KH. M. Anwar Manshur; Kiyai yang Bahagia Melihat yang Lain Bahagia—Bagian 2 (Habis)

0
36
Perjalanan KH. M. Anwar Manshur

Sebelumnya: KH. M. Anwar Manshur; Kiyai yang Bahagia Melihat yang Lain Bahagia—Bagian 1

Pesayangan, Kebumen

Dari Berjan, kami kemudian menuju gubuk orang tua kami di dusun Pesayangan kab. Kebumen. “Disayang terus,” dawuh beliau sambil nggujeng (tersenyum) mengomentari nama Pesayangan. “Amin,” gumam hati ini berharap dawuh beliau menjadi sabda dan doa agar selalu disayang Gusti Allah, Kanjeng Nabi saw. dan para kekasihnya.

Di rumah kami, orangtua penulis mengenalkan kepada Buya seorang pengusaha jagal sapi bernama H. Syamsyuddin. Ia sudah lama sangat ingin sowan Buya di Lirboyo. Namun ia terkendala protokol PPKM yang sampai saat ini belum juga diketahui kapan akan berakhir. Aneh bin ajaib, Buya malah dawuh, “Aku wae seng nang omahe sampean (saya saja yang ke rumah sampean).” Padahal waktu sudah siang hari. Lagipula, masih ada jadwal kunjungan di pondok pesantren Al-Huda, asuhan KH. Wahib Mahfudz. Juga ke kediaman bunyai Munir, sepupu Buya dari Bani Anwar Paculgowang, Jombang.

Biasanya, orang yg dikersakne (diinginkan) Buya secara langsung untuk dikunjungi adalah kerabat, sahabat, alumni, atau orang yang tulus dalam mencintai walaupun bukan alumni. Dan ternyata H. Syamsyuddin adalah orang beruntung. Ia merasa mendapatkan keberkahan setelah mengamalkan salawat Jibril, yang kebetulan sering diijazahkan Buya dan tersebar luas di media sosial. Ia begitu mendambakan pertemuan langsung dengan Buya. 

Peristiwa ini seperti mengulang apa yang didawuhkan para ulama dahulu,

الأرواح جنود مجندة

“Ruh-ruh itu berkelompok bersama dengan orang-orang yang dicintai.”

Jetis, Kebumen

Kemudian, kami melanjutkan silaturahim di ndalem KH. Wahib Mahfudz. Beliau adalah besan dari KH. Ma’ruf Zainuddin dan Nyai Aina Anwar, pengasuh pondok pesantren Ar-Risalah (Putri dari KH. M. Anwar Manshur, -red).

Saat perjalanan, Buya beberapa kali membicarakan bunyai Munir, sepupu Buya yang tinggal di Pejagoan, Kebumen. Beliau dawuh, “Dulur nyempil diparani ben bungah (saudara yang tinggal di tempat yang jauh/sendirian harus dikunjungi agar bahagia).”

Ah… Pelajaran yg sangat indah, agar gemar menyambung seduluran dengan rajin mengunjungi saudara tanpa harus menunggu dikunjungi. Apalagi, bunyai Munir sudah tidak memungkinkan untuk bepergian karena sakit. Buya dawuh, “Wonge gak iso lungo-lungo, awake dewe wae seng nekani (beliau sudah tidak bisa ke mana-mana, maka kita yang harus mengunjungi).”

Karena sudah sore, akhirnya kediaman Bunyai Munir adalah tempat terakhir kunjungan Buya di hari itu. Kami kemudian kembali ke Maron untuk istirahat.

Kedungsari, Purworejo

Jumat, sekitar pukul 8 pagi, kami berangkat silaturahim ke dalem KH. Thoifur Mawardi di Kedungsari, Purworejo. Alhamdulillah, mata ini dianugerahi memandang keindahan adab beliau berdua. Saat keduanya bertemu, mbahyai Thoifur langsung mencium tangan Buya. Buya kemudian merangkul beliau. Setelah dahar (makan), Buya dawuh kepada Mbah Thoifur, “Monggo njenengan dungo (Mohon Anda berdoa)”. “Njenengan Yai (Oh tidak, Anda saja yai),” jawab Mbah Thoifur. “Mboten. Kulo mriki pengin njenengan dungaaken (Tidak. Saya ke sini ingin didoakan Anda),” sahut Buya. Dan akhirnya Mbah Thoifur berdoa. Di antara doanya adalah memohon agar dukhulul jannah bighairi hisab (masuk surga tanpa melewati perhitungan amal). Kami pun larut dalam mengamini doa.

Seperti tidak mau kalah dalam penghormatan, Mbah Thoifur dengan penuh cinta serta ketawaduan mengiringikondure (pulangnya) Buya hingga di depan mobil. Dan sekali lagi Mbah Yai Thoifur mencium tangan Buya melalui jendela mobil.

Wes… Pokoknya indah sekali pelajaran haliah dari beliau berdua dalam pertemuan itu. Walau tidak banyak dawuh yang diucapkan, tetapi nampak jelas dari haliah beliau berdua ketulusan adab, saling memghormati tanpa tashannu’ (dibuat-buat agar terlihat beradab). Sekedar informasi, beberapa bulan yang lalu Mbah Thoifur silaturahim ke ndalem Buya di Lirboyo.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada telepon dari Kang Masngudi. Dia adalah khadim (pelayan) senior Mbah Thoifur. Ia menelepon bahwa surban Buya tertinggal. Ia memohon rida surban tersebut untuk dimilikinya.

Setelah kami sampaikan bahwa Buya mempersilahkan surban tersebut untuk dimiliki, kang Masngudi berteriak bahagia hingga terdengar suaranya melalui telepon. Buya nggujeng (tersenyum bahagia) setelah tahu itu adalah suara teriakan bahagia kang Masngudi. Mungkin memang sudah menjadi karakter para pewaris Nabi saw. yang akan bahagia jika berhasil membahagiakan orang lain.

Temanggung

Dari Kedungsari, kami kemudian langsung ke Temanggung, di ndalem saudaranya Bunyai (Ibunyai Mahfudzotin, istri KH. M. Anwar Manshur) dan tiga tempat lainnya yang di luar jadwal. Biasanya, asalkan sehat dan masih ada waktu, Buya akan kersa (mau) mengunjungi orang-orang yang tulus menginginkan rumahnya dikunjungi. Kekompakan serta ketulusan Himasal Wonosobo dalam khidmah mengawal perjalanan Buya dari awal hingga akhir tentu tidak bisa dilupakan. Jazahumullah khairal jaza’. 

Penulis: KH. Ali Khidlir. Pengasuh Pondok Pesantren An-Najah, Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

Sumber: status facebook Ahmad Ali Khidlir RA