Khazanah Aswaja: Perjuangan NU dalam Konteks Kebangsaan

0
959

aswajamuda.com (150117) Jombang – Dalam rangka menyongsong Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) PCNU Jombang 22-23 April 2017 mendatang, Pimpinan Cabang (PC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jombang, ddukung PC Aswaja NU Center PCNU Jombang, PC Muslimat NU, dan PC Fatayat NU menggelar bedah buku ‘Khazanah Aswaja’, Ahad (15/17) di aula kantor Muslimat NU Jombang.

Khazanah Aswaja: Matakuliah Keaswajaan di Kampus-kampus NU

Nara sumber bedah buku bertema ‘Penguatan Pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin’, adalah Direktur Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, KH Abdurrahman Navis, dengan moderator Ustadz Yusuf Suharto, Direktur Aswaja NU Center PCNU Jombang.

KH Abdurrahman Navis menjelaskan awal mula lahirnya Aswaja. Menurutnya dengan mengutip beberapa literatur yang dimiliki, substansi Aswaja sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw, karena hakikatnya adalah Islam itu sendiri. Namun, sebagai gerakan atau aliran, Aswaja dikenal luas sekitar abad ke-3 Hijriyah, terutama direpresentasikan oleh Syaikh Abu Hasan Al-Asy’ari dan Syaikh Abu Manshur Al-Maturidi.

3.000 Khazanah Aswaja Ludes dalam Sebulan

Kiai Navis kemudian menuturkan konten buku ‘Khazanah Aswaja’ yang terdiri dari enam bab. Bab pertama menjelaskan konsep atau mafahim Aswaja, bab kedua menerangkan akidah dan landasan teoritik Aswaja, bab ketiga terkait fikih Aswaja, bab keempat mengupas tasawuf Aswaja, bab kelima kelompok dan aliran, dan bab terakhir tentang ke-Nu-an yang memuat dokumen-dokumen penting NU, termasuk sejarah NU dalam konteks perjuangan kebangsaan.

Dawuh Para Kiai tentang Khazanah Aswaja

Sebelumnya, kegiatan ini dibuka oleh Wakil Bupati Jombang, Nyai Hj Munjidah Wahab yang sekaligus sebagai Ketua PC Muslimat NU di Kota Santri ini. Dalam pidatonya cucu KH Abdul Wahhab Hasbullah ini menggagas desa Aswaja. Namun, dijelaskannya bahwa Desa Aswaja yang direncanakan PP Muslimat itu memang membutuhkan waktu yang cukup panjang, hingga Ketua PP Muslimat NU, Khafifah Indar Parawansah beserta para timnya, kata putri Mbah Wahab ini mentargetkan sampai tahun 2026 mendatang.

Secara umum, gambaran Desa Aswaja adalah menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan yang diselenggarakan. “Jadi Aswaja tidak hanya dipelajari dan dibedah saja, namun kita aplikasikan pada kehidupan sehari-hari, baik dalam berumah tangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Bu Munjidah menambahkan, hal itu juga akan digagas olehnya dengan para Pengurus Muslimat NU yang lain. Digagasnya Desa Aswaja di Jombang sebagai percontohan untuk daerah-daerah yang lain.

“Nah ini merupakan suatu harapan dan keinginan dari PP Muslimat untuk menjadikan Desa Aswaja, kayak apa bentuknya, itu masih direncanakan, di Kabupaten Jombang untuk menjadi percontohan, nanti akan kita siapkan juga yang bekerja sama dengan berbagai pihak di elemen NU,” tuturnya.

Namun demikian, terkait kapan didirikannya dan bagaimana konsepnya, serta siapa saja pihak yang terlibat, Bu Munjidah belum bisa memastikan, pihaknya masih akan terus berkoordinasi dengan sejumlah Pengurus Muslimat NU di Kota Santri ini.

Saat pembukaan, Ahmad Faqih, Ketua PC Pergunu Jombang, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari ikhtiar Pergunu Jombang dalam merespon meningkatnya geliat berkembangnya gerakan dan paham anti toleransi serta radikalisme di masyarakat.

Diskusi ilmiah yang mengangkat tema Penguatan Pemahaman Islam Rahmatan lil Alamin itu juga dihadiri Ketua PCNU Jombang, KH Isrofil Amar, yang dalam sambutannya menegaskan, “Mudah-mudahan bisa kita pahami dan amalkan bersama, dengan pengamalan Aswaja akan terciptanya kehidupan yang tentram.”

Hadir pada kesempatan itu segenap pimpinan PC Pergunu Jombang, pimpinan PC Muslimat NU, pimpinan PC Fatayat Jombang, MWCNU, Lembaga, Banom di lingkungan PCNU Jombang, Ranting, para guru dan masyarakat umum.