KH Wahid Hasyim Berprestasi Besar Pada Usia Muda

0
4672
wahid hasyim

Ma’mum Bingung Melempar Kritik

Pada tanggal 22 Desember 1951, sebuah majalah yang terbit di ibu kota memuat artikel yang secara keras mengritik para tokoh Islam. Penulisnya adalah Ma’mum Bingung. Di bawah judul tulisan “Umat Islam Indonesia Menunggu Ajalnya tetapi pemimpin-pemimpinnya tidak tahu”, Ma’mum Bingung menguraikan dua peristiwa yang dinilai mengandung isyarat penting.

Peristiwa pertama adalah adanya konferensi yang dihadiri para professor Kristen se-Asia yang berlangsung di Priangan. Dan, kedua, peristiwa peletakan batu pertama pembangunan kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang dilakukan oleh presiden (rektor) universitas negeri itu, Prof. Dr. sardjito. Dalam pertemuan para professor se-Asia, secara terbuka disampaikan rencana menjadikan Indonesia sebagai Negara Kristen. Sedangkan dalam kegiatan peletakan batu pertama Kampus UGM, ada seorang tokoh yang mengusulkan sesuatu yang dinilai aneh. Karena kampus UGM terletak di antara Candi Borobudur dan candi Prambanan maka, demikian usulnya, kelak ia harus bias menjelmakan (reinkarnasi) kedua candi itu.

Dalam tulisan itu Ma’mum Bingung tidak memprotes ide menjadikan Indonesia sebagai negara Kristen atau Kampus UGM sebagai jelmaan dari Candi Borobudur dan Candi Prambanan. “ Di dalam negara demokrasi seperti Indonesia, tiap-tiap orang boleh berbicara apa yang dikehendaki, boleh mengemukakan pendapat dan pikiran dengan sebebas-bebasnya asal di dalam batas-batas undang-undang,”demikian tulisnya. “ hanya kepada umat Islam yang menurut hukum demokrasi mempunyai hak untuk hidup dan mengeluarkan pikiran, kami mengemukakan kritik ini. Terutama kepada para pemimpin Islam. Kami menyesal karena adanya peristiwa demikian itu tidak ada seorang pun dari pemimpin yang bergerak hatinya untuk menunjukkan kepada umat Islam di Indonesia agar jangan tetap dalam tidurnya yang nyenyak dan mabuk politik yang membahayakan,” kata Ma’mum Bingung melalui tulisannya.

Siapa Ma’mum Bingung, penulis artikel pedas itu? Ia tak lain adalah KH. Abdul Wahid Hasyim. Nama Ma’mum Bingung merupakan salah satu saja dari sekian banyak nama samaran yang dipakainya ketika menulis artikel.

Toleran adalah Karakter KH Wahid Hasyim

Dari cuplikan pendek artikel yang ditulis itu, setidak-tidaknya menampakkan tiga hal mendasar yang memperlihatkan sosok penulisnya. Pertama, betapa KH. Abdul Wahid Hasyim memiliki jiwa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan paham dan bersikap proporsional dalam menyikapi setiap persoalan yang dihadapi. Kedua, kepedulian yang  besar  terhadap peningkatan kualitas hidup umat Islam. Dan ketiga adalah sikap kritisnya yang tak pernah padam, meskipun menyangkut umat Islam sendiri. Melalui tulisannya, kita menangkap getaran keprihatinan yang sangat dari KH. Abdul Wahid Hasyim, setiap kali ia menyaksikan kondisi umat Islam ketika itu. Sungguh aneh di mata Wahid Hasyim. Banyak pemimpin Islam waktu itu yang secara verbal sering menggembar-gemborkan perjuangan Islam melalui berbagai jalur, terutama jalur politik, justru membiarkan umat Islam hidup dalam kualitas yang serba memprihatinkan. Menurutnya, banyak orang yang membawa bendera Islam untuk kepentingan yang sebenarnya bertolak belakang dengan semangat Islam.

Melihat profil dan sikap KH. Abdul Wahid Hasyim seperti itu, segera orang menjadi mafhum jika menyaksikan hal yang sama juga terjadi pada salah seorang putranya, yakni KH. Abdurrahman Wahid, mantan ketua umum PBNU. Rupanya dalam beberapa hal, KH. Abdurrahman Wahid mewarisi karakter yang dimiliki sang ayah.

KH Wahid Hasyim saat Kecil

Abdul Wahid adalah putra kelima pasangan KH.Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti K. Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 orang bersaudara ini lahir pada hari Jum’at Legi, 5 Rabiul Awal 1333 H, bertepatan dengan tanggal 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Sewaktu mengandung putra kelimanya ini, kondisi kesehatan Ny.Nafiqah agak memburuk. Badannya lemah dan sering sakit-sakitan. Karena itu, suatu hari, Ny. Nafiqah bernazar , “ Jika nanti bayi yang aku kandung lahir dengan selamat, ia akan aku bawa ke guru ayahnya (KH. Cholil, red.) di Madura.”

Semula oleh sang ayah ia akan diberi nama Muhammad Asy’ari, tetapi urung karena kurang sesuai. Sebagai lelaki pertama, nama Abdul Wahid, diambil dari nama salah seorang datuknya, dirasakan paling cocok. Namun demikian, ibunya kerap memanggil Abdul wahid dengan Mudin. Sedangkan beberapa kemenakannya memanggil dengan Pak It. Kesepuluh putraKH. Hasyim Asy’ari  itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid, Hafidz, Abdul karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara itu, dengan Nyai Masrurah KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai empat orang putra, yaitu Abdul Kadir, Fatimah, Chodijah dan Ya’kub.

Nazar mesti dipenuhi. Ketika berusia tiga bulan, bayi Abdul Wahid oleh ibunya dibawa ke Bangkalan, Madura untuk dipertemukannya dengan KH. Cholil. Ny. Nafiqah ditemani Mbah Abu.

Suatu pengalaman spiritual untuk pertama kali dialami bayi Abdul Wahid. Setibanya di kediaman Mbah Cholil, sebutan popular KH. Cholil, hari sudah merangkak malam. Cuaca ketika itu buruk, hujan turun disertai sambaran petir. Anehnya, dalam suasana seperti itu, Ny. Nafiqah beserta bayinya tidak diperkenankan masuk ke rumah. Oleh tuan rumah malahan ia diminta tetap berada di halaman. Sudah tentu mereka harus berhujan-hujanan.

Kasihan melihat bayinya menggigil teterpa air hujan, Ny. Nafiqah mencoba menempatkannya diemperan rumah biar tidak kehujanan. Sambil menaruh bayi Abdul Wahid di bawah emperan, Ny. Nafiqah tak henti-hentinya berucap, “ La illaha illa Anta, hayyu qayyum ( tiada Tuhan melainkan Engkau, hai Tuhan yang menjaga dan menghidupkan)”. Tahu hal ini, Mbah Cholil marah dan memintanya agar bayi itu kembali dibawa ke tengah halaman. Ny. Nafiqah menuruti saja perintah itu.

Akhirnya, Mbah Cholil minta kepada Nyai Nafiqah agar segera meninggalkan tempat itu. Tidak ada pilihan lain, Nyai Nafiqah pun pulang ke Jombang, dengan seribu satu tanda tanya yang tidak terjawabkan ketika itu; kenapa Mbah Cholil berbuat seperti itu. Rupanya kejadian di luar  kebiasaan itu menjadi salah satu pertanda bahwa Abdul Wahid kelak akan menjadi orang yang tergolong luar biasa. Ternyata hal itu terbukti di kemudian hari.

Mondok Cukup dengan Hitungan Hari

Hasyim Asy’ari adalah seorang kiai yang di kenal sangat disiplin dalam memimpin. Kepemimpinannya sangat efektif dan unggul sehingga sebagian besar orang yang pernah dipimpn menjadi “orang” di kemudian hari. Hampir semua kiai kenamaan pengasuh pesantren pada dekade 40-an sampai 70-an pernah berguru kepada KH. Hasyim Asy’ari. Ia juga berjiwa demokratis. Kedisiplinan dalam memimpin dan sikap demokratisnya tampak menonjol dalam kehidupan keluarga, terutama dalam mendidik putra-putrinya. Sebagai ulama besar beliau mengharapkan putra-putrinya bisa mengikuti jejaknya dan berkembang menjadi generasi yang berpengetahuan luas, khususnya dalam ilmu agama. Untuk itulah suasana kehidupan keluarga diciptakan sedemikian rupa sehingga mendukung proses pembelajaran seluruh anggota keluarganya. Sejak dini putra-putrinya diperkenalkan dengan pengetahuan agama Islam, dan dibebaskan untuk mempelajari ilmu pengetahuan umum. Tidak soal baginya bagaimana mendapatkan buku bahan bacaan bagi putra-putrinya, sebab secara ekonomi ia tergolong mampu untuk ukuran saat itu. Dalam suasana seperti itulah Abdul Wahid tumbuh dan berkembang.

Abdul Wahid memiliki otak yang sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak ia sudah pandai membaca al-Quran, dan malah sudah khatam al-Quran ketika masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Abdul Wahid juga belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamatnya dari madrasah, ia sudah bisa membantu ayahnya mengajar adik-adiknya dan anak-anak seusianya.

Sebagai tokoh anak, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah milik Pemerintah Hindia Belanda. Ia lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di madrasah, ia banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Abdul Wahid mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanyan dengan baik.

Pada usia 13 tahun ia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah Pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata disana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi di pesantren ini ia mondok dalam waktu yang singkat, hanya beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan oleh Abdul Wahid adalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya itu sendiri. Soal ilmu, demikian mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara bagaimana saja. Tapi soal memperoleh berkat dari kiai? Inilah yang agaknya menjadi pertimbangan utama dari Abdul Wahid ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid tidak meneruskan belajar di pesantren lain, tetapi memilih untuk tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan untuk tinggal di rumah dibiarkan saja, toh Abdul Wahid di anggap bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Benar juga, Selama belajar secara otodidak, Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai Bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, ia dikirimkan ke Mekkah, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas – kelak menjadi menteri agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Abdul Wahid sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Muhammad Ilyas yang waktu itu dikenal sangat fasih dalam Bahasa Arab mengajari Abdul Wahid dalam menguasai bahasa ini. Di tanah suci ia belajar selama dua tahun.

Nahdlatul Ulama Menjadi Pilihan Beliau

Jarang ada orang yang memasuki suatu organisasi atau perhimpunan yang didasarkan pada kesadaran kritis. Pada umumnya orang aktif dalam sebuah organisasi atas dasar tradisi mengikut  (mengikuti jejak kakek, ayah atau keluarga lain), karena ikut-ikutan atau karena semangat primordial. Tidak terkecuali bagi kebanyakan warga NU. Sudah lazim orang ber-NU karena keturunan: ayahnya aktif di NU maka secara otomatis pula anaknya masuk dan menjadi aktivis NU. Kelaziman seperti itu agaknya tidak berlaku bagi Abdul Wahid Hasyim. Proses ke-NU-an Wahid Hasyim berlangsung dalam waktu yang cukup lama, setelah melakukan perenungan yang mendalam. Ia menggunakan kesadaran kritis untuk menentukan pilihan organisasi mana yang akan dimasuki.

Waktu itu April 1934, sepulangnya dari mukim di Mekkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Wahid Hasyim aktif di perhimpunan atau organisasi yang dipimpin. Tawaran juga datang dari Nahdlatul ulama. Pada tahun-tahun itu di tanah air memang banyak berkembang perkumpulan atau organisasi pergerakan, baik yang bercorak keagamaan maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis organisasinya, dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh-tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Abdul Wahid ke tanah air disambut penuh antusias para pimpinan perhimpunan dan diajak bergabung dalam perhimpunannya. Ternyata tak satupun tawaran itu diterima, termasuk tawaran dari NU.

Apa yang menjadi pergulatan pemikiran Abdul Wahid, sehingga ia tidak secara cepat menentukan pilihan untuk bergabung di dalam salah satu perkumpulan? Waktu itu memang ada dua alternatif yang ada di benak Wahid Hasyim. Kemungkinan pertama, ia menerima tawaran dan masuk ke dalam salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Dan kemungkinan kedua, mendirikan perhimpunan atau partai sendiri.

Di mata Wahid Hasyim, perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak memuaskan. Itulah yang menyebabkan ia agak ragu kalau harus masuk dan aktif di partai. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap perhimpunan. Menurut penilaian Wahid Hasyim, partai A kurang radikal, partai B kurang berpengaruh, partai C kurang memiliki kaum yang terpelajar, dan partai D pimpinannya dinilai tidak jujur.

“Di mata saya, ada seribu satu macam kekurangan yang ada pada setiap partai,” tegas Wahid Hasyim ketika berceramah di depan pemuda yang tergabung dalam organisasi Gerakan Pendidikan Politik Muslimin Indonesia.

Nahdlatul Ulama Tempat Belabuh

Selama empat tahun Wahid Hasyim menimbang-nimbang berbagai tawaran yang diterima. Sesudah itu, barulah pilihan dijatuhkan kepada organisasi Nahdlatul Ulama. Tepatnya tahun 1938 ia menyatakan menerima tawaran untuk aktif di NU. “NU saya pilih untuk mengembangkan sayap dan kecakapan,” ujarnya. Dalam buku Mengapa Memilih NU? , Wahid Hasyim menjelaskan alasan kenapa ia memilih NU sebagai tempat “berlabuh”.

Mula-mula ia menyadari bahwa tidak ada satu pun perhimpunan yang seratus persen memuaskan. “Ibarat Jodoh, yang sungguh-sungguh memuaskan kecantikannya, kecerdasannya, rumahnya, saudaranya, kemenakannya dan lain-lainnya lagi, pasti tidak terdapat di dunia ini,” ujarnya membuat tamsil. Karena itu, menurut Abdul Wahid Hasyim, harus dipilih perkumpulan yang paling ringan tingkat kekurangannya. Untuk ini ia menggunakan tolok ukur tersendiri, yaitu yang pertama ukuran keradikalan. Dari segi ini, Wahid Hasyim mengakui bahwa NU kurang memenuhi keinginannya.

“Nahdlatul Ulama merupakan perhimpunan dari orang-orang tua yang geraknya lambat, tidak terasa dan tidak revolusioner.” tuturnya. Tetapi, ada kenyataan lain yang membuat NU dimata Wahid Hasyim memiliki nilai lebih dibandingkan perhimpunan lain, bahkan dari perhimpunan kaum muda sekalipun. Beberapa perhimpunan pemuda Islam yang ada, selama lebih satu dasawarsa mengembangkan sayapnya, baru memiliki cabang di 20 tempat, dan itu pun tempatnya berdekatan. Sedangkan perkembangan NU di mata Wahid Hasyim demikian lain. Mesti ada sesuatu yang berbeda dengan NU. Hanya dalam tempo satu dasawarsa, NU telah berkembang mencapai 60% di berbagai daerah dan hampir merata di seluruh Indonesia.

Lalu Wahid Hasyim mempertanyakan sendiri tolok ukur yag pernah dipergunakan sebagai kriteria untuk menentukan pilihan. Apa artinya radikal revolusioner jika hasilnya hanya sebatas itu. Masak selama sepuluh tahun hanya memiliki puluhan cabang yag berada di satu-dua karesidenan saja. Radikalisme atau revolusioner memang menimbulkan kesan gagah. “Tapi yang penting dalam hal ini bukanlah kegagahan di dalam berjuang, melainkan hasil yang dicapai dalam perjuangan itu sendiri,” kata Wahid Hasyim.

Ada lagi ukuran lain yang dijadikan Wahid Hasyim untuk menentukan pilihan, yaitu banyaknya kaum terpelajar yang tergabung di dalamnya. Jika ukuran ini yang dipakai, jelas NU tidak masuk hitungan. Untuk mencari akademisi di dalam NU, Abdul Wahid Hasyim mentamsilkan dengan orang mencari penjual es pada jam satu malam. Tetapi kemudian Wahid Hasyim menanggalkan sendiri penggunaan ukuran “banyaknya kaum terpalajar ini”. Menurut Wahid Hasyim,  banyaknya kaum terpelajar bukan menjadi jaminan suatu perhimpunan akan maju.

“Bukan hanya otak yang menyebabkan majunya perhimpunan atau partai, melainkan juga mentalitas,” ujarnya seraya menujukkan sejumlah contoh. Banyak perhimpunan yang waktu itu dipenuhi kaum terpelajar, tetapi karena mentalitasnya tidak memadai maka perhimpunan itu tidak maju-maju. Waktu dan tenaganya habis untuk mengatasi pergolakan yang terjadi di dalam. Ia lalu menunjuk PKI sebagai salah satu contoh partai yang solid, padahal ia tidak memiliki banyak kaum terpelajar.

Wahid Hasyim juga berbeda pandangan dengan kebanyakan pemuda Islam lain kala itu dalam melihat NU. Selama ini kalangan pemuda Islam enggan memasuki organisasi NU karena dua alasan. Pertama, NU dinilai terlalu kuat menuntut anggotanya dalam urusan menjalankan kewajiban agama. Misalnya setiap anggota NU harus “ beres” dalam melaksanakan sembahyang, shalat jum’at, puasa atau ibadah lain. NU menerapkan ukuran yang berat kepada anggotanya dalam soal tersebut. Seandainya ada kehidupan pribadi anggota NU yang kurang sedap di mata kiai NU, yang bersangkutan akan mendapat peringatan yang keras. Karena hal ini menyebabkan orang luar sering memandang NU sebagai organisasi yang menakutkan.

Alasan kedua, adalah berkenaan dengan kedudukan ulama di dalam NU yang dinilai memonopoli perhimpunan. Sedangkan para ulama sendiri selalu menyandarkan pemikiran, perkataan dan perbuatannya kepada para ulama terdahulu melalui kitab-kitab karyanya. Menurut anggapan sebagian pemuda Islam waktu itu, kemerdekaan berpikir dan bergerak di dalam perhimpunan NU sudah tentu akan sangat terhambat oleh pandangan para ulama yang dipandang kolot seperti itu.

Menghadapi pandangan seperti itu, Wahid Hasyim semakin berketetapan hati untuk masuk NU. Menurut Wahid Hasyim, jika orang mau bersungguh-sungguh menyelidiki NU, akan ditemui kenyataan bahwa kedudukan ulama di dalam NU tidak lebih dari anggota biasa. Ulama tidak memonopoli perhimpunan. Kedudukan ulama di dalam tubuh NU digambarkan oleh Wahid Hasyim sebagai penjaga ajaran Islam dari kemungkinan dilanggar oleh anggotanya. Jika ajaran agama Islam dilanggar oleh penganutnya sendiri, siapa yang akan bersedia memelihara dan menjaganya, kalau  bukan ulama?

Wahid Hasyim juga tidak melihat bahwa kehadiran ulama NU sebagai “ penjaga” ajaran Islam menyebabkan ajaran Islam menjadi statis atau jumud. Para ulama dinilai bisa mengakselerasi dan menyesuaikan pemikiran keagamaan secara tepat terhadap perkembangan keadaan, sejauh hal itu tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Selama empat tahun Wahid Hasyim mengembangkan pemikiran kritisnya terhadap eksistensi berbagai perhimpunan atau partai yang ada, baik yang berdasarkan Islam maupun kebangsaan. Setelah itu, ia pun memilih NU, dengan keyakinan yang kuat bahwa NU bisa lebih member kemungkinan banyak bagi kebangkitan umat Islam di Indonesia.

“Faktor-faktor di dalam yang dulu saya anggap sebagai rintangan bagi kemajuan, malah sebaliknya, justru menjadi factor yang mempercepat kemajuan,” katanya berargumentasi.

Aktif Organisasi Dari Bawah

Keterlibatan Wahid Hasyim di NU dirasakan menambah kekuatan tersendiri bagi perkumpulan ini. Ia memulai keterlibatannya dari bawah sekali, yaitu dengan menjadi penulis NU Ranting Cukir, sebuah struktur organisasi di NU paling bawah. Tidak lama sesudah itu ia sudah dipercaya menjadi ketua NU Cabang Jombang. Kariernya di organisasi melaju cepat. Selang dua tahun, yaitu tahun 1940, HBNO mengesahkan Departemen Ma’arif (pendidikan) sebagai departemen yang pengurusnya berdiri sendiri dan memiliki anggaran rumah tangga sendiri. KH. Abdul Wahid ditunjuk sebagai penanggung jawab proses pembentukan Ma’arif yang berdiri sendiri itu. Sekaligus KH. Abdul Wahid Hasyim dipercayai untuk menjadi ketuanya. Inilah awal keterlibatan Abdul Wahid Hasyim dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama di tingkat pusat (PBNU).

Meskipun dikenal sebagai pemimpin nasional yag berpikiran maju, KH. Abdul Wahid Hasyim tetap memiliki sikap tawadlu’ kepada para ulama, lebih-lebih kepada ayahandanya, Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari. Hal itu, antara lain, bisa dilihat ketika melakukan percakapan sehari-hari dengan sang ayah. Kepada KH. Abdul Wahid Hasyim Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari biasa melakukan percakapan dengan bahasa arab yang fasih. Tetapi KH. Abdul Wahid Hasyim selalu menjawab dengan bahasa jawa halus  (kromo inggil). KH. Abdul Wahid Hasyim kurang lancar bercakap-cakap dengan bahasa Arab? Jelas bukan. Penggunaan bahasa Jawa halus saat bercakap-cakap dengan ayahnya dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim untuk memperlihatkan sikap tawadlu’ (rendah hati) kepada orang tuanya. Apalagi jika percakapan itu disaksikan oleh orang ketiga atau orang keempat. KH.Abdul Wahid Hasyim ingin menghindari jangan sampai ada orang yang tersinggung atau tidak paham dengan apa yang dibicarakan.

Hidupnya sederhana, ilmunya mendalam dan cara berpikirnya moderat. Karena itu menjadi mudah baginya untuk melakukan sesuatu dalam kondisi apa pun. Tidak menjadi soal baginya kalau suatu waktu harus mengenakan kain pantalon, atau jas berdasi tanpa mengenakan kopiah hitam, sementara dikesempatan yang lain ia mesti menggunakan kain sarung dan baju Takwa. Ketika berada di Jombang, untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari, KH.Wahid hasyim memiliki kendaraan pribadi mobil merk Chevrolet Cabriolet berwarna putih. Sedang di Jakarta ia biasa menyetir sendiri mobil fiatnya.

Abdul Wahid Hasyim bertubuh agak pendek, sedikit gemuk dengan kulit sawo matang dan berhidung mancung. Lehernya sedikit pendek dan dadanya bidang, dengan tahi lalat di dada, bahu kiri sebelah atas dan salah satu ujung jarinya. Pada usia 25 tahun, Abdul Wahid mempersunting gadis solihah, putri KH. Bisri Syansuri, yang waktu itu berusia 15 tahun. Pasangan ini dikaruniai enam putra, yaitu Abdurrahman Ad-Dakhil (Ketua umum PBNU), Aisyah (salah seorang wakil ketua PP Muslimat NU), Salahuddin Al-Ayyubi (insinyur lulusan ITB), Umar (dokter lulusan UI), Chadijah dan Hasyim.

Salah satu kebiasaan yang melekat pada diri KH. Abdul Wahid Hasyim adalah kegemaran berkirim surat kepada kawan-kawannya. Berkirim surat menjadi salah satu media silaturrahmi yang dipilih di kala yang bersangkutan tidak banyak punya kesempatan untuk bersilaturahmi secara langsung. Surat-surat itu umumnya berisi pandangan politik, arah perjuangan dan cita-citanya. Segalanya ditulis dengan bahasa yang menarik, lancar dan tak lupa dibumbui humor yang segar. Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar atau bahkan bila mungkin lebih tinggi dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia mudanya. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, ia berkiprah langsung membina pondok pesantren asuhan ayahandanya.

Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji cobanya dinilai berhasil. Karena itu, pada tahun 1935, model pendidikan yang diujicobakan itu diterapkan secara besar-besaran, dengan mendirikan madrasah modern bernama madrasah Nizamiyah. Di madrasah ini diajarkan materi pelajaran yang sebelumnya tidak pernah ada di pesantren. Ia membuka fan-fan pengetahuan umum yang kala itu masing merupakan barang asing di dunia pesantren. Karena itu ia dikenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren.

“Biarlah. Saya tidur di mushala ini saja,” kata KH. Abdul Wahid Hasyim, ketika melihat bahwa di atas kamar mandi ada mushala. Waktu itu kebetulan ia berkunjung ke rumah sahabatnya, KH. Saifuddin Zuhri di Sokaraja, Banyumas.

“Kami telah menyiapkan kamar buat Gus Wahid,” kata tuan rumah Saifuddin Zuhri.

“Tak apa. Mushala yang berbentuk panggung seperti ini mempunyai sirkulasi udara yang baik. Biasanya tidak banyak nyamuk. Kalau toh ada nyamuknya ya biar saja. Anggap saja kita bersedekah sedikit dengan darah kita kepada nyamuk-nyamuk itu,” jawabnya.

Ia memang terkenal memiliki citra rasa humor yang tinggi. Kepada siapa saja ia biasa melemparkan joke-joke segar, untuk mencairkan suasana sehingga komunikasi bisa berjalan lancar dan akrab. Kepada sopirnya hal yang sama juga berlaku.

“Wah ini ikan gurami, Rasyid!” serunya kepada sopirnya, Rasyid. “ Ente tahu, orang suka makan gurame otaknya akan bertambah cerdas. Percaya apa tidak?” ujar KH. Wahid Hasyim.

“Saya percaya. Tentu saja menjadi cerdas, karena orang selalu berpikir, bagaimana mendapatkan uang agar bisa makan ikan gurami setiap hari…” jawab Rasyid setengah berseloroh. Serentak meledaklah tawa mereka. Mereka setuju, karena ikan gurame dikenal lezat.

Sewaktu terjadi perombakan kabinet dan nama Wahid Hasyim tidak tercantum lagi dalam daftar nama-nama anggota kabinet baru, beberapa orang tampak kecewa. Padahal yang bersangkutan cuek saja. Ketika mereka bertemu dengan KH. Wahid Hasyim, kekecewaan itu langsung ditumpahkan kepadanya.

“Kami merasa kecewa karena Gus Wahid tidak duduk lagi di kabinet,” kata H. Azhari.

“Tak usah kecewa. Saya toh masih bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang. Tinggal pilih saja,” jawab KH. Wahid Hasyim sekenanya sehingga mengundang tawa yang hadir.

“Tapi kami tetap menyesal karena pimpinan kita tidak dipakai oleh pemerintah…” ujar H. Ichwan.

“Kalau tidak dipakai oleh negara, biarlah saya pakai sendiri…” sekali lagi KH. Wahid Hasyim menjawab dengan santai dan penuh humor. Suara tawa kembali meledak.

“Kenapa ya, menjadi menteri kok cuma sebentar?” tanya H. Azhari masih penasaran.

“Lho, kalau kita mengantarkan jenazah ke kuburan, pembaca talqin itu kan selalu mengingatkan kita: wamal hayatud dunya illa mata’ul ghurur… Memangnya orang menjadi menteri untuk selamanya,” jawab KH. Abdul Wahid Hasyim. Kali ini dengan nada sedikit serius, menggunakan i’tibar yang pas.

Pada tahun 1939 NU masuk menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam. Setelah masuknya NU ke dalam federasi ini, dilakukan reorganisasi dan saat itulah KH. Abdul Wahid Hasyim, wakil NU, terpilih menjadi ketua MIAI.

KH Wahid Hasyim Merintis Hizbullah

Selaku pimpinan Masyumi, Wahid Hasyim merintis pembentukan Hizbullah sebagai sayap “militer” yang membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan. Rencana pembentukan Hizbullah semula hampir urung. Banyak pihak yang mencurigai kehadirannya dalam membantu Perang Asia Timur Raya. Tapi KH. Wahid Hasyim, atas nama pimpinan Masyumi waktu itu, terus gigih memperjuangkan pembentukan Hizbullah hingga akhirnya berhasil.

Ketika jepang masuk, KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia. Selain mengadakan gerakan politik di kalangan umat Islam, melalui majelis ini Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Tahun 1944 ia mendirikan sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhannya ditangani oleh KH. A. Kahar Muzakkir.

Perhatian kepada dunia pendidikan sangat besar. Sewaktu menjadi Menteri Agama, pada tahun 1950 Wahid Hasyim mengeluarkan peraturan pelaksanaan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN itu.

Dalam sebuah kesempatan pidato  di depan majelis pengajian NU di Banyumas, KH. Abdul Wahid menceritakan ihwal keluarnya KH. Hasyim Asy’ari dari tahanan Jepang. Menurut Wahid Hasyim , banyak orang dengki dan tukang fitnah berusaha menyusahkan NU dan menyengsarakan Hadratusy Syekh. Karena Allah menghendaki lain, maka sia-sialah usaha mereka. Malahan kini, sekeluarnya Hadratus Syekh dari tahanan, beliau diberi kompensasi oleh Pemerintah Jepang untuk menjabat Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Ini merupakan politik kompensasinya Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam.

Mendapat tawaran itu, KH. Hasyim Asy’ari menerima dengan catatan. Mengingat usia yang sudah uzur dan ia harus mengasuh pesantren, sehingga tidak mungkin kalu harus bolak-balik Jakarta–Jombang. Karena kondisi ini, ia mengusulkan agar tugas sebagai Shumubucho diserahkan kepada Abdul Wahid Hasyim, putranya.

Taktik ini sengaja dilakukan KH. Hasyim Asy’ari untuk menghindari jangan sampai Nippon tersinggung atau menjadi curigga terhadap KH. Hasyim Asy’ari. Memang serba sulit posisi waktu itu. Jika tawaran ini diterima kemungkinan akan menimbulkan fitnah, di samping kenyataannya usianya sudah uzur. Jika ditolak jelas akan mendatangkan kecurigaan di pihak Nippon.

Keputusan yang diambil KH. Hasyim Asy’ari ternyata merupakan sebuah sikap yang sangat brilian dan memiliki implikasi jauh sekali. Dengan keputusan itu keinginan Jepang terpenuhi sehingga tidak menimbulkan kecurigaan politis. Selain itu, rupanya secara tidak langsung KH. Hasyim Asy’ari juga sedang melakukan kaderisasi kepemimpinan pada level nasional kepada Abdul Wahid Hasyim. Melalui proses inilah mulai terlihat kelas kepemimpinan  Abdul Wahid Hasyim yang sesungguhnya.

Menurut KH. Abdul Wahid Hasyim, sebenarnya dengan keputusan seperti itu ayahnya ingin memberi contoh keteladanan kepada generasi muda bahwa pengertian bijaksana bukanlah menjatuhkan pilihan terhadap suatu yang benar dan yang salah, atau terhadap sesuatu yang baik dan yang buruk. Bijaksana adalah kemampuan seseorang menjatuhkan pilihan antara dua perkara yang sama-sama salah atau sama-sama buruk, tetapi kondisi mengharuskan untuk memilih salah satunya.

Dalam kesempatan itu ia menjelaskan panjang lebar mengenai kisah penahanan Hadratus Syekh dan politik kompensasi yang dijalankan Jepang. Insya Allah dalam waktu yang tidak lama lagi banyak kiai yang akan menduduki kepala Jawatan Agama di daerah-daerah.

“Mudah-mudahan Jawatan Agama itu tidak menjurus menjadi Jowo tan agom0, Jawa tanpa agama,” ujar KH. Wahid Hasyim berseloroh.

Tokoh Termuda Perumus Piagam Jakarta

Karier Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usia yang masih muda, beberapa jabatan penting ia sandang, baik di kepengurusan NU maupun di Masyumi. Bahkan ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal BPUKI, Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro, dari 62 orang yang ada. Waktu itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun. Sebagai tokoh muda ia juga diangkat menjadi penasehat Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ia juga merupakan tokoh termuda dari Sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Djakarta, sebuah piagam yang melahirkan Proklamasi dan Konstitusi negara.

Di dalam kabinet pertama, dibentuk Presiden Sukarno pada September 1945, Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Abdul Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP pada tahun 1946.

Setelah terjadi penyerahan kedaulatan dan berdirinya RIS, dalam kabinet Hatta tahun 1950 ia di angkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yaitu Kabinet Hatta, Natsir dan Kabinet Sukiman.

Pada tanggal 1 Mei 1952, dalam muktamarnya di Palembang NU memutuskan keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik sendiri. Sesudah keluarnya NU dari Masyumi, KH. Wahid Hasyim menulis sepucuk surat kepada PB Masyumiyang menyatakan alasan betapa pentingnya Masyumi mengubah struktur organisasi menjadi sebuah badan federasi. Dengan struktur yang demikian maka semua organisasi yang berdasarkan Islam dapat menjadi anggotanya dan dengan demikian dapat dipersatukan kembali potensi umat Islam dalam melakukan perjuangan. Seruan itu ternyata tidak ditanggapi pihak Masyumi. Kemudian Wahid Hasyim menyampaikan gagasan pembentukan badan federasi itu kepada Partai Serikat Islam Indonesia dan partai Perti (Pergerakan Tarbiyah Islami) dan ternyata disambut positif.

Dalam rapat badan persiapan, disetujui federasi itu dinamakan Liga Muslimin Indonesia. Peresmiannya dilakukan di serambi Gedung Parlemen Pejabon (kini Gedung Deplu) pada tanggal 30 Agustus 1952, bertepatan dengan hari wukuf di Arafah pada musim haji tahun itu. Menurut aggaran dasarnya, federasi ini dibentuk untuk mewujudkan masyarakat Islamiyah yang sesuai dengan hukum Allah dan sunnah Rasulullah. Untuk mewujudkan tujuan itu , federasi ini berusaha mengatur rencana bersama mengenai langkah-langkah besar bagi kepentingan umat Islam di Indonesia dalam segala lapangan kehidupan.

Selama menjadi Menteri Agama, KH. Abdul Wahid Hasyim melihat tanda-tanda munculnya sikap manja di kalangan umat Islam, suatu sikap yang sangat tidak disukai olehnya. Umat Islam seringkali terlalu mengandalkan support dari pejabat yang beragama Islam, terutama kepada Menteri Agama. Sikap ini lambat laun dinilai oleh Wahid Hasyim melahirkan menurunnya semangat berusaha dan kurangnya rasa percaya diri. Merasa punya menteri yang bisa dimintai bantuan apa pun,terutama bantuan materi, dalam banyak hal umat Islam menjadi menjadi manja. Memang ini dirasakan cukup dilematis. Jika kebutuhan umat Islam tidak dipenuhi, akan menimbulkan perasaan tidak tenang dari kalangan Islam. Apalagi secara objektif kondisinya memang perlu dibantu. Tetapi bila setiap kebutuhan terus menerus dipenuhi, dikhawatirkan menimbulkan sikap manja dan melemahnya semangat kemandirian.

Pada suatu waktu, KH. Wahid Hasyim mengeluhkan kondisi yang dirasakan itu kepada KH. Saifuddin Zuhri. “Apa saya tidak salah memberikan bantuan keuangan kepada umat ini?” ujar Wahid Hasyim dengan nada bertanya. Kenapa?

“Sejak dulu umat Islam tidak pernah mendapat bantuan material atau moral dari pemerintah Hindia Belanda. Umat memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang demikian besar. Dengan kemampuan sendiri dan semangat gotong royong, mereka mendirikan masjid, madrasah, pesantren dan bangunan untuk kepentingan agama lainnya. Tapi kini, setelah merasakan bantuan dari Departemen Agama, mereka menjadi manja,” katanya.

“Kan sudah selayaknya Departemen Agama membantu umat Islam, umat yang serba terbelakang,” kata KH. Saifuddin Zuhri menimpali.

“ Membantu memang harus, tetapi kalu menyebabkan manja?” tuturnya setengah uring-uringan.

Tak mau kalah, Saifuddin Zuhri balik bertanya, “Lha, yang selama ini membantu siapa? Kan sampeyan sendiri menteri agama pertama yang melakukan kebijaksanaan memberi bantuan…”

“Thayyib, benar, memang saya akui. Sebab itu tadi saya menanyakan kepada ente, apa saya tidak salah memberi bantuan keuangan kepada umat Islam. Pertanyaan saya itu seperti zelfcorrectie, kritik diri,” ujarnya.

Musibah di Cimindi

Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu, hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, Abdul Wahid Hasyim ditemani seorang sopir dari harian pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslimin, dan putra sulungnya, Abdurrahman Ad-Dakhil. Abdul Wahid Hasyim duduk di jol belakang bersama Argo Sutjipto.

Baca Juga: KH Chasbulloh Badawi, Romo Chas Cilacap

Daerah di sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar jam 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi Abdul Wahid Hasyim slip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet naas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan, sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan kerasnya. Ketika terjadi benturan itu Abdul Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar kebawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening dan mata serta pipi dan bagian lehernya. Sedangkan sopir dan Abdurrahman tidak cedera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.

Lokasi terjadinya kecelakaan ini memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datangnya sangat terlambat. Baru pada pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke rumah Sakit Boromeus di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke Hadirat Allah Swt dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.

Musibah ini tentu aja sangat mengejutkan masyarakat. Jenazahnya diangkut ambulance ke Jakarta dan setelah disemayamkan sejenak, lalu diterbangkan ke Surabaya. Selajutnya dibawa ke Jombang untuk dimakamkan di Pesantren Tebuireng. Banyak yang menyesalkan  kenapa kiai berusia muda dan merupakan tokoh nasional itu begitu cepat dipanggil menghadap Sang Khalik. Tetapi, itulah kehendak Tuhan.

Baca Juga: Jejak Perjuangan dan Spiritualitas Pangeran Diponegoro

Jika pada umumnya kematangan prestasi dan karier seseorang baru dimulai pada usia 40, KH. Wahid Hasyim justru telah merengkuhnya pada usia di bawah itu. Orang menilai kematian itu teramat cepat datangnya, secepat Wahid Hasyim meraih prestasi. Karena itu, melihat kepemimpinan dan prestasi yang diraih Wahid Hasyim dalam usia mudanya, sering muncul pengandaian dari masyarakat, “…seandainya KH. Wahid Hasyim dikaruniai usia yang lebih panjang, tidak mustahil…”


Ilustrasi: wikipedia