Kisah Kasih Sayang Nabi Muhammad Saw.

0
166
lafadz

Bulan Rabiul Awwal telah tiba. Bulan kelahiran nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam. Semua umat Islam bersuka cita merayakan maulid dan menyambut gembira lahirnya nabi terakhir dengan beragam cara. Ada yang bersedekah, hingga menggelar perayaan, dan membacakan kisah perjalanan nabi yang tertulis dalam kitab-kitab seperti al-Barzanji dan Dziba’.

Terlepas dari keteguhan dalam perjuangan untuk menyebarkan agama Islam, nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam juga memiliki sifat-sifat mulia yang bisa kita teladani. Salah satunya, beliau amat menyayangi anak kecil.

روى عبد الله بن بريدة عن أبيه قال: رأيت النبي – صلى الله عليه وسلم – يخطب، فجاء الحسن والحسين عليهما قميصان أحمران يعثران ويقومان، فنزل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ووضعهما في حجره، ثم قال: “صدق الله ورسوله إنما أموالكم وأولادكم فتنة، رأيت هذين فلم أصبر” ثم أخذ في خطبته

Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya. Ia berkata, saya melihat nabi shallahu’alaihiwasallam tengah berkhutbah. Kemudian datanglah Hasan dan Husain mereka mengenakan baju gamis merah yang menyandung mereka berdua. Lantas mereka berdua berdiri. Rasulullah shallahu’alaihiwasallam kemudian turun dari mimbar, dan meletakkan Hasan dan Husain di pangkuan beliau. Selanjutnya nabi bersabda, “Maha Benar Allah dan rasul-Nya, harta-harta dan anak cucu kalian adalah ujian. Aku melihat kedua anak ini, lantas aku tidak sabar.” Setelah itu nabi melanjutkan khutbah beliau. (H.R. Abu Dawud)

Tidak hanya itu, dalam hadis lain dikisahkan, nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam nampak sedang mencium sayyidina Hasan yang masih kecil dengan penuh kasih sayang. Disamping beliau ada salah seorang sahabat bernama al-Aqra’ bin Habis radhiyallahu’anhu. Sahabat tersebut melihat nabi lantas berkomentar, “saya itu punya sepuluh orang anak. Tak pernah saya mencium mereka satupun.”

Mendengar kalimat tersebut, nabi lantas memandang sahabat beliau. Kemudian beliau bersabda, “barangsiapa yang tidak mengasih sayangi, maka tidak akan dikasih sayangi.”

Bukti kasih sayang beliau tidak hanya pada Sayyidina Hasan dan Husain saja. Kepada cucu beliau yang lain, sayyidah Umamah bint Abul ‘Ash juga demikian. Sayyidah Umamah merupakan putri Sayyidah Zainab radhiyallahu’anha. Dan Sayyidah Zainab radhiyallahu’anha merupakan kakak perempuan tertua dari Sayyidah Fathimah radhiyallahu’anha.

Suatu ketika nabi pernah menggendong Sayyidah Umamah ketika tengah menjalankan salat. Nabi tidak melepaskan cucu beliau ini kecuali ketika beliau sedang rukuk dan sujud, dalam satu riwayat. Ketika rukuk, beliau meletakkan Sayyidah Umamah, dan saat bangun beliau membawanya kembali.

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan,

ومن شفقته صلى الله عليه وسلم ورحمته لأمامة أنه كان إذا ركع أو سجد يخشى عليها أن تسقط فيضعها بالأرض وكأنها كانت لتعلقها به لا تصير في الأرض فتجزع من مفارقته فيحتاج أن يحملها إذا قام واستنبط منه بعضهم عظم قدر رحمة الولد لأنه تعارض حينئذ المحافظة على المبالغة في الخشوع والمحافظة على مراعاة خاطر الولد فقدم الثاني ويحتمل أن يكون صلى الله عليه وسلم إنما فعل ذلك لبيان الجواز.

Diantara bentuk kasih sayang nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam dan sifat rahmatnya kepada Umamah, adalah bahwasanya beliau saat sedang rukuk atau sujud merasa khawatir jika Umamah terjatuh. Maka nabi meletakkannya ke tanah. Dan seolah-olah karena lekatnya Umamah kepada nabi, ia tidak berada di tanah. Sebab ia akan merasa sedih saat berpisah dengan nabi, maka nabi menggendongnya ketika berdiri.

Sebagian ulama ada yang menyimpulkan dari peristiwa tersebut akan besarnya kasih sayang terhadap anak. Karena dalam peristiwa tersebut ada perlawanan memilih antara menjaga salat tetap khusyu’ atau jaga-jaga mengkhawatirkan sang anak. Yang didahulukan adalah yang kedua (mengkhawatirkan keselamatan anak). Dan ada juga kemungkinan kalau nabi melakukan hal tersebut karena menunjukkan bahwasanya hal itu boleh untuk dilakukan.” (Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari, [Beirut, Darul Ma’arif, 1379 H.], vol. 10, hal. 429.)

Nabi juga pernah suatu ketika nampak menghibur Abu Umair, seorang anak kecil yang masih kerabat sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Anak kecil itu punya seekor burung kecil yang biasa menemaninya bermain. Suatu ketika burung itu mati. Anak itu nampak sedih, dan nabi menghiburnya. Beliau bertanya,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

Hai Abu Umair, apa yang bisa dilakukan burung kecil itu?”

Dan tentunya saat kita mau menuturkan keteladanan budi pekerti dan akhlak mulia nabi Muhammad shallahu’alaihiwasallam, maka tidak akan ada habisnya. Bagaimana mungkin? Sebab Allah Subhanahuwata’ala Tuhan semesta alam telah memuji beliau dalam firman-Nya;

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. al-Qalam: 4.)

Wallahu a’lam.