Kisah Nyata Anak-anak Penghuni Surga

0
339
lahiriah

Setiap pasangan suami istri pasti sangat mengharapkan kehadiran buah hati. Termasuk kami. Ada pasangan di luar sana yang bertahun-tahun menikah namun belum juga diberi momongan. Berbeda dengan kami, alhamdulillah menikah sepuluh bulan kami langsung diberi momongan.

Malam senin 3 safar 1442 H atau 20 september adalah hari yang sangat membahagiakan, karena telah lahir putri pertama kami dengan normal. Kebahagian ibu mertua kami tidak tertahan, air mata bahagia malam itu juga tumpah. Tepatnya jam sebelas malam lebih sepuluh menit.

Pagi jam tujuh lebih lima menit, kami sekeluarga pulang ke rumah. Saudara-saudara kami dan tetangga ikut manghayu bagio, ikut berbahagia atas kelahiran putri kami yang cantik. Semua ikut ceria, tersenyum, ingin memandang, mencium dll.

Namun kebahagian itu seketika berubah, tepatnya jam sembilan malam selasa, ketika tubuh si mungil terasa dingin, matanya sayu, hidungnya sudah tidak ada hembusan nafas lagi. Suasana berubah, banjir air mata melanda rumah kami, ibu si mungil dan neneknya lemas terbaring di ranjang tidur. Air matanya hampir habis meluapkan rasa kesedihan yang mendalam. 

Saudara-saudara serta tetangga mencoba menguatkan kami. Banyak yang mengatakan : “sabar.. sabar… dan sabar, semua sudah jadi takdir-Nya..”. Ada juga yang mengatakan: “sabar.. jadi simpanan di surga”.

Kami mencoba menguatkan diri, meyakinkan diri bahwa ini semua jelas sudah menjadi takdir Allah Swt. Kesedihan yang berlarut-larut tidak akan menjadikan kondisi lebih baik.

Pernyataan orang-orang bahwa ‘si mungil di surga’ membuat kami penasaran. Benarkah seperti itu? Atau hanya sekedar penglipur lara semata? Pencarian pun berujung pada ayat: 

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ (17) بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِينٍ (18) الواقعة: 17، 18

Artinya: “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah : 17-18)

Frasa “وِلْدَانٌ” dijelaskan oleh Imam Alaudin Ali bin Muhammad Al-Baghdadi (678-741 H), atau yang masyhur dengan Imam Al-Khazin, bahwa frasa ini memiliki interpretasi yang diperdebatkan oleh para ulama. Namun yang sahih menurut beliau adalah “anak-anak kecil yang diciptakan oleh Allah Swt dan ditempatkan di surga sebagai peladen para ahli surga”.

والقول الصحيح الذي لا معدل عنه إن شاء الله إنهم ولدان خلقوا في الجنة لخدمة أهل الجنة 

Artinya : “Pendapat benar yang tidak ada interpretasi lain insya Allah adalah bahwa mereka merupakan anak-anak yang diciptakan di dalam surga untuk melayani ahli surga.” (Imam Alaudin Ali bin Muhammad Al-Baghdadi, Tafsir Khazin, [Beirut : Dar Al-Fikr], juz VI, hal. 16.) 

Imam Ibnu ‘Asyur (1296-1393 H.) dalam dalam kitab beliau, at-Tahrir wa at-Tanwir menafsiri frasa “وِلْدَانٌ” dengan mengutip hadis Rasul Saw, yang diriwayatkan oleh Samuroh bin Jundab, adalah “anak orang muslim yang meninggal pada kondisi masih kecil”.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ مَا هُوَ صَرِيحٌ فِي ذَلِكَ إِذْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي فِي الرَّوْضَةِ فَإِنَّهُ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَأَمَّا الْوِلْدَانُ الَّذِينَ حَوْلَهُ فَكُلُّ مَوْلُودٍ مَاتَ عَلَى الْفِطْرَةِ»

Artinya : “Dari Samurah bin Jundab, apa yang jelas pada masalah tersebut, ketika Rasulullah Saw bersabda: “ Adapun orang yang ada di raudlah sesungguhnya itu adalah Ibrahim As, adapun anak-anak yang berada di sampingnya adalah setiap anak yang meninggal masih fitrah”. (Imam Ibnu ‘Asyur, At-tahrir wa At-Tanwir, [Maktabah Syamilah, tth.] juz 30, hal. 148)

Masih dari at-Tahrir wa at-Tanwir, Imam Ibnu ‘Asyur mengutip pendapat Imam Nawawi, bahwa anak orang muslim yang meninggal masih kecil (tentu bayi masuk dalam konteks ini) masuk kelompok penduduk surga. 

وَقَالَ النَّوَوِيُّ: أَجْمَعَ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ مَنْ مَاتَ مِنْ أَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Artinya : “Imam Nawawi berkata: para ulama bersepakat; bahwa barang siapa anak orang muslim yang meninggal, maka ia termasuk ahli surga”. (Imam Ibnu ‘Asyur, At-tahrir wa At-Tanwir, [Maktabah Syamilah, tth,] juz XXX, hal. 148.)

Mungkin masih banyak referensi yang menjelaskan hal yang sama. Namun referensi diatas sudah cukup meyakinkan hati, bahwa putri kami saat ini insya Allah berada di surga. Bagi yang membaca tulisan ini kiranya berkenang menbacakan al-fatihah untuknya, lahal fatihah.

Wallahu a’lam.

*Penulis: Amin Ma’ruf, PP Al-Iman Bulus Purworejo; Mahasiswa Tafsir Pascasarjana UNSIQ Wonosobo.