yang di lakukan oleh orang Barat (Prancis) yang menggambar Karikatur Nabi Muhammad itu adalah efek dari liberalisme dan liberalisme itu mengabaikan aspek rasa, mengabaikan bagaimana perasaan orang lain ketika berbuat sesuatu,” imbuhnya.

Sebaliknya, lanjut Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini, pelaku penembakan juga sama saja, dia mengabaikan aspek rasa, hal itu merupakan efek dari ajaran fundamentalisme. “Yang ditembak dan yang menembak sama saja, keduanya sama-sama mengabaikan aspek rasa,” tegasnya.

Liberalisme, lanjut dia, landasannya adalah kebebasan, bebas mengekspresikan apa yang dia mau, sementara fundamentalisme hanya berlandaskan dalil-dalil yang dia yakini saja, tanpa disandarkan dengan dalil-dalil lain dan konteksnya.

“Bisa jadi kedua belah pihak harus belajar kepada ulama Nusantara yang memiliki wisdom(kearifan) yang cukup kuat yang mengedepankan aspek rasa,” tambahnya.

Menurut Zastrouw, sebagai umat Islam yang mencintai Nabi Muhammad, sudah seharusnya kita menyatakan sikap dan mengecam atas tindakan yang dilakukan oleh pihak majalah Charlie Hebdo.

“Kita harus punya sikap, protes, tapi menyatakan sikap itu kan tidak harus membunuh orang,” pungkasnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

sumber