Oleh: Ahmad Muntaha AM

Wali Tidak Berhenti Dalam Cahaya Batiniah

Setelah menjelaskan kebaikan masing-masing orang awam dan para wali, serta cara
mensyukurinya, dalam kalam Hikam-31 Syaikh Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menjelaskan
sebab para wali ilmunya sangat luas tidak sebagaimana orang awam.

Para wali tidak hanya berhenti dalam cahaya batiniah, namun justru menembusnya hingga musyahadah merasakan keesaan Allah sebenar-benarnya. Sementara orang awam masih terhenti padanya. Syaikh Ibn ‘Athaillah menuturkan:

اِهْتَدَى الرَّاحِلُونَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ، وَالْوَاصِلُونَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ.

“Orang-orang awam yang sedang menempuh jalan mencari ridha Allah mendapat petunjuk
dengan cahaya tawajjuh; sedangkan para wali yang telah wushul ilallah, justru cahaya
muwajahah yang menghadap kepada mereka.”

Baca Juga: Lahiriah Kita Cerminan Hati Kita (Hikam-28)

فَالْأَوَّلُونَ لِلْأَنْوَارِ وَهَؤُلَاءِ الْأَنْوَارُ لَهُمْ، لِأَنَّهُمْ للهِ لَا لِشَيْءٍ دُونَهُ.

“Maka orang awam terkuasai cahaya (tawajjuh), sedangkan para wali sebaliknya, cahaya
(muwajjahah) lah yang terkuasai olehnya. Sebab mereka ikhlas hanya mengadap kepada
Allah semata, tidak kepada selain-Nya, apapun itu.”

قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ. (الأنعام: 91)

“Katakanlah: ‘Menghadaplah hanya kepada Allah. Lalu tinggalkan mereka bermain-main
dalam kesibukannya.’ (QS. Al-An’am: 91)”

Penjelasan

Dengan bahasa sangat apik, dalam Syarh al-Hikam al-‘Athaiyyah (hlm. 42) ulama al-Azhar
bermazhab Maliki, Syaikh Abdul Majid as-Syarnubi menerangkan:

“Maksud kalam Hikam-31 ini adalah, orang awam yang sedang menempuh perjalanan
spriritual meraih ridha Allah Ta’ala mendapatkan petunjuk dengan cahaya tawajjuh, cahaya- cahaya batiniah yang muncul dari berbagai ibadah dan riyadhah yang dilakukannya, yang dengannya ia menghadap kepada Allah Ta’ala, seiring firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا. (العنكبوت: 69)

‘Dan orang-orang yang bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam memenuhi hak ibadah
kepada-Ku, niscaya Aku beri petunjuk mereka pada berbagai jalan-Ku.’

Baca Juga: Mengenal Allah, antara Wali dan Orang Awam (Hikam-29)

Sementara bagi para wali yang telah wushul ilallah, justru cahaya muwajjahah, cahaya
kedekatan dan cahaya cinta dari Allah yang menghadap kepada mereka. Orang awam sangat membutuhkan cahaya ibadah, sementara para wali justru cahaya kedekatan dan kecintaan Allah yang menghadap kepada mereka.

Tidak lain kecuali karena dalam setiap nafasnya para wali hanya menghadap, konsentrasi dan fokus kepada Allah semata. Tidak kepada selain-Nya, apapun itu. Kondisi demikian selaras dengan isyarat firman Tuhan:

قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ. (الأنعام: 91)

‘Katakanlah: ‘Menghadaplah hanya kepada Allah. Lalu tinggalkan mereka bermain-main
dalam kesibukannya.’ (QS. Al-An’am: 91)’”

Hikmah Utama

Bila demikian adanya, tentu hal ini semakin menyadarkan kita orang awam, untuk terus-menerus tidak lelah beribadah, tidak bosan mendidik nafsu diri, menghindari perbuatan
buruk dan keji, menghiasi diri dengan berbagai kebajikan dan keshalehan demi meraih ridha Ilahi.
Tak lelah ibadah, tak henti mengupdate hati.

Baca Juga: Semakin Syukur Semakin Makmur (Hikam-30)
_____
Sumber:
1. Abdul Majid as-Syarnubi, Syarh al-Hikam al-‘Athaiyyah, 42.
2. As-Suyuthi dan al-Mahalli, Tafsir al-Jalalain.

Ilustrasi: loveislamid