Kitab Al-Mabsuth; Kitab yang Ditulis dari dalam Sumur

0
494

Mungkin sultan di daerah Khurasan saat itu tak pernah berniat untuk mencari kebenaran, namun yang diinginkan kiranya adalah sekedar pembenaran. Dan sang sultan tak mengharap jawaban yang mengecewakan. 

Konon sang sultan bertanya tentang hukum pernikahannya dengan seorang budak yang telah dimerdekakan, namun masalahnya, budak itu belum selesai masa iddahnya. 

Kepada imam Abu Bakr as-Sarkhasi, sang sultan meminta fatwa. Namun imam as-Sarkhasi bukan orang yang bisa dibeli oleh belas kasih pemimpin. Beliau memperjuangkan satu hal; kebenaran. Jika iya maka iya, jika tidak maka tidak. Hitam telah jelas warnanya, begitupun putih. 

Imam as-Sarkhasi mengabaikan ancaman di depan mata. Sebab beliau yakin, hukuman atas kebohongan yang mengatasnamakan agama, kelak akan jauh lebih berat di depan pengadilan Tuhan. 

Imam as-Sarkhasi tetap mengutarakan apa yang menjadi kenyataan, meskipun pahit akibatnya. Tak ada alasan untuk membenarkan pernikahan sang sultan. Mendengar jawaban mengejutkan, sang sultan pun murka. Seorang ulama besar telah menyalahkan tindakannya. Citranya didepan rakyat bisa terkikis. Marwahnya bisa-bisa habis. 

Pada akhirnya sang sultan mengirim imam Abu Bakr as-Sarkhasi ke dalam penjara. Beliau dihukum atas sebuah kebenaran yang beliau nyatakan terang. Beliau ditempatkan dalam sebuah tempat sempit nan gelap. Gulita menyelimuti, namun bagi beliau tak ada yang perlu disesali. 

Beliau tak ditahan dalam sebuah ruangan dengan jeruji besi. Namun sejarah mencatat, beliau ditempatkan dalam sebuah sumur. Sumur Uzjund, di Fergana, Khurasan. Sebuah penjara yang tertanam jauh dalam bumi. 

Kita tak pernah bisa membayangkan, jika bukan imam Abu Bakr as-Sarkhasi, apakah yang bisa dilakukan seiring berjalannya waktu? Mungkinkah sebuah kesia-siaan, sebab ruang gerak yang amat terbatas telah memangkas harapan. Menghapus senyuman. Putus asa merenung dari pagi sampai pagi. 

Tapi imam Abu Bakr as-Sarkhasi tetap teguh. Semangat beliau masihlah utuh. Beliau adalah pecinta ilmu sejati. Waktu, bagi beliau tak boleh pamit begitu saja tanpa arti. Masih ada secercah cahaya yang tak pernah mati, di mana kegelapan yang sesungguhnya sirna tergantikan oleh terangnya hati. 

Beliau masih memiliki murid-murid yang setia. Tetap ada yang datang pada beliau untuk berebut tetes-tetes pengetahuan mulia. Meskipun majlis ilmu itu terlihat janggal. Tak ada halaqah hangat, dengan tempat yang nyaman dan terang. Namun keinginan belajar tak pernah tanggal. 

Akhirnya pemandangan menjadi trenyuh, karena sang guru berada di bawah gelapnya Uzjund nun jauh. Sementara murid-murid beliau ada di bawah terik matahari menetes peluh.

Santri-santri dengan khidmat harus sigap memasang telinga, mengelilingi sebuah sumur bukan untuk menimba airnya, tapi mengais-ngais mutiara pengetahuan dari beliau yang berada di dalamnya. 

Dalam masa tahanan itu, beliau mendiktekan lembar demi lembar, bab demi bab, hingga menjadi berpuluh jilid, yang kita kenal dengan nama kitab fikih Al-Mabsuth. Atas dedikasi beliau, Imam as-Sarkhasi akhirnya dikenal dalam jajaran ulama yang berjasa. Salah satunya dengan karya tersebut. 

Kita tak bisa membayangkan, kedalaman pemahaman yang dimiliki beliau, hingga bahkan ketika berada di dalam tempat yang sangat terisolasi sekalipun, beliau mampu meninggalkan sebuah karya yang luar biasa. Bukan ditulis di perpustakaan yang lengkap, di mana segala referensi telah tersedia, bukan juga di sebuah rumah, di mana saat kita bertemu kalimat yang muskil, kita bisa keluar dan membeli buku yang kita inginkan, atau bertanya kepada seseorang yang bisa mencerahkan. 

Dan Al-Mabsuth bukan sembarang kitab. Karya monumental itu bukanlah tulisan yang berdiri sendiri. Akan tetapi merupakan penjelasan atau syarah dari kitab terdahulu bernama al-Kafi. Dan al-Kafi merupakan ringkasan enam kitab induk dalam pondasi madzhab imam Abu Hanifah, yang ditulis langsung oleh murid sang pendiri madzhab; imam Muhammad bin Hasan.

Jika beliau mampu mendiktekan syarah atas kitab tersebut dari dalam sumur, beliau kiranya hafal di luar kepala kitab al-Kafi. Dan dengan lancar beliau mampu mengulasnya tanpa perlu membaca rujukan dari kitab lainnya. 

Bila kita membaca Al-Mabsuth, kita akan menemukan, di beberapa bagian akhir pembahasan, ada kalimat retoris nan puitis bernafaskan sedih. Atau bagaimanapun kita menafsirkannya. 

هذا أخر شرح العبادات ، بأوضح المعاني وأوجز العبارات ، أملاه المحبوس عن الجمع والجماعات. 

Inilah akhir dari penjelasan bab ibadat. Dengan makna yang gamblang dan diksi yang singkat. Didiktekan oleh (imam as-Sarkhasi) yang terpenjara untuk melaksanakan salat-salat Jumat dan jamaat.” (Paragraf terakhir bab ubudiyah dari kitab Al-Mabsuth.) 

Kita juga bisa menemukan ungkapan serupa, di akhir bab talak, dan juga bab ‘itq. Atau mungkin terselip dalam bagian yang tak pernah kita tahu, kalau kita tak mau bertabarruk membaca kitab itu. 

هذا آخر كتاب الطلاق ، المؤثر المعاني الدقاق ، أملاه المحبوس عن الانطلاق ، المبتلي بوحشة الفراق، مصليا على صاحب البراق ، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أهل الخير والسباق ، صلاة تتضاعف وتدوم إلى يوم التلاق، كتبه العبد البرىء عن النفاق

انتهى شرح العتاق ، من مسائل الخلاف والوفاق ، أملاه المستقبل لمحن بالاعتناق ، المحصور في طرف من الآفاق، حامدا لمهيمن الرزاق ، ومصليا على حبيب الخلاق ، ومن يحن إلى لقائه بالأشواق ، وعلى أله وصحبه خير الصحب والرفاق

Kita yang hidup terpaut jarak berabad-abad dengan beliau hanya sekedar bisa mengamini. Semoga perjuangan itu terbayarkan dengan derajat tinggi di tempat yang layak untuk beliau kini. 

Dan kita bisa meneladani, bahwa tak perlu takut untuk menyuarakan kebenaran. Meskipun ada konsekuensi yang tak diharapkan. Sebab pahit itu tak selamanya, manis suatu saat juga akan terasa. 

Wallahu a’lam.