Korupsi Durasi Waktu Adzan berbuka Puasa

0
115

Oleh : Moh Nasirul Haq (Santri Rubat Syafi’ie Mukalla Yaman).

Berbuka puasa merupakan salah satu Tanda bahwa ia telah menyemprnakan Ibadah Puasanya. Namun yang terjadi di masyarakat banyak Masjid ataupun Media yang Mengumandangkan Adzan lebih cepat dari waktu yang ditetapkan jadwal resmi adzan pemerintah.

Mengamati fenomena ini saya mencoba mengurai siapa saja kelompok yang hampir pasti mengumandangkan Adzan Maghrib lebih cepat dan mengumandangkan adzan subuh lebih telat. Ternyata mereka adalah kelompok Salafi, Wahabi, dan Ikhwani.

Lalu bagaimana secara pandangan agama islam dalam menyikapi fenomena ini, apakah puasanya semua orang yang berbuka belum waktunya adalah wajib Qodlo? Dan apakah berdosa si Muaddzin?, dan Apa perbedaan landasan berfikir mereka dan kita?.

Jawaban kami:

Tentu saja Fenomena ini perlu diluruskan dari sudut pandang apa Qaedah dasar Ketetapan waktu berbuka. Mari kita perhatikan pendapat imam ibnu hajar dalam kitab tuhfah :

واجمعو ان الصوم ينقضي بتمام الغروب ، وعلى أنه يدخل فيه بالفجر بالثاني.

وما نقل عن بعض السلف أنه بالإسفار او طلوع الشمس زلة قبيحة على أن المصنف نازع في صحة الثاني عن قائله.

“Dan ulama bersepakat bahwa puasa selesai dengan sempurnanya terbenamnya matahari, sementara masuknya waktu puasa dengan terbitnya Fajar shodiq. Adapun pendapat yang dikatakan habisnya puasa dengan “isfar” (kemerah2an) atau “tulu syams” (terbitnya matahari) maka kekeliruan yang jelek, bahwa sanya mushonnif menentang dalam kebenaran pendapat kedua dari yang mengatakannya.”

Dari sini sementara kita faham bahwa teebenamnya matahari adalah ukuran berakhirnya puasa, dan terbitnya fajar shodiq adalah ukuran memulai waktu puasa. Kemudian langkah yang harus kita ambil adalah apa kadar ukuran matahari terbenam, apakah dengan perkiraan?.

Ibnu hajar melanjutkan perkataannya:

قال اصحابنا : يجب الإمساك جزء من الليل بعد الغروب ، ليتحقق به استكمال النهار ،

ويعتبر كل محل : بطلوع فجره وغروب شمسه فيما يظهر لنا ، لا في نفس الامر.

قال العلماء في خبر مسلم “إذا غابة الشمس من ههنا وأقبل الليل من ههنا فقد أفطر الصائم ” اي حقيقة.

Berkata Ashab ; “wajib menahan dari sebagian dari malam setelah tenggelamnya matahari, agar nyata dengan Hal itu sempurnanya siang. dan ukuran dianggap di setiap tempat : dengan terbitnya fajar dan tenggelamnya matahari yang terlihat oleh kita, bukan saat seketika hal itu. Berkata Ulama’ dalam hadits muslim jika matahari terbenam dari sini, dan muncul dari sini maka telah berbuka orang berpuasa.”

Maka dengan begitu kita di perintahkan memastikan betul bahwa matahari benar benar tenggelam. Kalau hanya perasangka dari si muaddzin bahwa matahari telah tenggelam di tempat dia adzan, kemudian ternyata belum waktunya, maka semua puasa orang yang ikut berbuka dengan adzannya adalah Batal dan wajib mengganti. Adapun si muaddzin berdosa jika ia teledor.

Oleh karenanya pemerintah maupun tim Falakiyah dalam menentukan jadwal berbuka dan sahur melebihkan waktu berbuka dari hitungannya beberapa menit untuk memastikan betul bahwa matahari telah terbenam.

Adapun kelompok kelompok yang merasa melaksanakan adzan dengan perasangka bahwa matahari telah tenggelam, maka jangan kita ikuti.

Posisi pemerintah dan lajnah falaq di dalam hukum islam seperti mengikuti orang yang tsiqoh atau adil, Jadi bisa dipertanggung jawabkan. apalagi mereka menempuh proses kajian panjang dan hitungan detail.

Bagi segenap orang yang berpuasa jika mengira matahari telah terbenam, maka batal puasanya. karena Menerapkan Qaedah:

الاصل بقاء النهار

“Asalnya siang masih ada”.

Sementara yang sahur mengira masih belum terbit fajar, namun karena tidak tau ternyata telah terbit, maka tetap sah puasanya dan menahan seketika itu. Karena menerapkan qoidah:

الاصل بقاء الليل

“Asalnya malam masih ada”.

Seyogyanya kita selalu membawa dan memastikan jadwal adzan sesuai konsesus pemerintah dan Lajnah Falakiyah.
Jangan sampai Kita masuk dalam golongan orang orang yang

يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

” Meninggalkan dari agama, sebagaimana melesatnya anak Panah dari panahnya”.

والله المفق الى اقوم الطريق .


Ilustarasi : Google

SHARE
Previous articleMenilik Lezatnya Kuliner Yaman saat Ramadhan
Next articlePidato Rasulullah SAW Menjelang Ramadhan
PP At Tarbiyah At Tijaniyah, PP Darul Falah Amtsilati, PP Al Anwar Sarang Rembang, PP Darul Falah Pare, PP al Aqobah Tebuireng, Universitas Hasyim Ash'ary Jombang, Universitas Imam Syafi'i Yaman/ Ketua Camp Arab PDF Pare (2009), Penasehat PP Wisma At Taufiq Genggong Probolingg, Guru di PP Nurul Hasan Genggong, PP Zainul Hasan, PP Darul Falah Pare, PP Al Aqobah Tebuireng. Awan syuriah PCINU yaman 2016-2017 Penulis Buku "Back To Root" العودة الى الجذور

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here