KH Azizi: Sosok Faqih Inspiratif Nusantara

0
60
kh azizi

Oleh: Ahmad Muntaha

Kiai Azizi atau yang bernama lengkap KH Azizi Hasbulloh Pengasuh Pondok Pesantren Barran Selopuro Blitar Jawa Timur, bagi penulis merupakan sosok Faqih atau ahli fikih Nusantara yang inspiratif.

Tabahhur atau kedalaman penguasanya atas ilmu-ilmu syariat: fiqh, ushul fiqh, akidah, tasawuf dan lainnya mendapatkan apresiasi luas dari Kiai-kiai lain, bahkan di kalangan para masyayikh di Pondok Pesantren Lirboyo.

Sejak mengenal dan mengaji kitab Tausyih ‘ala Ibnul Qasim karya Syekh Muhammad Nawawi Banten kepadanya pada tahun 2001 di Rumah Tua Lirboyo, hingga bermu’amalah dengannya secara langsung hingga sekarang, 20 tahunan, tak hentinya Penulis mendapat inspirasi dan keteladanan untuk secara terus-menerus mengaji, mengkaji, dan meng-upgrade study keilmuan Islam.

Terbuka, tegas dan lugas berdiskusi adu argumentasi dalam forum-forum bahtsul masail pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU), seperti di Lirboyo, Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Se-Jawa Madura, Bahtsul Masail Syuriyah PWNU Jawa Timur, dan forum-forum bahtsul masail PBNU, membuat orang-orang yang terlibat tak dapat melupakan sosoknya, yang sangat kuat secara referensi dan kokoh dalam idrak atau analisis kasus-kasus kontemporer (waqi’ah haditsah).

Sebagaimana Penulis simak secara langsung saat satu majelis seminar dan bedah buku seperti di Oku Timur Sumatera Selatan, Sampang dan Pamekasan Madura, dan yang terakhir di Mlangi Yogyakarta, kepiawaian santri kinasih KH Ahmad Idris Marzuki Lirboyo dalam menyajikan materi-materi berat dengan bahasa dan gaya bebas, juga membuat para audien enggan beranjak dari majelis meski sudah menghabiskan waktu berjam-jam. Apalagi bila forum sudah memasuki acara tanya jawab yang semakin mengeksplor keluasan ilmunya.

Sosoknya yang low profil dan egaliter membuat Penulis secara pribadi tidak sungkan-sungkan untuk istifadah, matur-matur dan bila perlu mengujikan ide-ide penulis kepadanya. Mulai beberapa bagian isu tentang rumusan Islam Nusantara PWNU Jawa Timur, Fikih Kebangsaan karya Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL), dan yang terbaru rumusan Relasi Sosial Muslim dan Non Muslim Perspektif Nahdlatul Ulama, atau موقف نهضة العلماء في العلاقة الاجتماعية بين المسلمين وغيرهم.

Sebagai Musahhih dan Perumus bahtsul masail, Kiai Azizi merupakan sosok sangat independen dalam pendapatnya sebagaimana tercermin dalam dawuhnya di sela-sela diskusi online tentang hal ihwal zakat fitrah hari-hari ini:

لا تخافوا لومة لائمين. إن قولكم ورأيكم لا يبال عليه. ومن بعدكم يتبحثون من غير نظر إلى علمكم بل إلى رأيكم وقولكم.

“Jangan takut dengan celaan (disalahkan) oleh para pencela. Sungguh ucapan dan pendapat kalian (sebenarnya) tak dipedulikan. Orang-orang setelah (generasi) kalian pun membahasnya tanpa melihat keilmuan kalian, namun hanya melihat ucapan dan pendapat kalian.”

Pun demikian, Tim Ahli Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU juga tidak anti terhadap perbedaan, bahkan mengapresiasinya sebagai wujud kerahmatan Tuhan, sebagaimana dawuhnya bahtsul masail bersama Kiai-kiai NU:

والمسالة الفقهية لا تخلو من اختلاف الرأء لان مبناها الظن. والذي يظن الرجل قد لا يظن الآخر. والحكم تابع لظن المجتهد. فما ظنه حكما فهو حكم عند الله … ولو فرض خطاء من غير قصد، فله أجر واحد. فعليكم بعمل ظنكم ولا تقتض غيركم أن يعمل بظنكم. واختلاف أمة محمد رحمة لا تبدلها عذابا. والله اعلم.

“Permasalahan fikih tak terlepas dari perbedaan pendapat, sebab dasarnya adalah dugaan kuat para ulama. Pendapat yang diduga (sebagai suatu hukum yang benar) menurut seorang ulama terkadang tidak diduga seperti itu oleh ulama yang lain, dan hukum fikih itu mengikuti dugaan ulama yang berijtihad. Apa yang diduganya sebagai suatu hukum maka hal itu merupakan hukum di sisi Allah … Andaikan diumpamakan ada kesalahan tanpa kesengajaan dari seorang ulama yang berijtihad, maka ia tetap mendapatkan satu pahala. Karenanya, pedomanilah pendapat kalian namun jangan kalian paksakan orang lain untuk mengamalkannya. Perbedaan (ulama dari) umat Muhammad Saw adalah Rahmat dari Tuhan, jangan anda ganti dengan menjadi azab. Wallahu a’lam.”

Tidak hanya menginspirasi Penulis saja tentunya. Di luar sana ribuan santri pun terinspirasi oleh totalitasnya dalam mengabdikan dan mewakafkan diri untuk melayani keilmuan-keilmuan Islam.

“Hidupku itu untuk khidmah dan melayani ilmu”, tandasnya dalam satu kesempatan.

Sungkem jauh KH Azizi. Semoga berkesempatan untuk istifadah, matur-matur, ndereaken dan bersua dengan jenengan dalam forum resmi maupun perjumpaan informal lainnya. Para santri, bahtsul masail NU, kaum muslimin dan bangsa ini masih sangat membutuhkan rumusan-rumusan fikih jenengan yang kontekstual dan berkesesuaian dengan zaman.

Demikian kesan terhadap sosok Faqih yang independen dan inspiratif ini sejauh relasi dan interaksi Penulis dengannya di berbagai kesempatan.

Nah bila demikian, bagaimana dengan kesan kalian semua, Kawan?


Gambar: Credit to Photographer – Google