Di antara keistimewaan KH Cholil Nawawie -dan ini yang paling menonjol-beliau sangat istikamah dalam Hal belajar dan mengajar. Pergi kemanapun Kiai Cholil tidak pernah lepas kitab. Ta’lim watta’allum seakan sudah menyatu dengan darah dan denyut nadi beliau. Kebiasaan itu sudah menjadi watak KH Cholil Nawawie sejak kecil Perihal ketekunan dalam mengajar, sangat dirasakan oleh santrinya. Hampir tidak ada kamus libur bagi pengajian Kiai Cholil. Dari jarangnya libur, hingga ada satu sya’ir yang digubah sendiri oleh santri:

علامة العطلة في معهدنا لم يخضر الشيخ الي مسجيدنا
“Tanda libur (pengajian) di pondok kita * Adalah tidak hadirnya
Kiai di masjid kita (untuk berjamaah)”.

Syair ini dibuat oleh santri, sebab Kiai Cholil hampir tidak pernah meninggalkan salat berjamaah di masjid. Hingga kemudian, tidak hadirnya Kiai untuk mengimami salat dijadikan tanda bahwa pengajian di Surau libur. KH Cholil Nawawie sangat menaruh perhatian terhadap pengembangan kualitas keilmuan santri, khususnya yang senior. Secara bergilir santri-santri senior dipanggil untuk membaca kitab di hadapan Kiai. Mau tidak mau, mereka akan tertuntut keras untuk selalu persiapan karena khawatir dipanggil secara mendadak. Ketekunan KH Cholil Nawawie dalam hal muru’ memang luar biasa. Sang adik, Kiai Hasani, sangat respek dan angkat topi pada kakaknya itu. Kiai Hasani sampat mengutarakan langsung kekagumannya. Dengan tawaduk Kiai Cholil menganggap ketekunan itu satu hal yang wajar dan tidak perlu dikagumi.

“Mbuh Ni, aku seneng muthala’ah, arek-arek seneng ngrungo’no
(Tidak tahu ‘Ni [Kiai Hasani], saya senang muthala’ah, anakanak senang mendengarkan)” kata Kiai Cholil. Nyai Murti, istri kedua Kiai, juga menuturkan, setiap Kiai datang menggilir, beliau tidak pernah lepas dari kitab. Malah menjelang tidurpun beliau masih terus membaca kitab hingga akhirnya tertidur. Ust. Abd. Rohman Syakur bercerita, dirinya sering diajak KH Cholil Nawawie untuk menghadiri undangan, biasanya naik dokar. Di sela-sela perjalanan itu Kiai Cholil menyempatkan mengajari pelajaran fara’idh. Sampai sekarang pelajaran yang diberikan KH Cholil Nawawie terus teringat dan banyak bermanfaat. Kiai Aqib Yasin, Pasuruan, (ayah Mas Taufik), pernah menuturkan, dalam segi ibadah dlahir, KH Cholil Nawawie bisa dibilang ‘biasa’. Namun dalam hal ta’lim wa ta’allum KH Cholil Nawawie luar biasa. Tidak berlebihan jika Kiai Aqib betul-betul respek dan kagum. Beliau berkata, “Tirakat KH Cholil Nawawie itu ta’lim wa ta’allum.” Soal ketekunannya ini, KH Cholil Nawawie pernah menukil dawuh ayahandanya, Kiai Nawawie;

لازم المطالعة والجماعة تنال العلوم النافعة

“Tekunlah belajar dan salat berjamaah, niscaya kau peroleh ilmu yang manfaat”.

Dawuh Kiai Nawawie ini sangat membekas dan menjadi prinsip hidup Kiai Cholil. Tidak ada kamus berleha-leha, melepaskan waktu tersia-sia tanpa belajar. Jelas, motto KH Cholil Nawawie adalah “Tidak ada waktu tanpa belajar”.

Semoga kita diakui sebagai santrinya, sehingga kelak kita bisa dikumpulakn bersamanya. Amiin Ya Robbal’alamin

~Sumber Buku; Jejak Langkah Masyaikh Sidogiri 1 Sidogiri Penerbit