Oleh: Ahmad Muntaha AM

مَا اسْتُودِعَ فِي غَيْبِ السَّرَائِرِ ظَهَرَ فِي شَهَادَةِ الظَّوَاهِرِ
“Apa yang tersimpan di hati manusia tampak dalam lahiriahnya.”

Kalimat hikmah ini menjelaskan tanda-tanda lahiriah manusia yang menunjukkan kondisi batiniahnya dan berbagai hal yang meramaikannya. Karena, kondisi lahiriah merupakan cerminan kondisi batiniahnya, sebagaimana pepatah bijak:

اَلأَسِرَّةُ تَدُلُّ عَلَى السَّرِيرَةِ.
“Kondisi lahiriah menunjukkan kondisi batiniah.”

Hati Mencerminkan Fisik

Apa yang menjadi penghalang hati manusia dari ma’rifat terhadap Allah, pengaruhnya pasti tampak di wajahnya. Karenanya, pengaruh berbagai ma’rifat dan cahaya hidayah yang Allah letakkan di hatinya pasti tampak pada lahiriahnya. Begitu pula lahiriah manusia dapat dijadikan petunjuk atas karakter batiniahnya. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ. (رواه الحكيم في النوادر عن أبي هريرة)
“Andaikan hati orang ini (yang sedang shalat dan bermainan dengan jenggotnya) khusu’, maka khusu’lah anggota badannya.” (HR. al-Hakim at-Tirmidzi dalam an-Nawadir dari Abu Hurairah)

Begitu pula sufi Agung asal Naisabur, Abu Hafsh Umar bin Maslamah al-Haddad (w. 264 H)-radhiyallahu ‘anhu-berujar:

حُسْنُ أَدَبِ الظَّاهِرِ عُنْوَانُ حُسْنِ أَدَبِ الْبَاطِنِ.
“Etika lahiriah yang baik menandakan baiknya etika batiniah.”

Protes Al-Junaid Kepada Abu Hafsh

Dikisahkan, ketika Abu Hafsh tiba di Baghdad, ia didatangi Abu al-Qasim al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H/910 M) guru para sufi yang menjadi panutan NU. Ketika melihat para muridnya berkumpul di sekitarnya tanpa ada satupun yang memalingkan pandangan darinya, al-Junaid memprotes: “Wahai Abu Hafsh, sungguh Anda telah mendidik etika para murid sebagaimana etika terhadap raja!”

“Tidak Abu Qasim, namun baiknya etika lahiriah menjadi tanda bagi baiknya etika batiniah”, tegas Abu Hafsh.

Sebagaimana dijelaskan Ibn ‘Ibad ar-Randi dalam Syarh al-Hikam, dari mutiara hikam ke-28 ini setidaknya dapat diambil pelajaran:

1. Secara eksternal, manusia dapat menjadikan lahiriah orang lain yang hendak dijadikannya sebagai guru, teman dan hubungan semisalnya yang lebih luas, sebagai tanda kondisi batiniahnya.

2. Secara internal, menusia dapat mengenal secara persis (‘ala bashirah) kondisi dirinya, tidak tertipu merasa hatinya baik tanpa diimbangi kebaikan lahiriahnya. Sebab orang yang mengaku-ngaku dirinya baik, ma’rifat dan cinta terhadap Allah dengan hatinya, namun pengaruhnya tidak tampak pada lahiriahnya, seperti tercermin dengan selalu mengingat-Nya, bersegera melaksanakan perintah-perintah-Nya, merasa bahagia ketika terhindar dari berbagai hal yang menghalangi untuk beribadah kepada-Nya dan menghindarkan diri dari berbagai hal yang menjauhkan dari keridhaan-Nya, niscaya ia adalah pembohong. Bila kondisinya tidak seperti itu, bahkan justru berbalikan dengannya maka pengakuan ma’rifatnya lebih bohong lagi dan kondisinya lebih dekat dengan kemunafikan dan kesyirikan. Wallahu a’lam.

Sumber:
1. Muhammad bin Ibrahim/Ibn ‘Ibad an-Nafazi ar-Randi, Syarh al-Hikam, (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tth.), 26.
2. Ad-Dzhababi, Siyar A’lam an-Nubala, XII/510.
3. Al-Munawi, Faid al-Qadir, (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H/1994 M), V/406.
4. Ibn al-Mulaqqin, Thabaqat al-Auliya, I/42.